Semester pertama di gaidai sudah berakhir. Cepat sekali
rasanya. Sebagian anak program exchange yang datang bulan April lalu akan
pulang. Berarti semester depan gentian aku yang akan pulang. Sejenak jadi
membayangkan, mencoba mempersiapkan diri dan berangan-angan bahwa aku juga akan
menghadapi hari ketika harus berkemas, memasukkan barang-barang dalam koper,
mengatur jadwal pulang, dan kembali harus mengalami sebuah kata perpisahan.
Banyak yang menawarkanku agar setelah pulang nanti kembali lagi ke Jepang.
Ajakan itu yang kemudian membuatku berpikir ulang tentang makna sebuah negeri
impian.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengaku ingin segera
mengakhiri masa kunjungnya di Jepang dan ingin kembali ke
Indonesia
yang gemah ripah loh jinawi itu. Satu hal yang aneh menurutku, karena kutahu
Jepang bisa dikatakan sebagai negeri impiannya sejak dulu kala. Kenapa malah
sekarang ingin pulang, padahal belum genap enam bulan. Saat temanku itu
mencurhatkan inginnya itu, satu teman lagi langsung mengatakan sedang mengalami
hal yang sama, ingin pulang saja, padahal keduanya dulu sangat-sangat
mengimpikan bisa hidup di negeri sakura ini. Lalu aku menanyakan pada diriku
sendiri, ah biasa aja, di jepang seneng, pulang pun juga seneng. Sambil nyanyi
Di sini senang di
sana
senang di
mana-mana hatiku senang.
Dulu aku tidak pernah terbayang untuk hidup bisa ke Jepang.
Tadi waktu di densha, aku juga jadi mikir, kok bisa ya aku nyampe Jepang? Ya,
mungkin garis hidupku sudah begitu. Kalau enggak ditakdirkan pasti enggak akan
sampai ke Jepang juga. Sejujurnya salah satu alasan ke Jepang adalah untuk
melarikan diri sejenak dari segala kebosanan atas rutinitas di Yogya. Saat itu
sedang bosan dengan masalah di organisasi, bosan karena aku selalu ngantuk di
kelas saat pelajaran, sedih rasanya. Bosan dengan rutinitas kuliah, bosan
dengan suasana di agenda satu mingguanku, bosan dengan rutinitas yang setiap
hari begitu-begitu saja. Lalu tiba-tiba di H-1 deadline pengumpulan sebuah
tawaran beasiswa, ada dorongan semangat yang tiba-tiba muncul. Membisikkan
bahwa mungkin aku memang ditakdirkan untuk ke Jepang. Kebetulan batas
pengumpulan diperpanjang, lalu aku apply, berdoa, dan akhirnya berangkat deh ke
Jepang. Bisa dikatakan hanya kebetulan saja aku ada di sini. Apakah akan
kembali ke sini setelah lulus kuliah aku masih belum tahu. Seandainya bisa
dapat beasiswa pasti bagus, paling tidak aku bisa hidup sejahtera tanpa banyak
berpikir. InsyaAllah uang beasiswa cukup untuk hidup dengan layak di Jepang.
Sekolah dibayarin, tinggal dateng ke kelas, belajar, ujian, nunggu lulus.
Apalagi perasaan pelajaran di sini enggak seberat pelajaran-pelajaran politikku
di UGM. Eh, enggak tahu yang sebenarnya ding, ini hanya sebatas pengalaman
kelas ISEP dan kelas S2 Peace and Conflict Studies yang aku ikuti. Kadang
berpikir xenophobia, bahwa yang dari luar negeri selalu lebih baik daripada
produk dalam negeri. Apa benar lulusan politik Jepang akan lebih bagus daripada
lulusan UI ato UGM? Sementara aku tahu Jepang tak pernah disebut-sebut sebagai
sumber belajar ilmu politik. Kalau ilmu sainsnya memang enggak diragukan, tapi Jepang
untuk belajar politik? Uhm…, jadi berpikir lagi apa kualitas keilmuan yang
kumiliki nanti memang lebih baik daripada bila itu diasah di
Indonesia
, atau aku hanya sekolah untuk mengejar gelar luar negeri saja? Biar nampak
keren, lalu jadi bagian dari CV buat kampanye jadi aleg? Enggak boleh
kan
kalau niatnya seperti itu? Kecuali niatnya memang untuk dakwah, dll yang lebih
syar’i. Untuk itulah aku belum bisa memastikan apakah nanti akan kembali untuk
melanjutkan hidup di Jepang. Hehehe. Just wait and see. Hahaha, aku tiba2 jadi
ingat pada tokoh novelku sendiri yang tak kunjung bisa memutuskan apa ia akan
pergi ke Jepang atau enggak.
