Aku Penulis Bukan, Ya?

May 1st, 2008 by ayu-shalihat

Gara-gara tanggapan Mbak Desi di comment-ku di blognya, aku jadi memikirkan pertanyaan itu.

"Ayu penulis bukan?"
Aduh, iya bukan ya?

Mau bilang iya, kok ga ada buktinya. Udah nulis apa, Yu?
Sejak
SMP udah gabung FLP tp ga pernah aktif, soalnya jauh dari anggota lain
yang rata2 anak kuliahan. Baru pas kuliah gabung FLP Jogja angkatan 3.
Sekarang FLP Jogja sudah berapa angkatan ya? sembilan? sepuluh? lupa

Pas SMP nulis di majalah dinding sekolah

Pas
SMA nulis buat ikut lomba di mana-mana, Lumayan hadiahnya banyak,
hehehe. Paling merasa keren waktu karya lombanya dibukukan di Antologi
Unicef "Mom, I Love You" (soalnya karyanya yg jadi buku baru itu ajah)

Pas
kuliah sesekali nulis cerpen dikirim ke Annida, beberapa dimuat
beberapa enggak. Ikut lomba macem2, kadang menang kadang kalah. Nngirim
kumcer ke penerbit ditolak, tapi sampe sekarang belum diedit lagi buat
dikirim ulang. Karena beberapa kali masuk Annida dan mungkin pengaruh
sedikit persekongkolan dengan panitia roadshow FLP Jogja (memanfaatkan
kekuasaan sebagai SC dan SS), jadinya sempet dapet FLP award buat
kategori fiksi media massa (kategorinya aja dirumuskan di rapat SS,
hehehe). Baru kemudian mikir, beneran ga ya pantes dapet penghargaan
itu?

Dulu alasan ga rajin nulis karena sibuk rapat FLP dan
ngurusin anggota, jadinya enggak sempet nulis (alasan macam apa itu
ya?). Selalu kena tegur koordinator klub dan disindir-sindir terus sama
Mbak Desi. Efek yang kuhasilkan setelah gabung di FLP adalah jadi suka
promosi FLP ke orang-orang di sekitarku, juga jadi belajar banyak hal
tapi bukan karyanya yang jadi banyak (duh, malu…)

Padahal
banyak penulis lain yang berangkat nulisnya mungkin barengan sama aku
sudah menghasilkan begitu banyak karya. Sedang aku? kemana aja ya?

Lalu
Alhamdulillah, di fuyuyasumi baru berhasil menyelesaikan novel DS yang
sekian lama ga jadi-jadi itu, dan sekarang baru nyoba nulis novel lagi.
Semoga setelah ini bisa terus produktif.

Terus karena di
Jepang sering connect internet, jadi sering nulis blog. baru sadar,
blog-ku ga ada isinya, cuma curhat-curhatan aja yang enggak tahu aku
harus bercerita ke siapa, dan kalaupun ada aku memang ga pinter suruh
cerita pake lisan kalau enggak ke orang yang sudah deket. Tapi manfaat
minimalnya dengan nulis blog jadi sempet mengikat kenangan selama di
Jepang. Biar suatu hari nanti bisa dikenang, oh, dulu aku pas di Jepang
begini ya?

Lalu? udah, itu aja.

Dari semua itu, apa aku pantas buat disebut penulis? disebut pecinta FLP?
Sejatinya
jadi penulis, apalagi yang ngaku cinta FLP (eh, cinta ga ya? -ini juga
harus dipertanyakan ding) harusnya paham dengan niat menulisnya sebagai
sarana dakwah bil Qalam. Menyebarkan kebaikan lewat tulisan. Tetep
semangat nulis karena inget ini buat sarana nyebar kebaikan, buat
mengisi punda-pundi amal yang akan jadi bekal di akhirat, buat
melakukan perbaikan-perbaikan kecil dengan cara sederhana. Seharusnya
begitu ya.., hingga nanti kalau mati, punya amal jariah yang
ditinggalkan, pahalanya terus mengalir kalau karyanya memberi kebaikan
buat orang yang membacanya.

Harusnya untuk itu kita semangat?
Sabar menghadapi kebosanan dan kejenuhan, sabar untuk terus
meningkatkan kapabilitasnya sebagai penulis profesional. Ibarat dai
yang tampil, penulis yang niat dakwah juga penampilan karyanya harus
profesional ya…. Sedangkan aku?

Hanya renungan pendek untuk
memperbarui niat untuk terus berdakwah lewat tulisan. Jadi mikir, aku
nulis panjang-panjang di blog ini kira2 ada manfaatnya ga ya buat yang
baca? Kore kara deh, insyaAllah.

Sudah ah, mau kembali
melanjutkan perjuangan. Belum nambah dari yang tadi malem. Ini sengaja
ke perpus biar bisa ngamatin orang-orang Jepang buat ditulis dan
dideskripsikan dalam tulisan. Tapi dari tadi belum mulai mengamat-amati
dan belum membuka filenya.
Lah, dari tadi ngapain aja?
Hehehe. Nulis juga kok.., yang lain.. semoga juga ada manfaatnya.

