Sebelum tidur, aku hanya ingin menulis pengalaman hari ini.
Kemarin ding, karena tanggalannya kini sudah ganti hari J. Sudah pagi lagi..
Hari ini ku datang ke acara silaturahim keluarga muslim
Jepang. Yang dimaksud di sini adalah keluarga yang suami atau istrinya adalah
orang Jepang dan pasangannya adalah orang
Indonesia
,
ada juga yang bukan
Indonesia
jin ding.
Aku terlambat lagi hari ini. Kesiangan…, ya secara tidak
tidur malem, makanya niatku untuk Cuma buat tidur sejam dua jam pengganti tidur
malem ternyata tidak sesuai harapan. *Ditulis buat pelajaran!! Jangan tidur di
pagi hari, karena itu waktunya malaikat membagikan barakah dan rizki. Yang
tidur enggak kebagian!* Lucu juga menyadari klo sejak di Jepang jadi ikutan
suka lari2an di eki gara2 telat. Kebiasaan telatku kok ga ilang2 ya???
Kembali ke acara silaturahim, karena acaranya menyangkut
Indonesia
,
maka enggak aneh kalo di jalan bakalan ketemu orang yang sebangsa dan setanah
air denganku. Cerita aja, temen senegaraku yang kutemui itu sempat dipelototin
sama kakek2 Jepang. Beberapa kepala lain juga ikut nengok, semua mata menatap
ke arahnya dengan tatapan gimana.. gitu, hanya lantaran beliaunya belum bayar
bis waktu naik. Bagiku bukan kesalahan, mungkin beliaunya
kan
enggak tahu system bis itu, Di Jepang
kan
ada bis yg bayar di depan, ada yang bayar di belakang. Tapi bagi orang Jepang itu
adalah kesalahan!! Orang Jepang tidak suka orang berbuat salah atau berbuat
yang tidak sepantasnya! Kalau ingin berbuat salah di depan orang Jepang
–terutama orang tua, maka siap2lah mendapat tatapan tajam mereka. Aku juga
pernah waktu nyebrang jalan sembarangan dipelototin lama sama nenek2 sepanjang
perjalanan. Ga enak banget deh.
Setelah makan siang, ada kajian dari ustadz. Nihon jin.
Masuk islam 20 tahun yang lalu. Mengenal Islam di Malaysia, belajar keras ttg
Islam, lalu kuliah di Madinah 4 tahun buat belajar Islam. Subhanallah…
Beliau berkisah ttg QS Al ‘Ashr. Demi Masa…
Ah, pas banget sama ketelatanku hari ini. Dulu, waktu aku
terlambat dateng rapat PH FLP (terlambat lagi, ga di Jepang, ga di
Indonesia
–eh, insyaAllah tahun 2008 ga telatan lagi…, amin), yang mimpin rapat langsung
request biar yang tilawah bacanya
surat
Al ‘Ashr! Demi masa, maka kita harus memanfaatkan 5 perkara sebelum
lima
perkara yang lain.
- Sehat
sebelum sakit
Sehat itu subhanallah ya.., klo
sakit kita ga bisa ngapa2in. Makanya pas sehat kita harus banyak beramal kali
ya.., siapa tahu tiba-tiba sakit, terus meninggal tanpa punya amal. Juga klo
lagi banyak kerjaan yg harus dikumpulin, tiba2 sakit, jadi ga bisa ngumpulin.
- Muda
sebelum tua
Masa muda itu masa jaya2nya,
banyak energi, banyak kesempatan, dll. Inget lagi pesen umi yang lain, sebelum
nikah (baca: tua) harus banyak ilmu dulu di masa mudanya. Mau dididik jadi apa
anaknya nanti klo ortunya ga punya ilmu. Makanya klo belum merasa punya banyak
ilmu, enggak usah buru2 pingin nikah. Nikah bukan hal mudah, dan butuh banyak
persiapan. Termasuk pesan abi, kalo mau baca buku cara mendidik anak itu
bacanya waktu belum nikah, jadi klo dah punya anak sudah ‘master’ dalam
mendidik anak. Loh, kok malah ngomongin pernikahan sih! –kenapa? Karena menulis
bagiku adalah menasihati diri sendiri!-
- Kaya
sebelum miskin
Harus banyak infak sebelum ga
punya apa2 buat diinfakin.
- Lapang
sebelum sempit
Inget pesen umi juga, “Ga ada
istilah males2an, klo ga ada kerjaan, inget masih ada Al Qur’an 30 juz yang
belum dihafal..” *oww..oww ..oww*
- Hidup
sebelum mati
Apakah kamu mengira bahwa tidak
akan ada pertanggungjawaban setelah jiwa ini bercerai dengan jasad? Hidup Cuma
sehari atau bahkan setengah hari. Klo bisa memaknai dan berbuat yang terbaik,
akan ada kebahagiaan yang panjaaaang sekali.
Aku sadar sekarang aku hidup di
dunia nyata dengan orang2 yang beraneka ragam pikiran, polah, keyakinan dll.
