Archive for February, 2008

Maunya Apa sih, Yu?

Wednesday, February 27th, 2008

"Apa sih yang bikin enggak betah di Jepang?" tanya seorang teman.
Apa ya? karena enggak ada DS dan teman-temanku yang dulu tinggal bersama di sana, shalat jamaah, murajaah dan setoran hafalan (meski sesi ini dulu terasa mengerikan, tapi ternyata kangen juga), pelajaran, makan bareng, juga kalau liat orang-orang baik di sana, kayanya inspirasi berbuat baik enggak habis-habis deh. Kalau di sana, aku anak nakal atau yang termasuk biasa2 saja, karena banyak yang jauh dan jauh lebih baik dari aku.

Lalu tadi baca milis, ada kesempatan exchange ke Jepang lagi, kali ini ada 2 kesempatan, bisa dateng pas musim gugur, bisa juga pas musim semi. Detlennya masih bulan desember,berarti aku sudah pulang dan musim semi bisa ke Jepang lagi setelah selesai sidang skripsi, wisuda enggak penting, yang penting dinyatakan lulus. Aku langsung girang, berarti bisa apply lagi dong.

Sejenak berpikir, berarti dari 3,5 tahun kuliah bisa nambah 2 tahun exchange ke Jepang, total 5,5 tahun kuliah S1. Mendingan S2 kali ya.. Sejenak berpikir, aneh…, Ayu aneh.., sebenarnya apa maumu sih, Yu? mau ke Jepang lagi? apa mau di Indonesia aja dan melakukan sesuai rencana sebelumnya? atau belajar bahasa Arab terus ke Mesir? duh, entah lah…

Hikmah Hari Ini?

Friday, February 22nd, 2008

Pagi ini aku berencana bersilaturahim ke rumah seorang sahabat. Di sini
jadi seneng silaturahim (udah bisa dibilang seneng belum ya?). Padahal
di Indonesia item mutabaah yg paling sering kosong adalah amalan
silaturahim. lalu seperti biasa, aku jadi satu-satunya yang masih
single -sama sekali tidak bermaksud promosi, hanya menjelaskan betapa
aku sering -sengaja atau tidak- kumpulnya selalu dengan orang-orang
dewasa-. Tentu saja kami tidak mengobrol politik, tapi mengobrol hal yg
ternyata lebih menarik perhatianku, cara memasak masakan ini dan itu,
masalah mendidik anak, menjaga kesehatan saat hamil dan menyusui,
kesehatan anak dan ibu melahirkan, dan pokoknya bikin aku jadi banyak
tau lebih awal, hehehe. Apalagi selalu hadir akachan-akachan yang ikut
meramaikan acara kumpul-kumpul itu, dimanapun itu! Sebelum pergi, kami
juga sempat menengok adik yang baru berumur 21 hari, baru lahir..

Setelah itu, kembali melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan
kereta. Waktu-waktu diam di kereta adalah waktu-waktu untuk berpikir,
waktu dimana kadang-kadang renungan tentang hidupku muncul berkelebat
lalu menjadi buah pikiran.

Hari ini aku kembali berpikir bahwa aku harus memanfaatkan waktuku
untuk menulis selama liburan ini, tentunya juga harus dengan acara
jalan-jalan. Setelah novel ttg kisah Mita, seorang gadis ceroboh yang
begitu mencintai Yogya, kali ini aku ingin menulis ttg kisah lika liku
dan romantisme dakwah di negeri sakura. Jangan ngomong aja, Yu,
buktikan dgn nyata, ada tulisannya! Tujuannya? dakwah, insyaAllah.
Beberapa kali baca novel2 umum Indonesia yg kata orang2 novel2 itu
adalah novel2 bagus, tp ternyata menurutku enggak bagus, teknik
penceritaannya biasa aja, malah bikin pikiran tercemar dan ga sehat
(banyak cerita vulgar yg kelewat vulgar). Nah, lalu mengobrol dengan
sahabatku Mbak Desi -ya, sahabat, karena dengannya lah, hampir tiap
hari aku mengobrol panjang, termasuk menghabiskan siang bersama di
Taman Pintar, halah..- katanya dia menulis karena ingin menghasilkan
bacaan yang bagus buat adek kesayangannya. Kalau enggak ada FLP,
penulis2 FLP yg menghasilkan bacaan berbau kebaikan, maka mungkin anak2
seperti Lia akan membaca novel-novel ‘tidak mencerdaskan’ yg tadi
kuceritakan.

Kok, nulisnya jadi kemana-mana sih? Intinya, hanya ingat bahwa aku
harus bekerja keras untuk bisa berdakwah lewat tulisan itu, meskipun
kecil, tapi kan kita sedang berjual beli dengan Allah ya. Dakwah tak
butuh aku, tanpa akupun kereta dakwah akan berjalan kencang dan
mencapai kemenangannya. Tapi apakah aku mau jadi orang yang sama sekali
tidak menyumbangkan apapun dalam kemenangan itu? kemana aja, Yu?
.
Tapi juga bukan itu yang akan kutuliskan. Tadi juga sempat terpikir
apakah tokoh novelku itu- si ceroboh Mita memang aku ya? Jadi ceritanya
tadi aku mau ngisi pasmo. Eh, dompetku ternyata ga ada, dimana???
hilang? terakhir aku masih bisa bayar bis pake uang receh, lalu dimana
dompetku? ketinggalan di bis? oh, tidak.., kutengok ke luar, ternyata
bis sudah kembali berjalan meninggalkan stasiun. Aduh, gimana nasib
dompetku? uang buat pulang? juga surat-surat penting di dalamnya??? Ih,
kalau gini Ayu jadi kaya Mita banget, ceroboh!