Perpus TUFS, 01`05`08
Hampir tiga bulan setelah ngirim naskah DS
Menunggu kabar…

Ribuan Orang Jerman Masuk Islam. Jepang kapan, ya?

May 1st, 2008 by ayu-shalihat

Karena banyak mengenal orang Jepang yang masuk Islam karena pernikahan,
jadi berpikir kalau suatu saat nanti Jepang juga akan jadi negara
dengan penduduk muslim yang besar. Apalagi akhlaknya orang Jepang kan
Islami sekali, tertib, ga suka merepotkan orang, amanah, tepat waktu,
profesional, dll. Lalu kemarin sempet nanya ke temen, mau enggak
menikahi orang Jepang kalau itu bisa menjadi jalan keislamannnya.
Alasan bertanya itu karena mau dijadikan bahan cerita novel. Menikah
beda budaya, beda negara, apalagi beda agama (sebelumnya), mungkin juga
bukan hal yang mudah. Nah, kira-kira pada mau enggak ya kalau disuruh
nikah sama orang Jepang biar mereka masuk Islam? Buat jadi bahan novel
nih, Loh, kok malah nyambung ke novel? Maaf-maaf…
Kebetulan nemu
artikel menarik tentang ribuan warga Jerman yang masuk Islam. Semoga
suatu hari nanti, Jepang -juga negara-negara lainnya akan mengikutinya.


Dakwatuna. Penodaan dan penistaan terhadap
Islam terjadi di banyak negara di Barat. Tak terkecuali di Jerman.
Penodaan dalam beragam bentuk dan cara, terbaru adalah drama “ayat-ayat
setan”. Sebagaimana yang lain, drama ini juga menebar kebencian dan
penodaan terhadap Islam.

Namun, pada waktu yang bersamaan justeru banyak warga negara Jerman yang masuk Islam, berbondong-bondong, dari hari ke hari.

Pekan
lalu menjadi saksi, seorang Penulis sekaligus Wartawan kelahiran asli
Jerman bernama Hendrik Bruder (61 th), yang sebelum-sebelumnya terkenal
memojokkan Islam dan umatnya, masuk Islam. Masuk Islamnya dia boleh
dibilang mendadak. Dia berkomentar : “Dengarlah, saya telah memeluk Islam.”

Setelah
terjadi pergolakan batin yang hebat selama bertahun-tahun, karena
interaksi dan diskusi intens yang ia lakukan dengan seorang Iman Masjid
Ridha di Nicola.

Statemen ia setelah masuk Islam, “Saya
tidak meninggalkan agama, saya justeru kembali pada hakekat agama yang
benar, yaitu Islam. Karena Islam agama fitrah, semua anak manusia
dilahirkan dalam kondisi demikian.”
pungkasnya.

Cerita
masuknya warga negara Jerman tidak hanya kali ini saja. Pada tahun
sebelumnya, ribuan warga asli Jerman kembali pada pangkuan Islam. Pada
tahun 2007 saja terhitung seribu orang masuk Islam, demikian diakui
oleh Menteri Dalam Negeri Jerman.

Sebuah Pusat LSM Islam
menyebutkan dari tiga juta empat ratus (3,4 juta) penduduk muslim di
Jerman, lima belas ribu (15 000) di antara penduduk Asli Jerman.

Sebuah
survai yang dilakukan oleh berbagai media massa di Jerman memaparkan,
bahwa antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga
Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan
perempuan. Survai tersebut juga menambahkan bahwa jumlah itu naik tiga
kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah perguruan
tinggi Islam di Jerman menyebutkan bahwa di tahun 2006 warga Jerman
yang masuk Islam berjumlah empat ribu orang (4000), dibandingkan tahun
2005, hanya seribu (1000) orang. Salim Abdullah, Direktur Perguruan
Tinggi Islam itu menyebutkan, “Delapan belas ribu warga asli Jerman
telah masuk Islam.”

Penodaan dan penistaan yang dialamatkan pada
Islam dan kaum muslimin yang terjadi di Barat, merupakan rahasia dan
pemicu masuknya warga negara Jerman pada agama Islam.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ali Imran:54. (it/ut)

Sisi Lain

April 29th, 2008 by ayu-shalihat
Baru sadar, ternyata orang mengenalku dari sisi yang begitu
beragam

