Archive for November, 2007

Kangen…

Sunday, November 25th, 2007

    Beberapa hari lalu sempat kangen
berat sama DS, sama suasananya, sama salat jamaahnya, sama segala yg ada di

sana

.
Kangen dan sedih saat menyadari sekarang selalu salat sendiri, enggak ada
murajaah bareng dan setoran hafalan yang menegangkan, enggak ada yg ngingetin
spt mereka, enggak ada keceriaan mereka, suka nolongnya mereka, kangen nasihat
umi, kajian abi. Ah.. kangen… Sempat seharian males keluar, nani mo ikimasen,
melewatkan 2 festival yg sepertinya menarik, karena pingin nambah hafalan dan murajaah,
tp berat banget…Cuma tambah beberapa ayat. Jadi terbayang dulu kita sering ga
keluar seharian karena mau murajaah dan nambah hafalan, liat temen lain lagi
ngapalin jadi ikut semangat, juga inget suasana salat jamaah, betapa dulu (dan
sekarang) aku sedih klo ga dpt jamaah. Tapi kemarin Cuma dara2 aja di kamar,
dingin.. (tp itu alesan aja, mainichi wa samui desu).

But the life must go on. Inget
kata mbak bulan, kerinduan itu bisa mematikan, tp juga bisa menguatkan, membangkitkan semangat. dan tahu kan mana yang harus dipilih?

Lalu, hari ini jadi kangen banget
sama umi di rumah… Kyo wa watashino tanjoubi desu. Ibuku bikin nasi kuning dgn
menu lengkap (telur, abon, ayam, kering, sambel goreng, lengkap deh.. dan capek
tentunya ya..) seharian, buat dianter ke tetangga2, syukuran miladnya ayu,
hix…, karena merasakan aku sekarang berada di sana. Ya, di rumah

kan

milad jadi moment special, jadi meskipun aku ga di rumah, umi tetep membuat
hari ini sebagai hari special. Duh ummi, betapa beruntungnya aku jadi anakmu..

Tadi pagi, aku juga masak nasi kuning (jangan memuji.., pake
bumbu instant kok), sama ayam (pertama kalinya ngurusin ayam mentah..), buat
dianter ke tetangga (yg ngasi kejutan tepat jam 12 malem). Hehehe.., kok bisa
sama ya sama umiku di rumah. Sudah 22, dulu selalu berpikir, kepala 2 itu sudah dewasa banget, makanya aku nyoba masak yg rada aneh untuk membuktikan bahwa aku memang sudah bukan anak2 yang taunya cuma masakan jadi dan makan…, harus bisa masak juga.

 Alhamdulillah hari ini Allah masih memberi kesempatan padaku untuk beribadah di
bumiNya, berkuranglah jatah umurku, semakin banyak yang harus
dipertanggungjawabkan, semakin banyak yang akan dihadapi. Momen yang kubuat?
Sudah menyelesaikan novel (meski harus banyak diedit), khatam Qur’an (doa
setelah khatam Quran kabarnya lebih mudah terijabah –ya Allah, barakahilah
usiaku, kuatkanlah aku untuk terus membaca dan mengamalkan Quran sepanjang
siang dan malam, mencintaiMu dengan sepenuh hatiku, dan melakukan segala yg
membuatMu ridho terhadapku dan menjauhi segala yang membuatMu murka
terhadapku
-.

 Sehari
sebelumnya aku pergi ke Otsuka, ngisi kajian.. oh, kangennya suasana seperti ini… karena blm bisa
pakai bahasa jepang, aku ngisi pake bahasa Indonesia dan diterjemahkan.
Pengalaman yang menyenangkan, betapa semangatnya para muslimah Jepang
mempelajari Islam (cewek Jepang cakep2, apalagi yang pake jilbab, kirei…). Trus malemnya, jam 12 malem persis, pintuku
dibel.., wah, siapa nih.. serem banget ketuk pintu malem2. dan SURPRISE! Pertama
kalinya dapet kado di tgl 25 November pukul 00.00. Tiga temanku, Dini bawa
ager2 kiwi pasta coklat, Voleak (Kambodia) ngasi kado ultah, Taksan (

Taiwan

)
ngasi coklat. Hiix.. terharu.. Paginya mau dikasi surprise lagi makan mie ayam
tp sayangnya aku pas puasa.