Suatu hal baru yang dulunya aku hanya hidup di lingkungan yang orang2nya ga
jauh beda denganku. Semua begitu mudah menurut –aku termasuk bandel-, semuanya
begitu getol berlomba melakukan kebaikan, semuanya saling mengingatkan,
semuanya sepertinya tak punya pikiran buat berbuat ketidaktaatan di jalan
Allah. Semuanya terasa begitu damai. Baru di
sana
aku punya pengalaman, satu usulan untuk mencari celah2 kebaikan yang bisa kita
jadikan sarana ibadah besoknya langsung diterjemahkan dengan berlomba
menyeterikakan baju temannya yang buru2 mau berangkat ke kampus dan berlomba2
ngasi tebengan gratis, aman, dan dijamin tidak terlambat. Subhanallah..Bener2
tenang, nyaman, damai. Melabuh damai dalam rengkuhan ridhoNya, sesuai dengan
slogan DS.
Menurut analisaku, bisa jadi ini
karena janji Allah, rumah yang di dalamnya banyak dibacakan Al Quran akan ada
banyak ketenangan. Teman2 yang tinggal bersamaku banyak yang sehari pasti
selesai satu juz, yang lebih pasti juga ada. Subhanallah..
Trus karena ada banyak kajian,
ketenangan juga diturunkan. “Barangsiapa yang berkumpul untuk zikrullah, maka
malaikat akan membentangkan sayapnya di antara mereka dan ketenanganpun
diturunkan pada hati2 mereka.”
Klo kata abi, hatinya yg terus
diisi dengan ilmu akan jadi lembut dan mudah menerima ajakan kebaikan. Kami
dengar dan kami taat. Enggak perlu banyak bertanya, karena kebanyakan orang
yang banyak bertanya malah merugikan dirinya sendiri. Klo Allah yang nyiptain
kita, pasti nyuruhnya kea rah kebaikan. Seperti pencipta televise, dia nyiapin
buku petunjuk apa2 yg kiranya bikin tv itu berfungsi maksimal. Kita pun nurut2
aja baca keterangannya. Enggak pernah bertanya, kenapa kacanya enggak boleh
dipecahin?
Kan
bisa ketemu artis
yang di dalem TV, asyik
kan
?
Kenapa enggak boleh dibanting, dll. Yak arena yang nyiptain TV pasti tau segala
yang terbaik untuk produk ciptaannya. Begitu juga dngen pencipta kita.
Sekarang, aku enggak ada di
negeri indah itu lagi. Saat ternyata ada banyak pertanyaan2 yang ga bisa
kujawab. Kenapa harus begini, harus begitu, mengapa harus solat lima waktu,
mengapa muslim Indonesia yang ga makan babi ttp aja ga sehat dan umurnya
pendek, justru orang jepang yg makan babi sehat2 –klo di buku kuliah Jepang
Dini, Babi mengandung vitamin B- mengapa ga boleh ngliatin rambut perempuan,
kenapa berpakaian seperti itu tidak seperti ini, kenapa enggak boleh salaman,
kenapa enggak boleh pacaran, kenapa harus ini, kenapa harus itu, apa enaknya
ngaji, kenapa terlalu taat, kenapa ga mau kompromi. Banyak sekali pertanyaan
yang perlu dijawab satu persatu. Ga Cuma dari orang non muslim, tp yg muslim
juga, yang ada di dekat kita.
“Kamu
kan
taat, lurus2 aja. Kalo aku enggak bisa gitu..” celetuk teman.
Kenapa enggak bisa? Aku pun bukan
anak yang taat2 banget, suka bandel, suka menentang, memberontak, tp klo memang
benar, apa yang perlu diberontakkan?
“Aku orangnya ga taat, enggak
bisa suruh taat! Aku harus dapet jawaban/alasan pasti sblm mau melakukannya.”
Banyak keluhan serupa.
Abi pernah berkisah ttg filosofi
cahaya. Cahaya matahari itu menjangkau siapapun, kecuali yang berlindung di
balik tembok. Klo yang hatinya ga bisa tersentuh cahaya kebaikan, itu karena
dianya sendiri yang bersembunyi di balik tembok. Cahaya itu harus disongsong.
Keluar dari tembok dan menyambut cahaya. Aku mengandaikan, keluar rumah, kumpul
sama orang soleh, cari majelis2 yang mengingat Allah, itu adalah bentuk usaha
mencari jawaban atas pertanyaan2 itu, mencari cahaya yang dicari. Klo ga mau
melakukan itu semua tp menyalahkan bawaan lahir yang suka bebas, butuh jawaban,
dan suka tidak taat, rasanya lucu juga…
Surga itu mahal, harus dibeli
dengan harga mahal juga.
Tapi aku mungkin juga paham bahwa
itu tak mudah.
Orang bermacam2, ada yang mudah
taat dan mudah melakukannya
Ada
yang mudah menerima kebaikan tp suka males melakukannya
Ada
yang kadang2
Ada
yang ga mau denger dang a mau melakukan.
Aku pusing…, kali ini karena
ngantuk dan belum tidur.. Ternyata dah nulis banyak banget ya! Biarlah, karena
menulis adalah menasihati diriku sendiri…
“Ayo Yu, jadi muslimah yang
taat!!!” Gemes jg klo inget diri yang begitu sering dinasihatin ini masiiih..
juga ga bangkit dan bergerak untuk meraih jannah-Nya. Masih jauh………., tp smg Allah menghitung setiap langkah kecilku
Astaghfirullahal ‘adzim………….