Setelah kemarin terkejut dengan teman yang mengatakan aku begitu
muda dari usiaku yang sesungguhnya. Kebalikan sama komentar sebelum-sebelumnya
yang hampir selalu menganggapku lebih tua dari aslinya (bukan tua ding, tapi
tampak dewasa, hehe). Tadi, setelah berkenalan dengan seseorang di masjid,
beliau bertanya
"Dari Yogya ya, mbak?"
Aku langsung mengangguk. Meski aku
bukan orang Yogya, cuma numpang kuliah, belajar tentang hidup, dan mengukir
mimpi di sana, tapi sudah merasa orang Yogya aja. "Kok bisa tahu kalau aku orang
Yogya, mbak?" apa mungkin aura rindu Yogyaku sampai bisa terbaca
olehnya?
"Habis kalem sih, jadi kukira orang Yogya."
Eh, kalem ya?
Kalaupun memang bener kalem, apa itu bisa diidentikkan dengan Yogya ya?
Jadi
inget, temen-temenku banyak yang menolak mentah-mentah dan mengeluarkan segala
ekspresi wajah tidak setuju kalau aku iseng bilang, "iya, aku kan kalem dan
pendiam…"
"Apa? Ayu kalem? kalempit-lempit kali…"
Mungkin kita punya
banyak sisi lain ya..
Dan biarlah orang menilai kita apapun,
asalkan
seperti apapun diri kita, tetep jadi orang yang bermanfaat buat orang lain, yang
kehadirannya menyenangkan, bukan bikin hati gerah dan ga
nyaman
Semoga

Umar kun ga suki..

April 29th, 2008 by ayu-shalihat

Malam ini hapeku berbunyi. Jarang-jarang lo ada yang
meneleponku.

Ternyata umminya Umar kun yang nelpon, melaporkan
kalau tadi umar kun sempet ngambeg di eki karena ternyata kakak ayu ga ikut
masuk line yang sama dengan umar kun.

Sebelumnya kita sempet ikut acara mentari
bersemi, dilanjutkan makan malam bersama dengan umminya, abang, dan Faiz kun.
Trus karena kebetulan lagi di tempat banyak toko, aku sekalian mau beli kado
buat temen. "Kita berpisah di sini ya!" sudah bersalam-salaman dan ngucap salam,
umar kun ga mau jalan, malah memutar kereta dorong Faiz kun ke arahku. "Mau ikut
kakak Ayu." Akhirnya aku ikut ke eki, mengantarnya sampe ke tempat masukin
karcis (bahasa jepangnya ga apal-apal), dan berbalik lagi ke tempat yang tadi.

Ternyata setelah itu umar kun-nya ngambeg, pingin
bareng sama Kakak Ayu. Begitu laporan umminya. Wah, aku jadi terharu. Umminya
nelpon juga biar umar kun bisa ngomong sama kakak ayu. Tapi setelah di telpon,
umar kun nya cuma berkali-kali bilang, "Ngomong sama ummi aja," Yah, begitulah
umar kun, kalau pas ga ketemu katanya suka nanyain, tapi kalau pas sudah ketemu
cuek bebek dan cool banget gitu deh… kurang lebih sama kaya yang di foto ini
lah.. Kalau ketemu juga, aku ga banyak ngomong si ke umar kun, habisnya dianya
belum bisa bahasa indonesia dan aku ga bisa banyak bicara dalam bahasa jepang.
Jadi ngobrolnya pakai bahasa hati, hehehe.

"Baru pisah di kereta aja umar kun dah marah-marah
begitu, nanti kalau ayu pulang kayanya ada yang sedih banget deh.."

Buat kenang-kenangan nih, kalau punya penggemar
cilik di Jepang. sudah soleh (hafalannya lumayan banyak buat anak umur tiga
tahun), cool, ganteng pula. Hehehe. Semoga bisa ketemu lagi kapan-kapan. Dan
abang, umar kun, faiz kun, nasmah chan, zakiya, hafidz, pokoknya semua temen
mainku di jepang yang anak-anak itu kelak jadi anak-anak yang soleh
solehah.

Btw, ponakan2ku, apa kabar ya?? Jadi
kangen…

Novel bvs Skripsi

April 29th, 2008 by ayu-shalihat

Mau sedikit bercerita tentang perjalanan menulis novelku.

  • Sampai hari ini, calon novelku baru nyampe sekitar 75 halaman dari batas
    minimal 150 halaman yang disyaratkan buat ikut LOVE FLP. Kecintaanku pada FLP
    yang cocok dengan namanya itu bikin jadi pingin ikut acara ini. Itu dengan
    catatan harus selesai paling lambat minggu ke empat Mei lalu membujuk pengurus
    FLP Jepang untuk memberikan rekomendasi buat novel setting Jepangku ini, dan
    sekali lagi meminta Mba Desi mengeprintkan dan mengirimkannya, hehehe.
  • Sepertinya aku lebih cocok bekerja di bawah detlen. Jadi semangat (uhm..,
    tepatnya sedikit lebih semangat dari sebelumnya yang tidak semangat nulis). 
    Kalau enggak ada detlennya, sepertinya sulit juga untuk nyelesein sebuah novel
    dengan cepat dan semangat. Novel pertamaku akhirnya baru selesai hampir dua
    tahun dari pertama kali mulai bab pertama.
  • Dulu pernah janji pada diri sendiri untuk bisa bikin satu buku lagi
    sebelum pulang, maka tidak ada pilihan lain selain ngebut novel ini. Karena
    memang sebentar lagi mau pulang, maka memang harus segera diselesaikan.
  • Kalau aku enggak segera menyelesaikannya juga, bisa-bisa aku enggak
    mulai-mulai mengerjakan skripsi. Skripsi.., maafkan aku! Suka terganggu
    pikirannya kalau ada hal lain yang belum selesai.
  • Skripsi…!, aku ingin segera bertemu denganmu… Kalau perlu segera
    pendadaran dan lulus tanpa perlu ngulang kuliah lagi.
    Amin…

Masalahnya, keinginan untuk menyelesaikan novel ini ternyata diuji oleh
berbagai halangan dan rintangan.

