Archive for January, 2008

Intercultural communication

Thursday, January 31st, 2008

Enggak kerasa satu semester di TUFS sudah hampir selesai.
Masih juga mengulang kebiasaan bikin paper di akhir2 deadline. Tapi sekarang
masih mending, ada yang udah selesai kukerjakan sebelum tanggalnya. Kalau dulu

kan

,
dikumpul besok, baru mulai bikin hari ini, lalu enggak tidur semalaman.

Akhirnya tiba juga waktuku untuk nulis blog, tapi kali ini
yang kutulis enggak lain enggak bukan ringkasan kuliah intercultural
communication-ku yang ujung-ujungnya juga buat bahan inspirasi paper. Salah
satu mata kuliah menyenangkan sepanjang  tiga tahun lebih masa perkuliahanku –di samping mata
kuliah ‘jam kosong’, tentunya, hehehe. Dari kuliah ini aku belajar lebih dewasa melihat perbedaan, mencoba memahami arti ketidaksukaanku pada budaya barat dengan sudut pandang yang lebih objectif, mencoba memandang diriku dari sudut pandang budaya lain, dan menyadari bahwa kita diciptakan berbeda-beda, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Dengan kata lain, di manapun tetep ada tugas dakwah di pundak kita. Waktu pertama dateng, bener-bener ngucap subhanallah.., orang itu bisa diciptakan begitu beda-beda ya, bahasanya beda2, warna kulitnya beda2, tipikal wajahnya beda2, isi kepalanya beda2, cara berpakaianya beda2, cara mengungkapkan sesuatu beda2 (ada yang greeting dengan membungkuk, ada yang salaman, ada yang menangkupkan tangan, macem-macem, siapa yang ngajarin ya?)Subhanallah, segala puji bagi Allah yang tak berat sama sekali membuat setiap maklukNya ini begitu berbeda satu sama lain, pun yang lahir kembar.

Baiklah, kita mulai pembicaraan ttg intercultural communication ini dengan ide besar "Respect
you, respect other, respect your culture, and respect other culture."

Pertemuan pertama, kita ngobrol tentang culture.

Ada

yang pernah berpikir tentang hakikat culture? Culture atau budaya adalah
sesuatu yang dipelajari, lalu ditularkan kepada anggota kelompok atau
masyarakat, lalu tanpa disadari mengakar pada diri kita, dan tanpa sadar lagi,
kita tularkan kepada anak-anak kita. Dari pengertian itu aku berpikir, mungkin
orang-orang bule itu suka pake baju buka-bukaan bukan karena keinginannya
sendiri ya? Itu hanya bentukan dari culture. Orang lain di sekitarnya memakai
baju seperti itu, hingga muncul kesepakatan bersama bahwa yang serba terlihat
itu dianggap serba indah, lalu ia menjadi terbiasa, menirunya, kemudian
menurunkannya pada anak cucunya juga. Kasihan ya…

Nah, karena dalam komunikasi intercultural kita juga
dituntung untuk memahami budaya lain, maka kita harus mengenali hal-hal sebagai
berikut, seperti apakah budayamu sendiri? Bagaimana budaya itu mempengaruhi
persepsimu? Lalu bagaimana melihat dunia dengan mencoba pakai sudut pandang
budaya lain.

Sampe di sini aku capek, pingin bobok… ya.. dilanjut besok
aja ya… cuapek.., dan ternyata sebatang coklat besar belum bisa membuatku
kembali bersemangat bekerja.

