Obrolan Tobitakyu-Gaidai
Wednesday, October 31st, 2007
Sekarang Ayu sering pulang malam.., di atas jam 10 malam,
sementara ini paling malem nyampe asrama jam 23.30. Sudah teramat sangat malam
untuk orang yang selama dua tahun lebih ini jam pulangnya adalah matahari
terbenam. Juga untuk orang yang biasanya mengingatkan orang lain untuk tidak
pulang malam. Dan sekarang.., dia sendiri yang suka pulang malam. Jangan ditiru
di
Indonesia
ya!
Kalau pergi malam selalu bertiga, sama siapa lagi kalo bukan 3 serangkai
Indonesia, Ayu, Dini, dan Himmi… dan selalu saja perjalanan malam itu
–terutama Tobtakyu-Gaidai yang memakan waktu cukup lama- berhasil menciptakan
obrolan-obrolan panjang tentang banyak hal. Sangat lumayan untuk menghangatkan
dinginnya malam di musim gugur (aduh, baru musim gugur tapi di dalam kamar aja
bisa menggigil..)
Sebenarnya yang awalnya diobrolkan tak pernah jauh-jauh dari
keluh kesah betapa buruknya bahasa Jepang kita (tentunya yang ngeluh Dini dan
Himmi yang bisa bahasa Jepang, kalau aku ngeluhnya bukan bahasa Jepangku yang
buruk.., tp ga bisa, eh belum bisa bahasa Jepang hix..), terus tentang
arobaito, mereka pada berniat part time selama di Jepang. Dini mau jadi kaya,
Himmi mau nabung nikah… hahaha. Nah, kalau sudah sampai preferensi pribadi
seperti ini muncullah obrolan-obrolan yang lebih luas. Semisal dari mana kita tahu seseorang itu
jodoh kita? Kalau udah pacaran lama dan cocok apa udah pasti itu jodohnya? Seuringkali obrolan itu tak ada sampai selesai karena ada topik2 lain yang begitu saja bermunculan.
Kadang kalau sudah nyerempet-nyerempet masalah agama, kita jadi
pindah topic, topic Islam juga cukup sering diobrolkan dalam berbagai versi,
awal sekali Dini pernah nyeletuk “Watashi wa akhwat janai”. Aku dan Himmi
protes, trus kalau bukan akhwat masa Ikhwan? Jadi inget mbak Yunita -klo inget mbak Yunita, jadi malu karena hafalanku ga nambah2 juga-, sulit
sekali merubah steriotip, ikhwan-akhwat sebagai sebuah keumuman, sementara
istilah itu di(anggap) monopoli sebagian orang. Pernah juga waktu aku tanpa
bermaksud apapun menyebut seorang ikhwan di Gaidai, jadi ngomongin berbagai
macam bentuk ikhwan yang kita kenal, dari yang gaul, preman, setengah preman,
alim, celana congklang, sampe yang GB-nya (katanya) bikin orang jengkel.. hehehe. Dari situ kita
menggolongkan diri kita masing-masing dalam kelompok yang sekiranya
appropriate. Ga bisa nahan ketawa waktu mereka protes, “Yang kaya gitu preman,
lalu kita Sumanto dong!”
Pernah juga debat alot waktu kubilang, “Bahasa Arab itu
bahasa surga..!”
Ada
yang ga terima… akhirnya daripada bertengkar kita damai aja deh.., hanya Allah
yang tahu, dan tar kalau mau naik haji kita juga bakal belajar bahasa Arab,
minimal klo nyasar kita bisa bilang “Ihdinash shirathal mustaqim” (tunjukilah
aku jalan yang lurus..)
Di perjalanan terakhir kita, kita ketemu sama temen student
exchange yang cantiknya subhanallah… kalau ada yang bilang gadis itu ga
cantik.., pastilah dia bohong. Aku mengakui dia cantik sekali, tapi malam itu,
sebelum menyeberang jalan dpn kampus, aku bilang.. “Ah, Dini juga cantik
kok..!” Bener, ini dari dalam hati yang paling dalam, tp buruknya aku
mengatakannya sambil ketawa, jadi kaya becanda. Habis.., pasti tar Dini akan
bilang “boong..!” hehehe…, cara ngomongnya aja bikin ketawa.. Pokoknya aku
sering ketawa kalau dengerin obrolan-obrolan Tobitakyu-Gaidai. Setidaknya
membuatku bahagia dengan tertawa, meski merasa kedinginan, dan yang pasti kalau
pergi malam berarti aku belum ngerjain pe-er, hehehe..
Masih mau cerita ttg alasanku dari lubuk hatiku mengatakan kalau Dini juga
cantik.., tp besok aja deh.. ternyata dah malam, dan sekarang aku sering merasa
tak mengantuk di malam hari -mungkin lapar.., tp kalau tak lapar sekali aku ga mau makan terlalu malam- hanya takut bangun kesiangan (ini perbuatan
memalukan sebagai anak yang pernah tinggal di DS). Tadinya pun aku akan
(berusaha) tidur sebelum menulis blog ini. Tapi malu sama Wiwin yang sudah
menunggu kesungguhanku untuk rajin menulis.. hehehe. Btw, win, kau tak ingat ya
kalau aku juga pengurus FLP, dan yang pasti kau adalah staff-ku di CWC, wah..
kangen..