  • Kalau lagi jauh sama laptop, selalu kepikiran mau menghabiskan waktu
    untuk menulis, menulis, dan segera menyelesaikannya. Ide-ide cerita bermunculan,
    setting waktu dan tempat sampai gugurnya kelopak-kelopak sakura pun menggoda
    untuk segera dituliskan. Sayangnya, kalau sudah sampai di kamar, menyalakan
    laptop, seringnya semangat itu menguap entah kemana.
  • Connect internet mengganggu? sedikit banyak sih, soalnya aku tipe
    ga mudah konsen. Ada imel masuk jadi tertarik baca. Ada yang nyapa di YM jadi
    ngobrol. Kalau bosen nulis, buka-buka FS dan MP, lalu baca blog-blog orang lain.
    Kalau nyari data buat melengkapi tulisan, sering jadi tergoda buka halaman lain,
    kadang juga jenuh sekali enggak kepikir nulis satu kalimatpun. Hingga akhirnya
    setelah liat jam, ternyata sudah malam dan baru menghasilkan satu atau dua
    halaman. Duh..
    Tapi kalau enggak connect? Kayanya sepi juga..
  • YM, YM-ku selalu menyala, meski kadang terganggu tapi dengan adanya YM
    aku jadi merasa punya temen, enggak cuma sendirian di sekotak kamarku ini.
    Apalagi kemarin sempet nanya-nanya ke temen tentang pendapatnya seandainya jadi
    tokohku, lalu tanya temen yang lama di Jepang tentang kebiasaan di Jepang, minta
    diterjemahin bahasa Jepang juga, hehehe. Tapi kadang aku enggak adil juga, suka
    mengganggu orang di YM tapi ga suka kalau diganggu. Paling enggak suka sama yang
    namanya nge-Buzz dan di-buzz kecuali sama yang sudah bener-bener deket dalam
    dunia per-YM-an.

Ternyata bener ya, yang membedakanku dengan penulis beneran yang punya
banyak karya itu adalah kesabarannya. Nulis itu butuh kesabaran, butuh semangat
yang benar, buat dakwah, buat nyebar kebaikan, buat dapet pahala yang banyak,
kalau niatnya bener, pasti jadi lebih semangat.

Tadi sempet terpetik semangat karena nulis fenomena di Jepang yang
menyedihkan, banyak muslim yang ga shalat, tiap hari ketemu sama temen sekelasku
yang muslim tetapi selalu bangga mengatakan bahwa minuman favoritnya sake,
makanan favoritnya tongatsu dan gyudon, dan pekerjaan favoritnya ngedate, duh!!!
Padahal dia arabiago native speaker. Itu orang-orang arab kan enak, bisa baca
qur’an sekalian tahu artinya dan gampang ngapalinnya. Ih!! Ga tau apa ada yang
susah banget belajar bahasa Arab. Loh, kok jadi marah2! Tapi sekarang ga mau
belajar dulu soalnya nanti setengah-setengah sama belajar bahasa Jepang, nanti
malah ga masuk satupun. .

Ayo semangat!! Tapi besok aja deh, sekarang tidur aja. Sudah larut malam
dan belum ngerjain pe er yang buat besok.

Besok, nulis lagi, perjuangan masih panjang, dan skripsi sudah tak sabar
untuk disentuh. Ganbarou!

Hari ini, sepertinya aku sudah berbuat beberapa kesalahan di YM. Maafkan
aku..

Senangnya dianggap tidak bermutu

April 20th, 2008 by ayu-shalihat

Bermutu? ya, bermuka tua.
Dulu aku selalu dibilang bermutu.
Orang-orang sering menyangkaku angkatan 2002 atau lebih tua lagi,
padahal kan aku angkatan 2004 S1 (bukan angkatan 2004 S2 apalagi S3).
Kadang juga ada yang memanggilku pakai "Bu". WAh, sudah tampak sebegitu
tuakah aku?
Tapi kemarin seneng karena temenku bilang. "Ayu, you look so young. How old are you?"
"22 tahun."
"Tapi kamu tampak seperti masih 18 tahun…, masih muda!"
Oh, benarkah??? tidak pernah menyangka ada orang yang mengatakannya.
""Tapi teman-temanku di Indonesia selalu bilang aku tampak lebih tua,
misalnya dikira umur 24." Iya, soalnya enggak sekali dua kali orang
kaget kalau aku mengaku 2004. "Kukira 2001 atau 2002, mbak.." (?!)
"Ah, teman yang seperti apa mereka itu?." Lanjut temanku yang lain. Yang juga mengiyakan kalau aku seperti anak umur 18 tahun.
Itu aja. Untuk bahan pengingat bila nanti ku sudah kembali ke Indonesia
dan tiba-tiba ditanya, "Angkatan 2002 ya, mbak?" aku masih bisa
tersenyum karena ingat nun jauh di sana aku punya teman-teman yang
menganggapku tidak bermutu, justru tampak empat tahun lebih muda dari
usiaku yang sebenarnya. Terima kasih.. terima kasih

Usia.. usia..,
Demi masa,
sesungguhnya manusia kerugian
melainkan yang beriman dan beramal sholeh

Semua Ini Pasti Ada Hikmahnya

April 15th, 2008 by ayu-shalihat

Semua Ini Pasti

Ada

Hikmahnya

 

Kali ini mencoba mengikat satu kenangan tentang kisah
persahabatan.