Lalu pikiranku melayang pada Yogya. Kalau di novelku,
tokoh-tokohnya sepakat bahwa kebahagiaan itu ada di sini, di Yogya, buat apa
pergi kalau kebahagiaan sudah ditemukan di sini. Maka apakah Yogya adalah
negeri impianku yang sebenarnya? Lalu aku mencoba mengais ingatan masa lalu
lagi. Sebenarnya juga dulu aku tak ingin ke Yogya. Yogya itu ndeso, hehehe. Aku
sungguh ingin ke UI, sepertinya orangnya militan2. Tapi karena enggak dapat
izin, maka setahun pertama aku berusaha untuk mencintai Yogya, dan berhenti
menyesalinya. Dan akhirnya setahun kemudian, saat aku sudah banyak belajar di
FLP Yogya lalu disusul menemukan sebuah rumah kedamaian, aku benar-benar jatuh
cinta pada Yogya dan bersyukur bisa tinggal di kota itu, hingga aku enggak
terlalu sedih untuk menghabiskan hari-hari libur di Yogya saja, tidak pulang ke
rumah. Hingga sampai saat ini yang kurindukan adalah Yogya, terutama satu titik
kecil di Mlati, Sleman.
Lalu tadi chat sama temen di Mesir. Wah, jadi ingin ke
Mesir. Negeri di mana banyak sekali orang yang hafal Qur’an. Aku selalu ngefans
sama hafidz dan hafidzah juga yang punya gelar Lc, lulusan Al Azhar University.
Negeri yang di bis-bisnya orang-orang biasa baca Qur’an, negeri yang dekat
dengan jejak-jejak para nabi, jadi pingin ke
sana
…
Tapi sebelum ke Mesir, lebih pengin lagi ke Mekah, naik haji, berziarah ke
tempat Rasulullah pernah hidup, menjejak tanahnya, mengelilingi ka’bahnya.
Lalu waktu kemarin dipaksa untuk curhat, aku hanya bilang,
di Jepang aku kok hima banget ya dibandingkan dengan segala kesibukanku dulu di
Yogya. Saat membayangkan nanti akan pulang, aku berpikir kalau aku akan kembali
pada kesibukan membina, mengejar mutarabbi untuk janjian ketemuan, mengurusi
segala urusan organisasi dan amanah lain, hpku akan kembali penuh sms undangan
rapat, dll, dst. Lalu dengan bijak seorang mbak bilang, “Ya, di sinilah mungkin
waktunya Ayu untuk istirahat sejenak. Ibarat seorang tukang kayu, enggak baik
bila ia terus menerus bekerja tanpa berhenti. Di sini harus dimanfaatkan untuk
menghirup udara segar, menyuplai energi dan semangat, untuk kemudian berlari
kembali setelah kembali ke
Indonesia
.
Harus berkarya lebih baik dari sebelumnya, lebih semangat, lebih optimal.” Aku mengangguk-angguk.
Mungkin itu benar. Paling enggak aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan
novel, punya waktu untuk merenung lewat lbh banyak menulis, belajar masak, (hehehe),
mungkin juga agar punya waktu yang tenang untuk menulis skripsi yang baik dan
benar. Harusnya mungkin ditambah menambah hafalan dengan lebih efektif ya…, ayo
dong semangat, Yu!
Liburan dua bulan sudah di depan mata. Tinggal dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya. Sebelum waktu luang itu berganti dengan kesibukan. Sebelum
nanti aku akan pulang kembali ke negeri impian.
Ngomong-ngomong ttg negeri impian, jadi terpikir bahwa nanti
akan tiba saat akan menuju negeri impian, negeri abadi yang didalamnya mengalir
sungai-sungai jernih, di dalamnya bertaburan keindahan yang tak pernah terkira,
wajah-wajah yang tampan, cantik, dan indah dipandang mata, kenikmatan yang
tiada tara, ucapan salam dan kata-kata lembut yang menyenangkan. Ah, bisakah
aku mencapai negeri impian itu? Ya Allah, izinkanlah aku hidup di dalamnya,
dengan ridhoMu.