Bersambung.. semoga besok sudah lebih semangat…

Luka hati

Thursday, January 31st, 2008

"Jagalah hati dan jagalah hati orang lain"
Aku masih ingat pesannya kala itu
Muslim itu bersaudara, hingga ia tak pantas menggurat hati saudaranya
Lalu bagaimana kalau telah tak sengaja aku menggurat sepotong atau dua potong hati?
Ah, maafkan aku…

Dinginnya malam ini 1400 tahun yang lalu

Friday, January 18th, 2008

Dari pagi sampe sekarang 2-3 derajat celcius, dingin. Ini aja masih
dibilang

Tokyo itu kota
panas + ga dingin karena kena dampak pemanasan global. Jadi enggak bisa membayangkan betapa dinginnya
jazirah Arab 1400 tahun yang lalu,belum ada heater, belum ada pemanasan global, saat Rasulullah dan sahabat2nya masih hidup di
sana. Sementara mereka selalu bangun malam, berkeliling tengah malam,
menghabiskan malam dengan shalat dan munajah meski di tengah dingin yang
pastinya berlipat-lipat menggigit. Sedangkan aku? Udah pake heater aja enggak
bangun-bangun malem… Ya Allah, berilah aku (kami..) kekuatan untuk bisa
menghidupkan setiap malamku…

Jadi kangen Indonesia, rumah penuh kedamaian itu,,,

Astaghfirullahal adzim… bismillah

Keutamaan Bulan Muharram

Saturday, January 12th, 2008

Bulan
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang
dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah bulan Dzulqa’dah,
Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Sesungguhnya
jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak
Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah
bulan-bulan haram
” (QS. At Taubah: 36)

Kata
Muharram artinya “dilarang”. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan
Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh
masyarakat Jahiliyah. Pada bilan ini dilarang untuk melakukan hal-hal
seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya.

Kemudian
ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan
sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan
tidak berperang.

Bulan
Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan
Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya
dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan
pula.

Pada
bulan ini tepatnya, tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa
as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan
berpuasa. Kemudian Rasulullah SAW menetapkan puasa pada tanggal 10
Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah SWT.

Masyarakat
Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa Muharram tadinya hukumnya
wajib, kemudian berubah jadi sunnah setelah turun kewajiban puasa
Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ibu Abbas ra, bahwa Nabi
SAW, ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu
hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “Ini adalah hari
yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan
keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada
Allah SWT. Rasulullah SAW, berkata
, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. Daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya
puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan
sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam
.” (HR Muslim)

Walaupun
ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah SAW.
Memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh
Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa
hadits menyarankan agar puasa ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari
sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan.

1. Berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram.

2. Berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal 9 dan 10, atau 10 dan 11 Muharram.

3. Puasa
pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah SAW
memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu
adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau
bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim)

Landasan
puasa pada tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan
berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk
kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain
berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan
lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini
memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan
Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian
juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak
yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat
mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat
mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan
Muhaaram.

Bulan
Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena
itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu
menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk
bermuhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana
ke depan yang lebih baik lagi.

Momentum
perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa
hijrah Rasulullah SAW dan sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Dari
Abu Qatada ra. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, beliau
bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang
telah lewat.
” (HR. Muslim)

Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan
”. (QS. Al Hasyr: 18)


Dicontek dari buletin kmii Jepang


Dakwah, Seni, dan Gaul

Friday, January 11th, 2008

Ini pengalaman kemarin yang belum sempat ditulis. Kebetulan seorang teman mengajak diskusi ttg islam, dakwah, dan seni, topiknya ttg film Ayat-ayat Cinta. Intinya, kadang banyak yang enggak mau menerima seni sebagai bagian dari dakwah. Sou ne… Padahal enggak bisa menafikkan bahwa seni bisa jadi cara dakwah yang efektif. Seni bisa punya kekuatan yang lebih besar dari politik, dalam mempengaruhi orang/masyarakat. Seperti pas tahun 60an, banyak yang tertarik gabung PKI karena pendekatannya lwt Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), ato pas jaman walisongo yang bikin banyak kesenian sehingga membuat orang2 hindu-budha Indonesia tempoe doelo kini bisa menjadi 80% lebih memeluk Islam. Apa kita juga perlu bikin lembaga seni di Jepang dan berpolah aneh2 ya, biar Jepang jadi Negara muslim juga suatu hari kelak..