Agenda hari ini adalah olahraga dan silaturahim. Berhubung
aku tidak ahli dalam segala jenis olahraga, maka naik sepeda sudah kuanggap
olahraga. Apalagi mengingat bahwa kemampuanku membaca peta dan mengingat jalan
cukup buruk. Jadi ada kemungkinan besar jarak perjalanan dengan sepeda akan
semakin jauh karena kebiasaan burukku; nyasar!

Kalau bicara tentang nyasar, hehehe, aku sudah pernah nyasar
di semua kota yang kutinggali, baik dengan jalan kaki, naik sepeda,naik bis,
dan naik motor, baik itu di Semarang, Yogya, Brisbane, Bantul, kampung Fuchu,
Tokyo, juga pas jalan-jalan ke Kyoto semua punya sejarah nyasar. Kalau di
Indonesia yang memang bagi masyarakatnya peta bukan hal yang penting untuk
dibuat, nyasarku biasanya rasa percaya diri yang tidak pada tempatnya. Malas
bertanya dan lebih mengandalkan feeling. Bedanya pas di

Indonesia

dengan pas di Jepang adalah ada tidaknya peta. Kalau di Jepang, nyasarku memang
karena aku tidak bisa membaca peta dengan baik.

Hari itu aku akan mengunjungi rumah seorang sahabat yang
akan kurepotkan buat mendaftar pasang internet. Sebenarnya jarak asrama ke
rumahnya tidak jauh. Tapi dari dua kali ke

sana

naik sepeda, selalu makan waktu satu jam-an karena nyasar. Kemarin aku nyasar
dan berputar-putar lama sekitar makam Tama. Meskipun ada peta (yang tidak bisa
kubaca dengan baik), akhirnya kuandalkan feeling saja untuk menemukan jalan
keluar. Begitu kupilih satu pintu keluar sesuai feelingku akhirnya mempertemukanku
dengan polisi-polisi yang berjaga di perempatan. Awalnya cuek saja karena
enggak merasa salah. Jadi menyesal berani deket2 ke polisi. Padahal waktu jalan
ke SRIT dan dari seberang enggak sengaja melihat ada orang

Indonesia

yang dicegat polisi di koban, aku sudah mengingat-ingat bahwa selama ada jalan
lain yang tidak lewat di depan polisi, maka pilihlah jalan itu. Males kalau ada
yang tiba-tiba ditanya, dicatet KTP-nya, dan dicurigai macem-macem. Dan hari
itu aku lupa akan janji itu sehingga berhasil diberhentikan dengan sukses oleh
polisi yang kulewati tadi, ditanya kunci sepeda, nomer dan nama pemilik, dll
dst. Aduh…, ini sepeda sudah enggak ada kuncinya. Pemberian senpai yang akan
terus kuturunkan buat anak-anak UGM yang mendamparkan dirinya ke Tokyo Gaidai
dari tahun ke tahun. Waktu itu sudah mikir kalau masalahnya jadi panjang dan
kohai-kohai mendatang tidak bisa menikmati sepeda yang belum sempat kuberi nama
itu. Tapi alhamdulillah akhirnya aku dibebaskan. Bersyukur juga karena
setidaknya sudah bisa sedikit-sedikit menjelaskan dalam bahasa Jepang, kalau
tidak…? Ugh!

Akhirnya dengan feeling lagi (karena jalannya sudah enggak
sama lagi dengan foto peta di keitaiku) kulanjutkan lagi perjalanan sepedaku.
Kok enggak nyampe-nyampe jalan yang kukenal ya… Terus mengayuh sambil
berolahraga di siang yang kebetulan sangat cerah (atau panas ya??) itu. Sampai
akhirnya ada koban yang rasa-rasanya aku kenal dengan koban itu. Ah, jalan terang!

Sekali lagi aku lupa janji untuk tidak mendekati polisi.
Tapi alhamdulilah polisinya baik, enggak nanya macem-macem tentang identitas
diriku atau sepedaku, dan memberikan petunjuk jalan ke tempat yang kutuju. Di
akhir pembicaraan kami, dia bilang, “Anak Gaidai ya?” Kok polisinya bisa tahu?
Lalu kutatap wajahnya. Eh, kok mirip sama polisi yang tadi nanyain aku di
jalan? Jangan-jangan polisi yang sama yang tadi juga nanyain aku tinggal di
mana? Atau karena semua orang Jepang masih kuanggap berwajah mirip? Lupakan!

