Intercultural communication
Thursday, January 31st, 2008Enggak kerasa satu semester di TUFS sudah hampir selesai.
Masih juga mengulang kebiasaan bikin paper di akhir2 deadline. Tapi sekarang
masih mending, ada yang udah selesai kukerjakan sebelum tanggalnya. Kalau dulu
kan
,
dikumpul besok, baru mulai bikin hari ini, lalu enggak tidur semalaman.
Akhirnya tiba juga waktuku untuk nulis blog, tapi kali ini
yang kutulis enggak lain enggak bukan ringkasan kuliah intercultural
communication-ku yang ujung-ujungnya juga buat bahan inspirasi paper. Salah
satu mata kuliah menyenangkan sepanjang tiga tahun lebih masa perkuliahanku –di samping mata
kuliah ‘jam kosong’, tentunya, hehehe. Dari kuliah ini aku belajar lebih dewasa melihat perbedaan, mencoba memahami arti ketidaksukaanku pada budaya barat dengan sudut pandang yang lebih objectif, mencoba memandang diriku dari sudut pandang budaya lain, dan menyadari bahwa kita diciptakan berbeda-beda, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Dengan kata lain, di manapun tetep ada tugas dakwah di pundak kita. Waktu pertama dateng, bener-bener ngucap subhanallah.., orang itu bisa diciptakan begitu beda-beda ya, bahasanya beda2, warna kulitnya beda2, tipikal wajahnya beda2, isi kepalanya beda2, cara berpakaianya beda2, cara mengungkapkan sesuatu beda2 (ada yang greeting dengan membungkuk, ada yang salaman, ada yang menangkupkan tangan, macem-macem, siapa yang ngajarin ya?)Subhanallah, segala puji bagi Allah yang tak berat sama sekali membuat setiap maklukNya ini begitu berbeda satu sama lain, pun yang lahir kembar.
Baiklah, kita mulai pembicaraan ttg intercultural communication ini dengan ide besar "Respect
you, respect other, respect your culture, and respect other culture."
Pertemuan pertama, kita ngobrol tentang culture.
Ada
yang pernah berpikir tentang hakikat culture? Culture atau budaya adalah
sesuatu yang dipelajari, lalu ditularkan kepada anggota kelompok atau
masyarakat, lalu tanpa disadari mengakar pada diri kita, dan tanpa sadar lagi,
kita tularkan kepada anak-anak kita. Dari pengertian itu aku berpikir, mungkin
orang-orang bule itu suka pake baju buka-bukaan bukan karena keinginannya
sendiri ya? Itu hanya bentukan dari culture. Orang lain di sekitarnya memakai
baju seperti itu, hingga muncul kesepakatan bersama bahwa yang serba terlihat
itu dianggap serba indah, lalu ia menjadi terbiasa, menirunya, kemudian
menurunkannya pada anak cucunya juga. Kasihan ya…
Nah, karena dalam komunikasi intercultural kita juga
dituntung untuk memahami budaya lain, maka kita harus mengenali hal-hal sebagai
berikut, seperti apakah budayamu sendiri? Bagaimana budaya itu mempengaruhi
persepsimu? Lalu bagaimana melihat dunia dengan mencoba pakai sudut pandang
budaya lain.
Sampe di sini aku capek, pingin bobok… ya.. dilanjut besok
aja ya… cuapek.., dan ternyata sebatang coklat besar belum bisa membuatku
kembali bersemangat bekerja.
Bersambung.. semoga besok sudah lebih semangat…