Jadi ceritanya begini. Pada suatu siang yang aku berniat tidak terlambat masuk kuliah, di jalan aku dihadang sama orang Jepang yang bawa kamera dan mic, kaya acara yang ada di TV-TV itu lo (tuh,

kan

sampe ga bisa nyebutin judulnya, sejak kuliah jarang banget nonton TV-bukan karena rajin belajar lo!). Aku dah jalan nunduk sambil baca, eh, tiba-tiba disamperin. Mungkin karena lihat aku lumayan unik diantara orang-orang Jepang yang dandanannya juga unik abis. Aku jadi panic, aduh, jangan sampe masuk di tivi Jepang deh.., makanya aku buru-buru bilang, “Sumimasen, nihongo amari wakarimasen.”. Tapi kata mereka enggak pa-pa, ya memang sudah bisa sedikit-sedikit mudeng dan ngomong sih, tapi ya masih kore-kore gitu.

Lalu mereka bertanya, “Menurut anda, siapakah orang terkenal di Jepang? Bisa artis, bisa penyanyi, siapa aja.” Aku jadi bingung dan setengah menyesal karena jarang banget menyalakan TV layar datar dengan channel buanyak, yang ada di kamarku, jadi deh.., enggak kenal sama orang-orang terkenal Jepang. Mereka terus mendesak. Sekelebat wajah terbayang, tapi ku ga tahu namanya. Jangankan artis Jepang, artis-artis baru

Indonesia

aja lebih banyak yang enggak kukenal namanya, juga band2 dan judul lagu, jangan tanya padaku juga. “Maaf, bener-bener enggak ingat namanya.”

Mereka tetep ngotot sambil menanyakan cirri-ciri fisiknya, aduh.., enggak inget juga. Pokoknya malu banget, ketauan ga gaul. Dan akhirnya mereka pun nyerah, akupun dilepas dan masuk ke kelas terlambat ^_^.

Baru di kelas, berusaha mengingat2 lagi nama2 artis jepang, akhirnya setelah beberapa saat terlintaslah nama Hideaki Takizawa, taunya itu aja, itu pun karena nontonnya waktu masih SMP, hehehe.., ga gaul ya…

Ya, mungkin perlu juga aku lebih rajin nonton TV (selama tiba-tiba ga liat hasil wawancara siang itu di TV Jepang). Mungkin kalau mau dakwah di kalangan anak gaul, kita pun juga harus tau dunia mereka ya, biar kalau ngobrol enggak tampak ‘tidak gaul dan tidak pintar’ sehingga mereka juga males bergaul sama kita.

Tapi itu bukan kerjaan yang mudah ya.., aku hanya orang biasa yang punya banyak kekurangan dan serba terbatas. Enggak bisa ngerjain banyak hal dan menjadi apa saja dalam waktu yang bersamaan. Makanya memang perlu ada yang namanya pembagian tugas dalam dakwah, pembagian spesialisasi, meskipun memang paling enggak kita tahu sedikit-sedikit ttg bidang lain karena kita

kan

dituntut berwawasan luas juga.

Ternyata.., banyak sekali yang perlu kita lakukan di waktu yang begitu pendek ini ya…

120108

Ketika kusadari orang itu begitu rupa-rupa macamnya. Berbeda itu indah dan akan membuat dunia ini penuh warna dan saling melengkapi. Tapi terkadang kita menganggap beda itu tak indah dan sumber masalah.

Resolusi 2008 M-1429 H

Wednesday, January 9th, 2008

Bismillahirrahmanirrahim…

Kutulis sebuah niat, tadinya ga pingin nulis di blog, tapi inget pernah baca tips untuk menguatkan komitmen salah satunya dengan mengumumkan komitmen kita pada dunia. Misalnya aku yang dulu pernah berkomitmen mau nyelesein novel di milad ke 21, akhirnya baru setelah diingetin Lilo ttg komitmen itu jadi bisa nyelesein di milad ke 22 (meski resminya selesai juga baru dua hari yang lalu…)

Atas permintaan seorang teman, the Lisza, untuk menuliskan resolusi 2008, maka dengan mengucap bismillahirrahimanirrahim.., kutuliskan secara terbuka resolusi 1429 H ku (kenapa kita ga bangga dengan tahun hijriah?)