Kulanjutkan perjalananku sesuai petunjuk yang diberikan si
bapak polisi. Dan sampailah aku pada jalan mendaki. Oh tidak, aku enggak kuat
kalau harus mendaki dengan sepeda. Lalu demi menghindari jalan mendaki itu,
kembali kugunakan feeling mencari jalan lain dengan kembali masuk ke kompleks
makam yang luas sekali itu. Dan alhamdulillah aku menemukan jalan keluar yang
benar. Hingga akhirnya aku sampai di tempat yang kutuju dalam waktu tidak
kurang dari satu jam.

Sepertinya kepanjangan ya cerita tentang nyasarnya. Ok,
cerita sedikit tentang temanku. Teman yang kukunjungi itu baik… sekali.
Berhubung aku tahu kebiasannya mengajak makan bersama tamu yang datang atau
membawakan bento bila si tamu memilih untuk enggak makan, maka sudah kusiapkan
tempat makan untuk diisi bento. Hehehe, enggak sopan banget ya. Mungkin karena
mental anak kos yang enggak suka menolak makan gratisan masih melekat pada
diriku. Lalu kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke tempat mendaftar
internet sambil cerita-cerita di jalan. Karena aku juga belum begitu ahli naik
sepeda, sempat juga aku menabrak nenek-nenek yang juga naik sepeda. Hehehe.
Jadi inget bahwa aku memang belum lama bisa naik sepeda. Baru belajar karena
dipaksa temen-temenku sebelum melanjutkan ke tahap belajar naik motor. Tuntutan
akhwat yang tinggal di Jogja adalah bisa naik motor. Kalau tidak, maka akan
selalu merepotkan orang dan jadi banyak waktu dan tenaga yang habis hanya untuk
jalan.

Sebenernya mau cerita kenangan persahabatan satu hari itu
kok malah jadi kepanjangan cerita tentang nyasar ya?

Waktu pulang alhamdulillah enggak nyasar. Bisa masuk dan
keluar kompleks makam dengan rute yang benar. Dan betapa kagetnya aku bahwa
koban yang tadi kukunjungi adalah koban yang letaknya di depan kompleks makam
yang sudah deket sama asrama, alias jalan yang kulewati pertama kali sebelum
nyasar. Berarti kemungkinan besar aku sudah memutari kompleks makam yang besar
itu dan kembali ke titik awal. Jadi aku nyasar sejauh itu hanya untuk bertemu
dengan polisi yang menanyaiku tentang si sepeda? Ah, semua ini pasti ada
hikmahnya. Kalau mau diambil kesimpulan lagi, jadinya jalan buat silaturahimnya
semakin panjang, pahalanya makin banyak…, amin..

Lalu sampai di rumah baru terasa kaki ini pegal-pegal.
Biasanya kalau capek aku reflek menyalakan laptop untuk mendengarkan alunan favoritku.
Tapi entah kenapa kali ini laptopku enggak mau nyala. Sinpai.. Bagaimana aku
bisa bertahan di Jepang tanpa berteman laptop? Kalau laptop ini beneran mati,
gimana nasib novel yang semakin mendekati detlen, nasib foto-foto di Jepang,
dokumen2 penting lain? Perjuangan buat menyelesaikan skripsi? Juga jadi enggak
bisa ndengerin murattal lagi dong. Dicoba lagi, masih ga nyala. Nyoba lagi,
tetep enggak nyala juga. Sekian kali lagi, tetep ga nyala. Lemes.., ya, kalau
memang laptop yang juga belum kuberi nama ini akhirnya harus mati, pasti ada
hikmahnya juga. Tidak ada cara lain
selain harus banyak lembur di perpus buat ngebut novel, ngerjain skripsi, dll.
Mungkin juga kalau terlalu banyak akses internet dari kamar jadi melakukan
hal-hal yang ga perlu dilakukan, makanya laptop itu dibuat mati. Yah, semua ini
pasti ada hikmahnya… Paling tidak aku jadi langsung nyusun rencana, meniatkan
untuk enggak buang-buang waktu lagi. Pokoknya sudah semangat empat

lima

biar lebih semangat kejar target dengan segala keterbatasan yang akan
menghadang.

Selesai sholat kucoba nyalain laptop lagi. Wah…, berhasil!
Nyala! Seneng banget. Alhamdulillah…!

Tapi hari ini aku dapat pelajaran, bahwa segala sesuatu
pasti ada hikmahnya. Enggak ada kejadian yang sia-sia dan tidak ada alasan
kosong mengapa itu terjadi. Jadi olahraga, jadi praktek bahasa Jepang sama
polisi-polisi Jepang, jadi lebih semangat untuk memanfaatkan waktu, juga jadi
berniat untuk memberi nama barang-barang yang banyak membantu pekerjaanku dan
memperlakukannya dengan lebih baik. Dan at least jadi membuatku bisa menulis
panjang tentang kenangan hari ini. Cara untuk bisa nulis ya dengan belajar
nulis. Meskipun akhirnya enggak bener dan kepanjangan begini. Itu juga belum
menceritakan kenangan persahabatan yang kubuat hari itu, bisa jadi lebih
panjang lagi.