 Acara
berikutnya ikut Dini dan hostfam-nya ke Mochi tsukuri (bikin mochi) di Takao.
Omoshirokatta desu! Berhubung ku lagi puasa (dan keras kepala ga mau batalin),
aku ga makan semua makanan (kayanya) yang enak2 itu.., baru jam 16.30 sempet ngicipin macem2, oishii soo. Ga enak
juga karena ga jadi ketemuan sama Kaori yang nari di gaigosai dan sudah nyiapin
kado buatku, hix.. hix… Terus ternyata dah ditungguin sama Mine buat ngasi kado juga. Habis
itu masih ke tempat mas Lesa buat makan kejutan mie ayam yang td pagi tertunda,
hehehe… dan sekarang hbs chat sama umiku, baru tahu klo beliau sudah begitu repot2
mengingat miladku dgn bikin nasi kuning itu (hua..hua..), dan chat sama ketiga
kakakku yg sengaja kompakan OL dari 3 tempat berbeda buat ngucapin met milad
buatku. Oh..

 Tasyakuran
ga, Yu?

 Tasyakuran..,
bersyukur… Iya ya, Subhanallah, Alhamdulillah Allah sudah memberikan begitu
banyak nikmat kehidupan. Keluarga yang subhanallah.., teman2 yg baik, hidayah
dan tarbiyah yg kurasakan, kebaikan2 yg sering datang tiba2, semuanya..

Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 Ya Allah,
berikanlah aku menjadi hambaMu yang bersyukur, yang bisa memanfaatkan semua
yang Kau berikan untuk segala yang engkau ridhoi, yang bisa menjadi cahaya,
penerang, dan penyeru di jalanMu. Ya Allah, hidupkanlah hati ini dengan
cahayaMu yang tak pernah padam, untuk terus mencintaiMu dan merangkai
keridhoanMu. Menjadikan segala rindu ini sebagai semangat yang menguatkan
setiap langkahku. Semoga.., semoga..

Ya Allah mudahkanlah langkahku.

Jazakumullah untuk semua yang telah menorehkan warna2 indah
dalam hidupku

 

Tokyo

,

25 November 2007

,

23:59

Saat purnama bulat sempurna

Betapa Tidak ‘Spesial’nya Diriku

Tuesday, November 20th, 2007

Ya, betapa tidak spesialnya diriku. Aku belum punya sesuatu
yang special, atau bisa diunggulkan. Contoh kecil, aku kuliah 3 tahun di HI,
bahasa yang dikuasai? Inggris enggak juga, klo ngomong masih gelagapan, lost of
vocabularies, pokoknya belum kaya anak HI deh. Bahasa asing lain yang dikuasai? Oh,
sayangnya tidak ada… Bahasa Jepang pernah belajar tp ga dilanjutin, (sekarang
intensif ding, 15 jam per minggu), bahasa mandarin juga ga dilanjutin, dah
lupa. Bahasa Arab, aduh.., klo pelajaran bahasa Arab ngantuk terus, jadi ga
bisa.

Terus, karena aku ingin dimaklumi sebagai orang yang masih
awam dgn Jepang, maka di kelas Japanese Religion kukatakan bahwa unfortunately,

Japan

is not my
specialization in my study. Pertanyaan berikutnya dari sensei adalah, “So, what
is ur specialization?” hoo.., simple, tapi berat. Aku enggak punya spesialisasi.
Akhirnya kujawab Timur Tengah, meski kalau misalnya ditanya banyak hal ttg
masalah Timur Tengah, aku juga enggak banyak tahu. Huhuhu..

Lalu ditanya sama sensei bahasa Jepang, “Nani ga suki
desuka?” aku bingung.., aku suka apa ya? “Hon ga suki desu.” Akhirnya itu yg
keluar, aku suka membaca, sebenarnya ga yakin klo aku suka membaca, membaca
Quran sih iya.., target harian sekian lembar insyaAllah terbaca. tp yg lain?
Ayat2 Cinta aja aku ga kelar, Harry Potter juga enggak, banyak yg belum kebaca,
intinya ga pantes dianggap orang yg suka baca. Kalau kubilang hobi nulis,
hohoho.., belum sepenuhnya benar juga, klo lg semangat aja. Btw, akhirnya novel
DS-ku selesai lo.., selesai! Selesai!!

Trus ttg ilmu islam, duh.. ini juga. Kalau ulama2 jaman dulu
pada punya spesialisasi, ada yg bagus di hadits, pokoknya dipelajari sampe
hebat, ahli, keren. Yg spesialis syariah, muamalah, fiqih ibadah, zakat, dll.
Dan sayangnya dua tahun di DS aku juga belum punya spesialisasi, masih
sedikit-sedikit sekali.

Sebagai teman, aku juga teman yg biasa2.., belum merasa
special.

Malu.., malu..

Karena klo dpt tugas ngisi kajian ato AAI paling suka ngasi
materi ttg amalan unggulan. “Udah punya amal unggulan belum? Bilal bisa
terdengar suara terompahnya di surga konon karena konsisten dgn amal
unggulannya menjaga wudhu, lalu apa amalan unggulanmu untuk bisa mengetuk pintu
surga?