  1. Enggak telatan lagi,

Ingin segera kumengakhiri penyakit yang satu ini, ‘telatan’, udah dikasih ‘lab’ di Jepang buat belajar tepat waktu kok ya masih telat aja… (kali ini dilarang pake alasan ‘aku cinta

Indonesia

’)

  1. Nambah hafalan minimal 12

    surat

    selama 12 bulan ke depan

Pingin…, meski kadang terbayang begitu berat, tapi semoga Allah memudahkan.

  1. Menghasilkan minimal 1 draft buku lagi di tahun ini

Kalo bisa pingin juga memenuhi janji klub buat nulis buku ‘HI buat pemula’. Aduh, aku sampe lupa berapa banyak hutang menulis di klubku yang belum terlunasi dan selalu ditagih janji2 baru .. (Nanti pulang masih ada klub ya?)

  1. Rajin Membaca

Minimal menyelesaikan baca 24 buku (secara aku sangat jarang membaca buku sampe selesai, kira2 jumlah ini masih terlalu sedikitkah?)

  1. Jadi Nova Ayu Maulita, (calon) Sarjana Ilmu Politik yang selalu up to date sama masalah politik dalam dan luar negeri (klo enggak, malu lah, Yu sama gelar…), nengok berita tiap hari…!
  2. Lulus Nihongo nuryoku shiken level 3

Sebenernya enggak pernah tahu sih, itu model ujiannya seperti apa, tapi harus lebih rajin belajar bahasa jepang, karena kan udah di Jepang!!

  1. Pingin ngerasain dapet IP 4!

Cita-cita aneh! Tapi karena begitu banyaknya anak HI yang langganan IP 4 tiap semester, pingin juga ngerasain barang sekali…, biar semangat belajar lagi. Kenapa ya semakin lama belajar enggak bisa sesemangat waktu dulu lagi?

  1. Lebih rajin, bisa masak, menyambung silaturahim, jadi orang yang suka menolong dan meringankan masalah orang.

    Ada

    yang mau minta tolong? Silakan, semoga bisa bantu ya..

Sementara ini dulu, dikebut sebelum jam 12 malam, bisa jadi nanti diupdate, diperbaiki, atau ditambah.

Ya, Allah.., aku hanya seorang hamba yang lemah, yang ingin menjadi hambaMu yang lebih baik. Mudahkanlah langkahku, ya Allah.

Tuesday, January 8th, 2008

selamat tahun baru hijriyah..

semoga tahun ini kita termasuk orang2 yg diberkahi, termasuk orang2 yg beruntung, dll yg baik2

minasan, kotoshi mo yoroshiku onegai..

ini ada doa awal tahun. telat dikit gpp ya…..

Doa Awal Tahun (Baca 3x):

Bismillaahirohmaani rrohiim. wa shollalloohu ‘alaa sayyidinaa
muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihii wa sallama. Allohumma antal
abadiyyul qodiimul awwalu wa ‘alaa fadhlikal ‘adliimi wujuudikal
mu’awwali wahaadza’aamunjadii dun qod aqbala nas-alukal ‘ishmata fiihi
minasysyaithooni wa auli yaa-ihi wa junuudihi wal ‘auni ‘alaa haadzihil
ammaaroti bissuu-i wal istighooli bimaa yuqorribunii ilaika zulfa yaa
dzal jallali wal ikroom. wa shollalloohu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa
‘alaa aalihi wa shohbihii wa sallama. (3x)

Artinya:

Allah SWT berselawat ke atas penghulu kami Muhammad SAW, ahli
keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka.
Wahai Tuhan, Engkaulah yang kekal abadi, yang qadim. yang awal dan ke
atas kelebihanMu yang besar dan kemurahanMu yang melimpah dan ini
adalah tahun baru yang telah muncul di hadapan kami. Kami memohon
pemeliharaan dariMu di sepanjang tahun ini dari syaitan dan
pembantu-pembantuny a dan tentera-tenteranya dan juga pertolongan
terhadap diri yang diperintahkan melakukan kejahatan dan usaha yang
mendekatkanku kepadaMu Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Wahai Tuhan Yang Maha pengasih dari mereka yang mengasihi dan Allah
berselawat ke atas penghulu kami Muhammad. Nabi yang ummi dan ke atas
ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan kesejahteraan ke atas mereka._

Mau Baito Nulis? Belajar Nulis dulu dong..

Monday, January 7th, 2008

Agh, liburan musim dingin tinggal tiga hari. Berarti enggak
bisa ngenet dari pagi sampai siang lagi seperti biasa hari-hari yang sudah
terlanjur biasa kujalani selama liburan panjang ini. Mulai Juma’at dan
hari-hari berikutnya harus kembali duduk di kelas untuk dapet pelajaran bahasa
Jepang mulai jam 9-12. Paling tidak sehari-dua hari libur terakhir ini aku
harus memasang lagi puzzle-puzzle ingatanku tentang bahasanya Oshin ini biar
bisa ‘on’ di kelas. Lagipula sungguh sedih kalau tinggal di negeri orang yang
kita sama sekali enggak paham orang-orang di sekitar kita ngomong apa, dan juga
enggak ngerti tulisan-tulisan apa yang ditulis di sepanjang jalan (pun
tulisan-tulisan yang ada di kamarku, di petunjuk pemakaian alat elektronik
hingga aku sempet kedinginan di awal musim dingin hanya karena enggak tahu
gimana membuat AC jadi anget, hehehe). Dari sanalah aku sadar betapa berjasanya
guru TK dan SD-ku yang mengajarkan aku membaca dan menulis. “Doumo arigatou gozaimashita.. doumo
arigatou gozaimashita”
(sambil mbungkuk-mbungkuk kaya orang Jepang, sungguh
jadi merasa betapa berharganya program pemberantasan buta huruf di Indonesia
plus betapa berjasanya guru-guru masa kecil kita. Sekaligus kuucapkan terima
kasih juga kepada sensei-sensei nihongo
yang telah membuatku sedikit ngerti kala ada suara-suara percakapan yang lewat
di telinga.)

Kemaren sempet membuat sebuah peta hidup yang akan kujalani
di tahun ini. Salah satunya, mau kembali rajin membaca dan menulis. Mau baito
jadi penulis (ya, meskipun ngirimnya ke Indonesia dan kalau dimuatpun enggak bisa dapet gaji setara gaji baito temen-temenku di sini, 1000 yen/jam = 80 ribu/jam). Tapi
kalau dipikir-pikir juga, enggak ada buruknya jadi penulis. Ada nilai yang mungkin enggak bisa dibayar dengan materi rupiah atau yen. Menulis
itu mencerdaskan diri sendiri dan orang lain. Aku juga biasa menasihati diriku
sendiri dengan menulis. Dan kalau dari kacamata islam, sesuatu yang manfaatnya
bisa terus mengalir dan dirasakan orang lain maka pahalanya akan terus mengalir
meskipun kita sudah meninggal. Anggap saja baito
berdeposito seumur hidup, hehehe.

Kembali pada topic liburan yang tinggal beberapa hari ini.
Seperti hari-hari sebelumnya, tiap habis selesai shalat dhuha, tanganku
langsung refleks nyalain laptop dan langsung bertemu dengan banyak orang Indonesia yang pandai berbahasa Indonesia
di dunia maya (senangnya.. senangnya…). Trus ada seorang teman di milis berkata
dengan bijaksana, “Kawan2 alangkah lebih baiknya kita mulai bediskusi kembali
tentang karya sastra dan kepenulisan. Karena kita adalah komunitas literasi.
Saya terus terang iri dengan milis penulis lepas yang perdebatannya tidak jauh
dari masalah karya tulis. Mari kita mulai di milis kita.”