Sekian saja menulis kenangan tentang hari kemarin, harus
segera kembali kejar target yang sudah kubuat semalam.

Buat Mbak Desi, ini kenapa akhirnya aku tak bisa muncul di YM pukul 4

Akhirnya liburan usai sudah!

April 9th, 2008 by ayu-shalihat


Alhamdulillah.., akhirnya besok akan kembali ke rutinitas kuliah
setelah libur dua bulan. Hehehe, rasanya aneh banget, biasanya sedih
kalau mulai masuk sekolah, tapi sekarang malah rasanya bahagia.. Apa
aku sudah kembali jadi anak yang rajin belajar dan rindu sekolah ya?
hahaha, sepertinya tidak, atau lebih tepatnya kalau sekarang jadi anak
rajin, tetep belum serajin dulu. Masih inget, dulu pas SD liburan pun
tetep belajar, tiada hari tanpa belajar deh.


Kemudian pas dah kuliah, liburan itu ga berasa. Jarang-jarang juga bisa
pulang lama. Kalau habis selesai ujian semester di kampus, biasanya ada
ujian DS, jadinya ga pulang. Habis ujian DS, ada program liburan;
belajar bahasa arab (yang sampe sekarang kok ya aku ga bisa-bisa) sama
program ‘yg saat ini paling kurindukan’. Nah, selesai ujian DS dll itu,
berakhir jugalah liburan kuliahnya. Atau kalau ga ya banyak acara
kampus dan FLP yang ga bisa ditinggal pulang lama-lama, alhasil aku
jadi jarang merasakan liburan yang sebenarnya.

Dan sekarang? libur dua bulan tanpa program dan kesibukan? ooh.., jadi bisa bayangin rasanya post power syndrom.

Sedikit review ah, tentang liburanku kali ini.

    Akibat banyak chating, Mbak Desi, Isti, Anjar mendorongku untuk
jalan-jalan seorang diri. Ga usah nunggu orang kalau memang ga ada yang
punya satu tujuan jalan-jalan. Mumpung di Jepang, begitu kata mereka.
Akhirnya aku menguatkan diri untu jalan-jalan sendiri beberapa kali, ke
Harajuku, ke Edo museum, muter2 naik sepeda, ke kasai rinkai koen, dll
. Setiap nyampe tempat baru, aku mempersiapkan diriku dengan bilang,
ya.. mungkin nanti ga bisa ke Jepang lagi. Jadi alhamdulillah hari ini
sudah sempet liat tempat ini. Habis itu foto-foto sendiri, sampe sempet
juga bikin video sambil ngomong, "Ayu jalan-jalan sendirian…" plus
tampang melas.     Lumayan terhibur dengan jadi panitia Ikitai Kyanpu.
Ya, karena merasa akulah panitia yang paling hima diantara panitia2
lainnya, jadinya aku sering berinisiatif melakukan hal-hal yang
seharusnya bukan tugasku atau mengerjakan segala sesuatu padahal
instruksinya tidak seperti itu. Ya, habis terbiasa kerja cepat buat
urusan organisasi. Masih inget dulu aku pernah ditinggal dua jam-an di
sekretariat hanya berteman laptop dan harus menyelesaikan tiga buah
proposal selama teman-temanku yang lain ngurus sesuatu di luar.
"Pokoknya percaya sama Ayu, nanti selesai ya!" Tinggal aku yang
megap-megap. Tapi selesai juga kayanya. Nah, akhirnya pola kerja yang
seperti itu kubawa-bawa pas acara kemarin. Semuanya buru-buru
dikerjakan biar beres. Kalau ada yang belum dikerjakan jadi senewen
sendiri. Tapi ternyata memang ga bisa disamakan ya..


    Ikitai Kyanpu yang menyenangkan… Apalagi yang harus kuceritakan?
Geli juga karena di pagi hari sempet rapat via keitai. Bener2 negara
hi-tech. Trus pas di acara geli lagi juga karena mendadak aku dapet
banyak kerjaan, dari yang awalnya sekretaris dan humas panitia, agak
siang dikit jadi nambah jabatan jadi bendahara, sore dikit namba h lagi
kerjaan jadi dokumentasi, tukang moto-moto. Malemnya, nambah lagi jadi
penjaga dua adik yang ditinggal ibunya, termasuk memandikannya…
(pengalaman pertama memandikan anak orang). Capek ini hilang waktu di
akhir acara foto bareng, liat kegembiraan mereka, sama kalimat menutup
dari sang ketua. Semoga kalian kelak tetap menjadi pohon-pohon yang
kokoh, menopang nilai-nilai Islam di lingkungan yang sekering Jepang
ini. Amin..