Belum terlambat untuk memulai.

Mulai sekarang aku ingin rajin membaca, ingin belajar lebih
baik, ingin jadi teman yang baik, ingin jadi penulis yang rajin, ingin jadi
orang yang special..

Bagaimana berdakwah di negeri orang

Tuesday, November 13th, 2007

    Berhubung aku tk kunjung
melanjutkan novelku yang semakin hari semakin dekat detlennya itu, akhirnya
pagi ini kupaksakan menulis blog yg kutunda dari td malam.

    Td malam seperti biasa, apa coba kebiasaaanku kalau malam? Lapar,
hehehe… Nah, di kala lapar dan akan mencari iro-irona
tabemono
itu bel kamarku berbunyi. Tetangga, nganter makanan.
Alhamdulillah…. Subhanallah, pada saat yg tepat, padahal sudah hamper jam
sembilan malam. Kemaren dulu juga sama, lagi laper-lapernya, nasi belum matang,
nothing to eat, eh pintu juga dibel, ada tetangga sebelahnya lagi nganter ubi
rebus, karbohidrat banget yang lumayan untuk menghilangkan lapar. Oya, pernah
juga ketemu tutor nihon jin, trus

kan

kalau ketemu beliau aku suka mraktekin bahasa jepangku yg masih terbata-bata
itu, “Nani o kaimashitaka?”, udah tau sih, kayanya dia beli kue, asal praktek
aja. Dan belum lama setelah masuk kamar, pintu dibel lagi. Wah, dia
mengantarkan kue yang dibelinya buatku, lumayan…, kata senpai kue2 di Jepang
mahal, semoga aja halal.

 Alhamdulillah,
kadang malu, Allah sudah begitu baiknya padaku tapi belum banyak yang
kulakukan. Masih serba pas-pasan.

 Dugaan
sementara, mereka memberiku karena sebelumnya aku memberi tetangga-tetanggaku
itu. Cuma tringat pesan ummi, dalam dakwah sya’bi, maka minimal sekali kita
harus berbuat baik pada tetangga, nganter makanan misalnya. Jangan sampai tidak
dikenal oleh tetangga, dan kalau dikenal pun, pastikan kita jadi tetangga yang
baik. Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hormatilah
tetanggamu.

 Itu baru
langkah pertama sih untuk mencoba berdakwah di negeri orang. Ya, tujuannya
dakwah di sini mungkin ga muluk-muluk dulu deh. Minimal membuat image baik ttg
islam, muslim. Bahwa kita adalah orang baik, bukan teroris, teman yang
menyenangkan, kalau bisa jadi muslim yang tampak pintar di kelas, all the good
things deh, dll, dll. Lagipula, kadang kalau aku merasa ga pede –selalu ingat
pada pesan bang boim, yakin aja kalau muslim itu, asal dia berprosesor akhlak
islami, pasti disukai oleh orang banyak, akhlak islam itu

kan

bauik banget. Contohnya aja Rasulullah… -jadi teringat apa dulu yg selalu
kupikirkan seandainya Rasulullah masih hidup di zaman ini, di Indonesia, apa
beliau akan selalu mengulurkan tangan untuk pengemis yang begitu banyaknya di
Indonesia, di kampus fisipol, semua saja. Kalau iya, dan kemungkinan besar iya,
maka menyesal sekali kalau aku tidak mengikutinya-

 Tapi untuk
itu pasti tak mudah, kadang kalau sifat pemalu dan pendiamku lagi kumat, kadang
takut menyapa orang, ngajak ngobrol, ngomong di depan kelas, dll yg notabene
kujadikan salah satu bagian dari dakwah di sini. Ya gimana mau dakwah kalo Cuma
diem aja? Udah jauh2 smpe Jepang, je. Iya, iya, tapi susah sekali melawan semua
perasaan itu. Kadang butuh kekuatan sendiri untuk melawan semua itu. Mengingat
bahwa kita sedang berdakwah dengan itu, merindu syafaat Rasulullah di hari yang
tak menentu itu.., hix. Tapi sayangnya manusia, eh aku, terlalu sering lupa
dengan niat, dengan azam, sering tak konsisten, dll.

 Nah,
mungkin tak terlalu penting untuk menulis semua hal di atas, tapi minimal ku
jadi sedikit menulis –tugas panjangku tahun ini adalah menulis, menulis, dan
menulis, katanya milih jalan dakwah ini. Tapi aku juga sering sekali lupa dengan
hal itu, agh..- dan siapa tahu ada yang memberi komen ttg bagaimana bentuk
dakwah yang bisa kulakukan di negeri ini. Kalau gabung ke organisasi muslim..,
itu pasti, karena itu adalah zona nyamanku, dan mungkin saat aku pulang nanti
malah berpikir untuk keluar dari zona nyaman itu. Bergaul dgn lebih luas,
nongkrong di lobi dan kantin yang lama –tidak di maskam, hahaha-, dll deh.
Sekarang mungkin lebih ke syiar islam dulu kali ya..