Jadi penasaran sama yang namanya penulis lepas. Enaknya di
Jepang, setiap nyalain laptop bisa langsung terkoneksi internet tanpa diminta
sekalipun, jadi langsung aja cari di google buat melihat yang namanya penulis
lepas.com. Ketemu! Langsung senyum-senyum sendiri kaya baru nemu tempat wisata
bagus di Jepang. Seneng!.

Begitu menemukan ada tulisan Penulislepas.com, situsnya penulis, aku  yang ‘merasa’ penulis (amatiran) jadi tambah seneng, serasa sampai Disneyland (hari ini temenku pada ke Disneyland dan aku yang enggak ikut, merasa beruntung karena menemukan situs ini sebagai gantinya). Trus di sebelah
kirinya ada kutipan kata-kata bijak dari penulis-penulis besar. Setiap beberapa kali kulihat, kutipannya
selalu udah ganti, tapi semuanya sama MJJ, mak jleb-jleb, dan bikin semangat!
Contohnya. Quote dari Richard Bach, “Seorang penulis profesional adalah seorang
amatir yang tak pernah pension.”. Jadi meskipun aku amatiran, enggak boleh
pension ya, minimal enggak pension nulis blog ini, hehehe.

Di bawahnya ada tawaran untuk dapet newsletter berisi
kiat-kiat dan info-info penulisan yang akan dikirim secara gratis ke email
kita. Langsung aja daftar, dan betapa terkejutnya aku waktu tidak lama kemudian
langsung dapet sebuah email konfirmasi yang cocok banget buat orang-orang yang
narsis dan (kadang-kadang) suka dipuji. Subject email itu “Ayu memang penulis
hebat!”. Aku tersipu-sipu menjawab, “terima kasih.. terima kasih.., iie, mada mada” (ini bahasa jepang yang
diajarin sama sensei kalau kita lagi dipuji n_n). Merasa disanjung dan
tersemangati, jadi langsung seneng deh sama situs ini dan berniat membukanya
tiap hari. Kalau ada yang kebetulan baca blog ini, coba aja buka
BelajarMenulis.com. Sepertinya akan banyak memberi manfaat buat belajar menulis
jarak jauh, apalagi buat yang seperti aku yang berada di negeri kalau ke toko
buku enggak bisa dapet buku-buku berbahasa Indonesia, padahal pingin belajar
menulis lewat mempelajari karya-karya penulis besar yang berbahasa Indonesia.
Kalau pingin bisa menulis memang harus banyak membaca dan belajar menulis. Jadi
kurasa kita memang perlu aktif gabung di komunitas-komunitas keren seperti ini

<a href="http://www.belajarmenulis.com/" target="_blank"><img src="http://www.belajarmenulis.com/images/belajarmenulis468.jpg"alt="Banner 1 BelajarMenulis.com" border="0" height="60" width="468" /></a>

Di sana juga ada
banyak pengumuman lomba (cocok banget buat yang hobi nulis dan pengen cari
tambahan penghasilan lewat berusaha menang lomba *_*),

Ada penguman proyek-proyek penulis lepas yang kayanya wajib dipantau terus. Namanya
juga penulis lepas, makanya harus aktif nyari proyek yang bisa mempekerjakannya
sebagai penulis (sekali lagi menasehati diri sendiri).