    Trus juga ada pengalaman ber-18 kippu ke Kobe, Osaka dan Kyoto.
Yokatta.. tapi capek juga. Berangkat dan pulang sendiri dari Tokyo,
pake kereta lokal, dan akhirnya bertemu Isti di  Osaka dan Kyoto. Waktu
pulang kaget karena ternyata Tokyo sudah penuh dengan sakura. Beberapa
temenku bilang lebih suka Kyoto daripada Tokyo. Kalau aku? ya.., karena
sudah lebih terbiasa di Tokyo jadi lebih seneng Tokyo. Ga bisa langsung
jatuh cinta sama satu tempat hanya dalam satu dua hari. Bahkan kalau
ditanya mending Jogja apa Tokyo, kayanya tetep mendingan Jogja deh
karena sudah lebih lama tinggal di sana. Jogja sama Semarang? loh, kok
malah jadi ngomongin ini.


    Ngapain lagi sih? Nulis novel baru, beberapa esai, salah satunya
diikutin ke lomba esai FLP yogya. Sama baca-baca buku dan blog-blog.

     Dateng ke beberapa pernikahan. Pas akad kan banyak malaikatnya…, biar doanya terijabah juga.

     Dateng ke beberapa acara kumpul-kumpul yang ujung-ujungnya membicarakan pernikahan juga, hehehe.


    Belajar bikin pizza dan ichigo short-cake, tapi enggak yakin bisa
praktek sendiri. Yang jelas aku sudah berfoto bersama bentuk jadi
makanan itu, jadi seolah-olah akulah yang bikin, hehehe.


    Berniat belajar masak dengan membantu sie konsumsi acara wisudaan
dan wirausaha. Tapi kayanya enggak ada resep yang menempel di kepalaku.

    Hanamian liat sakura. Tapi aku lebih suka liat tulip deh.


    Karena 18 kippuku masih sisa, di akhir liburan aku sempet
mengelilingin dan turun di banyak eki yamanote sen, terus moto nama
stasiunnya dari luar, trus naik kereta lagi, turun lagi, gitu sampe
capek.. Hari ini tuntas sudah 18 kippuku setelah akhirnya aku jalan2
sendiri lagi ke disneyland (ga pake masuk, kan boikut! alasan lain.. ga
mau ngeluarin duit, hehehe)

Seperti itulah lebih kurang liburanku yang dua bulan itu.

Seneng karena sudah berakhir karena berharap aku akan kembali semangat menghadapi hari dengan punya kesibukan pasti.
Lalu berniat akan menyibukkan diri pada masa 4 bulan yang kupunya ini. Mau berlama-lama di perpus dan mulai ngerjain skripsi.
Harus nyelesein novel buat diikutin love FLP. Novel dengan setting Jepang biar jadi kenangan tersendiri tentang Jepang.
Mau bikin buku non-fiksi.
Mau ngejar IP 4 lagi di semester ini
Mau lebih bisa berbahasa Jepang sebelum pulang.
Nah, banyak kan ya yang harus dikerjakan semester ini? Jadinya ga boleh males-malesan! Semangat!!


Gara-gara banyak waktu luang, kemarin aku merasa ingin segera cepat
pulang.. pulang.. pulang… Jadi kalau sibuk bisa ga mikir pingin
pulang terus.

Pulang

April 8th, 2008 by ayu-shalihat

Hari ini dan kemarin, aku merasa ingin segera pulang.
Ada hal-hal yang kehilangannya, tidak bisa dibayar oleh materi.
Ya, pulang…
Lalu mungkin kembali, hanya bila memang jalan hidupku menuntunku kembali ke sini

Mengenang masa SMA

April 5th, 2008 by ayu-shalihat

Baru aja buka2 FS, trus buka profilenya beberapa temen SMA, dari sana ternyata ada link temen-temen SMA yang lain, buka lagi, baca sedikit, membayangkan mereka yang dulu dan membandingkan dengan update profilenya. Banyak yang berubah ya..

Jadi semakin sadar, kalau sudah lama banget ga main ke SMA. Padahal dulu aku suka banget semarang, enggak suka sama Jogja. Enggak pernah setuju kalau ada orang yang bilang Jogja lebih bagus dari Semarang, tapi setelah tahun kedua dan seterusnya jadi lebih merasa nyaman di Jogja dan jarang pulang.

Udah, itu aja sesi mengenang SMAnya..  Masa masih bandel-bandelnya, ikut acara apa dulu ya, yang kita ribut sendiri karena bosen dan enggak mudeng materinya, sampai2 berkali-kali disuruh diem langsung sama ustadznya.

Kapan-kapan, insyaAllah pingin ke SMA, cerita-cerita bareng temen-temen. kalau dulu biasanya habis kumpul2 dilanjutkan ke mall bareng, hehehe. Kalau besok, jalan ke mall lagi ga ya, kira2..
Buku kenangan SMA-ku sekarang dimana ya? masih ada ga ya foto yang konyol2 dulu itu?? hehehe

Buat temen2 SMA-ku.., met berjuang terus.. Semoga kalau ada yang berubah dari kita, berubahnya ke perbaikan.
Buat Lusty Ivent, temen SMA-ku yang kemarin kudapat kabarnya meninggal setelah perjalanan Jogja-Semarang, semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu di sisi-Nya.