 Sudah dulu
ah, sekedar mengabarkan, beberapa hari ini

Tokyo

cerah, sunny day, samukunai. Jadi seneng dan berharap musim dingin ga terlalu
dingin. Dan berpikir, apakah dampak pemanasan global bisa membuat musim dingin
menjadi tak dingin? Ah…, senangnya –tidak boleh merasa senang di atas
penderitaan banyak makhluk-.

 Have a nice
day…

Nothing

Friday, November 9th, 2007

Hanya bahagia akhirnya berhasil menemukan bagaimana cara membuat huruf-huruf yang kuketik tidak muncul sebagai tulisan Jepang. yokatta. ya, setelah hampir satu jam mengutak-atiknya tanpa petunjuk yg jelas.

anyway, aku sudah menemukan tempat nyaman untuk mengetik, perpustakaan- tempat yang akan tetap hangat meskipun di luar hujan.

Saat ku sadar, banyak hal yang harus kukerjakan di tahun ini

menulis.., menulis.., dan menulis..

Tentang Janji umur 21

Friday, November 2nd, 2007

Sekarang sudah masuk bulan november, berarti sebentar lagi
aku sudah bukan nijuuisai, sudah duapuluh dua, atau kalau pesan umi, hitunglah
umurmu dua kali lipat, jadi empatpuluh empat, sudah cukup tua untuk ukuran
seorang manusia, dan rasanya malu kalo di umur yang sudah begitu tua belum
dapat apa2. Kalau waktu itu, umi nyontohin belum hafal Quran.. waaa..

Aku selalu ingin punya momentum di hari ulang tahunku, baik ulang tahun hijriah
maupun masehi. Umur tambah, prestasi juga harus tambah. Aku masih ingat bahwa
aku berjanji sudah menyelesaikan novel atau buku pertamaku di hari pertama saat
umurku 21. Dan sayangnya, ga kesampaian juga. Terus berjanji menyelesaikannya
sebelum ke Jepang, ga jadi juga.. Ih payah banget Ayu ini. Dan sekarang,
sepertinya sungguh teramat sangat memalukan kalau diundur setahun pun belum
jadi juga. Akhirnya waktu itu aku bilang, ku ga akan pulang ke

Indonesia

sebelum jadi satu buku. Sementara masih sampai pada kata-kata saja karena
selama satu bulan di Jepang belum pernah sakalipun kubuka file novel DS-ku.

Begitu tanggalan menunjukkan bulan November aku sadar, bahwa
ada janji setahun lalu yang harus segera kutunaikan, tahun ini, saat umurku
menginjak duapuluh dua. Akan ada janji baru yang kubuat di tahun ini, dan berarti
aku harus menyelesaikan janjiku sebelumnya. Mau tahu (beberapa aja) janjiku di
umur 21? Pertama, nyelesein satu buku. Kedua, ga telatan lagi. Ketiga dan selanjutnya? Rahasia!

Yang jelas kedua janji itu belum terlaksana di umurku yang
sudah jalan 21 lebih 11 bulan dan 9 hari. Buku belum jadi, masih sering
terlambat (tp sejak di Jepang sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya). Tapi
selain itu masih banyak yang juga belum terlaksana.

Sudahlah.., sekarang aku akan menulis dulu.., membuka
kembali file novelku yang selama ini aku punya banyak sekali alas an untuk
(sengaja) tidak membukanya. Melupakan ajakan tetangga kamarku untuk weekend jalan2 ke tempat wisata yang indah di Jepang sebagai pelipur ketidakikutsertaan kita ke trip murah Gaidai. Maka, saat  yang lain sedang berkunjung ke Parliamentary House yang aku terlambat mendaftar (baca No More Seat for you) aku berniat untuk menyapa lagi proyek umur 21-ku, menulis.., dan menulis.. hingga janji itu tertunaikan sebelum umurku tak lagi 21.

Semoga kali ini di hari terakhir umur 21-ku aku bisa
menyelesaikan janjiku itu. Kupinjam tanganMu untuk menulis.

                                Bismillahirrahmanirrahim..

Semoga tak hanya untuk mengejar target prestasi dan setoran
karya. Hassan Al Banna sudah berbuat banyak di usia yang 21, malu enggak sih
enggak punya kontribusi di umur 21, Yu?

Sangat teringat sms Lilo sebelum kuberangkat “Katanya mau
nyelesein novel di umur 21, mbak?”