Yang bikin senyum-senyum sendiri lagi saat membuka menu Kiat
dan Dunia Penulisan. Ada banyak
tulisan yang memotivasi dan bikin semangat jadi penulis beneran. Mungkin yang
enggak pingin jadi penulis pun bisa tergoda untuk jadi penulis setelah membaca
tulisan-tulisan di sini. Penuh bagi-bagi tips jitu untuk menulis, seperti
pandangan JK Rowling, trus juga pengalaman orang-orang yang lagi sama-sama
belajar nulis seperti kita, semuanya bikin semangat buat menulis.

Pokoknya kalau penasaran buka situ BelajarMenulis.com aja
deh. InsyaAllah tidak akan rugi apalagi menyesal, mungkin juga menyesal
sepertiku, kenapa baru buka situs ini sekarang ya?

Tapi enggak ada kata terlambat untuk belajar, dan kita
memang harus belajar untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Kalau kamu ingin
jadi penulis dan enggak mau belajar, maunya hanya nulis bebas aja, maka jangan
protes kalau karya yang sudah kamu buat capek-capek hanya ditelusuri oleh anak
mata tanpa dibaca, lewat trus ditutup (ato dibuang) begitu aja. Padahal
sebenarnya ada pesan besar yang ingin kamu sampaikan di sana, sayang kan? (aduh.., menohok diri sendiri, kira-kira gimana ya nasib novel pertamaku..).

Buat yang sering nanya ke aku tentang gimana cara menulis
yang baik, uhm.., mendingan sama-sama belajar bareng jadi di komunitas menulis
yang tepat kali ya..

Enggak kerasa udah nulis panjang banget, barusan ada email
masuk dari PJ bulletin KMII, mungkin nagih tulisan. Udah dulu deh, mau memenuhi panggilan
kerja nulis bulletin dulu…

** Semoga apapun yang kutulis bisa memberi sedikit manfaat**

Akhirnya 215 halaman

Sunday, January 6th, 2008

Akhirnya selesai juga karya pertama 215 halaman. Buru2 diselesein karena klo ga aku ga akan ngerjain yang lain. PR dan tugas2 blm dikerjain meskipun liburan panjang dihabisin di kamar tanpa ryokou.
Alhamdullillah, segala puji bagi Allah yang mengizinkanku menyelesaikan tugas klub yang sudah luaamaa pake banget ini.
Mungkin memang ga bagus, karena ini novel pertama, masih belajar, pemula, biasanya cuma cerpen, ga serumit novel.
Mungkin ga bagus juga karena kosakataku ga banyak, memang harus banyak baca buat memperkaya kosa kata
Belum bisa nyisipin puisi2 romantis kaya puisi2nya mbak desi n_n
Anyway, akhirnya selesai juga, sepenggal kisah ttg DS, tentang sebuah renungan sederhana ttg dakwah, kedamaian, persahabatan, dan apa saja yang menjadi pelipur kangen pada DS dan yogya
Udah ah, sudah lewat malam.
Besok gaulnya sama paper, presentasi, dan skripsi (oh..), bukan sama novel lagi

Kenapa harus cumlaude?

Saturday, January 5th, 2008

“Kenapa harus cumlaude?” Tanya seorang teman yang baru
mengabarkan nilai KKN-ku B, alias harapan cumlaude semakin tipiiiisss dan
kayanya hampir ga ada harapan lagi

Aku berpikir, iya ya, kenapa harus cumlaude?

Trus jawab asal, “Karena aku aktivis dakwah akademis (iya ga
ya?)”

“Trus kenapa kalau aktivis dakwah akademis?”

“Ya kan IP
bagus termasuk bagian dari dakwah. Klo masyarakat juga tahu aktivis dakwah bisa
punya IP bagus juga, jadi kesan aktivis dakwah ga melulu dakwah……., rapaaaaaaattttttt, bolos
kuliahhh.., demooo, tapi juga kuliahnya beres, ga bisa diremehkan dengan adanya
predikat cumlaude.

Klo dulu kita di DS juga dipesenin untuk rajin belajar,
karena itu bagian dari dakwah juga. Beda kan rasanya klo dinasihatin sama orang yang IP cumlaude dan IP satu koma? Trus juga
bagian dari dakwah keluarga, masyarakat, dll deh. Lagipula memang seharusnya
klo muslim yang baik kan kerjanya
sungguh2 dan professional, jadi harusnya hasil belajarnya pun memuaskan.

Senang kalo liat muslimah2 yg dpt beasiswa di Jepang,kuliah sampe S2, S3, masih ngurus keluarga, dakwah, dll, dst..
Ato kaya slogan yg pernah kudengar; akhwat sholihat, selalu bersemangat, IP empat (kayanya enggak sih.., cuma biar rimanya dapet), lulus cepat, selamat, dunia akhirat, dambaan umat.

Alasan lain juga untuk menyenangkan orang tua…, sedih klo mbayangin pas
wisuda, semua temenku (baca :adek angkatan yang wisuda bareng sama aku) cumlaude dan kalau aku enggak ..(semoga masih bisa
diperjuangkan), enggak enak sama orang tua karena berarti penurunan prestasi
yang sangat setelah SD-SMP dan SMA yg lumayan gemilang (kejayaan masa
lalu…), udah mahal2 dibiayain kok ga sungguh2 ya,,

Tapi apa iya IP itu menunjukkan hasil belajar? berarti hasil belajarku tdk memuaskan?
Jujur sih, memang kurang rajin belajar/baca buku social politik. Klo
belajar serius baru pas menjelang ujian dan mau ngerjain paper tugas akhir.
Kadang udah belajar pas ujian lupa, ato udah yakin maksimal ternyata nilai tak
sesuai harapan. Dulu nekat ga ambil kejar paket A (ikut kuliah yang insyaAllah
dijamin dapet A, apapun yang kita kerjakan di kelas). Tapi gapapa deh.., yang
penting kan memang udah usaha,
udah belajar, masalah usahanya kurang keras itu memang salahku. Daripada ga ada
usaha, deshou?

Tapi bisa jadi kegagalan itu karena Allah ingin mengajarkan
kepada kita arti kerja keras. (biar bsk2 lebih kerja keras)

Lalu gimana cara biar cumlaude? (niat banget sih ya?)

Ngulang KKN? uhm.., Males banget…, banyak hal lain yang harus
dikerjakan di Yogya daripada tinggal di desa antah berantah selama 2 bulan.

Ngulang kuliah? Oww.., masa harus kuliah bareng sama
angkatan 2006 dan teman2ku sudah pada lulus?

Yang paling mungkin, mungkin hanya berharap nilai skripsi bisa memperbaikinya. Mungkin
Allah membuat nilaiku berada di batas ga jelas ini biar skripsinya, the last
part of my undergraduate session, bisa diisi dengan kesungguhan ya? Memang mau
lulus gini baru kerasa klo belum banyak belajar. Dan mumpung di sini ada banyak
jurnal HI yang bisa dibaca, mungkin aku memang harus rajin baca, belajar, dan
mulai mikir skripsi dengan baik dan benar.

Tapi, tar tunggu dulu, beneran ga sih ga mungkin lulus ga
cumlaude? trus juga klo ilmuku segini-segini aja kok berani2nya berharap cumlaude ya? ga sopan kali ya..

Masih mungkin kok, kan kalau udah usaha maksimal, Allah meridhoi dan menghendaki itu terjadi pasti
akan mudah saja, asal memang harus lebih baik dari keadaan sekarang, masih ada waktu untuk memperbaiki. Toh paling cepat lulus sebelas ato tiga belas bulan lagi. Masih bisa memperbaiki diri.

Btw, aku kok heboh banget buat dapet cumlaude di kuliah ya,
apa kamu enggak takut klo IPK duniamu pas wisuda di akhirat ga cumlaude, Yu?

Aduh.., duh.., duh…
Iya, ya.., jadi takut…

Sekedar diskusi kecil dalam hati.
Hanya karena sudah lama ga nulis blog, lalu apapun akhirnya ditulis.