Mbak Silvi yang lagi beli tiket di sampingku ikut bingung, duh.., gimana??
Lalu tiba-tiba beliau ditelpon, aku ga peduli. dompetku gimana???

Ternyata yang telpon Hana san, dompetku ketinggalan di masjid, dan akan
diantar ke stasiun. ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIN…., subhanallah…,
Allah menolongku dgn tidak terlalu lama membuatku khawatir. Ya Allah..
Dan tak lama, Hana san pun muncul membawakan dompetku. Alhamdulillah…

Begitu pulang aku langsung nyalain laptop, mbak Desi online, lalu
kuceritakanlah pengalamanku hari ini. Lalu seperti biasa, Desi memarahi
Mita yang ceroboh. (baca: Mbak Desi memarahi Ayu yang ceroboh, Desi dan
Mita adalah tokoh fiktif). Lalu ada teman lain yang mengajakku ngobrol,
menyeretku masuk dalam chatnya dengan mbak-mbak yang lg curhat padanya.
Mbak2 itu tinggal serumah sama cowok2, mengerikan bukan? Lalu temanku
itu memintaku untuk membantu biar mbaknya kembali ke jalan yang benar.
Sebelumnya aku sudah memperingatkan, mungkin mbak itu bohong, hanya
cari bahan pembicaraan hanya agar bisa mengobrol dengannya. Lalu
kuperingatkan juga, bahwa perempuan tak suka masalahnya dicampuri orang
lain yg tidak dikehendaki (perempuan atau aku ya??), dan beberapa macam
peringatan lain. Tapi akhirnya aku chat juga sih sama si mbak itu. Dan
ternyata??? mbak itu dalam chatnya denganku mengaku sebagai mas,
laki-laki, oh…, tertipu deh kita!!! Pelajaran, jangan terlalu polos
dan percaya dengan orang yg tidak dikenal dalam chat di dunia maya!

Udah, nulis itu ajah, catatan hari ini. Biar ga lupa, kenangan yg
mengikat hari selama di Jepang. Ilmu dan hikmah itu harus diikat dengan
tulisan. Atau seperti kata mbak Sita, semoga semua ini nanti akan ada
artinya… Dan yang lebih penting lagi, semua kejadian itu pasti ada
hikmahnya, dan sudahkah kita menjadi orang-orang yang mengambil
pelajaran dari hikmah setiap peristiwa? pelajaran dan ujian yang tiap
hari Allah berikan untuk kita… Ya, semoga kita bisa selalu
memaknainya..

Malam ini bulan indah ya..

Thursday, February 21st, 2008

Hanya merasa hari ini sedikit lebih baik dari kemarin, atau dua hari
kemarin. Pasalnya hari ini aku keluar menghirup udara segar dan merasa
dunia ini begitu cerah. Membuat perasaanku jauh lebih baik daripada
pada hari-hari yang kuhabiskan dalam sepetak kamarku, duduk, menunggu
email masuk, membalas, dan mengawali kalimat-kalimat awal proyek bukuku.

Setelah kemarin disarankan untuk jalan-jalan oleh teman-teman yang
bertemu di YM, akhirnya pagi tadi kubulatkan tekad untuk menghabiskan
hari ini dengan jalan-jalan di berbagai tempat. Tujuan pertama ke
Harajuku, cuma pingin lihat seperti apakah sebenarnya Harajuku itu?
udah satu semester belum pernah nginjak Harajuku. Sebenarnya juga
karena ingin nyari taman yang bisa buat duduk, membaca, dan menulis,
lalu kebetulan di Harajuku ada Yoyogi Park, kupikir aku bisa
duduk-duduk dengan nyaman di sana.

Matahari pagi bersinar cerah, musim dingin sepertinya sudah mulai
terusir perlahan, hangat mulai terasa. Sinar matahari menembus hangat
lewat jendela kereta ke Shinjuku. Lalu akupun tersenyum mengiyakan,
pergi dan beraktivitas seperti ini pasti akan membuat pikiranku lebih
segar dan sehat. Kejutan pertama, disapa sama Muslimah Jepang
berjilbab. Senangnya… Lalu setelah sampai di Harajuku, ternyata
banyak orang kulit hitam ya, dan dua di antara mereka mengucapkan
salam, assalamu ‘alaikum. Senangnya lagi… Di Harajuku aku terjebak
belanja, maka belanjalah aku, barang-barang yang dibeli pas romantis
mode on, jadinya aku beli kertas ada lope-lopenya, lalu coklat (meski
aku harus berhenti makan coklat, tp gara2 nemu coklat dengan label
halal malaysia, aku tak kuasa untuk tak membelinya), lalu kertas kado
pink, dan lakban pink, (bawaannya dah mikir pulang, dan pasti nanti
butuh lakban, lagipula lucu kalau warnanya pink), oleh2 buat ponakan,
dll. Lalu asal jalan aja dan nemu toko sepatu, teringat ibuku yang
pingin dibeliin sepatu di Jepang. Jadilah kubeli sepatu juga, untung
enggak beli yang pink juga, hehehe.

Setelah selesai belanja, -andai bawaanku ga banyak dan berat plus masih
bawa uang aku khawatir masih akan melanjutkan sesi belanja- aku mencari
Yoyogi Park. Karena sok tahu, akhirnya nyasar dan jalan sampai jauh.
Alhamdulillah nemu Yoyogi Park juga, tapi ternyata ga gitu bagus,
makanya enggak lama-lama di sana, cuma numpang makan siang lalu pergi
lagi.

Setelah mengalami beberapa kali salah naik kereta, akhirnya aku nyampe
di Edo Tokyo Musium. Masuk lah ke sana dengan bawaan berat yang bikin
enggak enak buat jalan dan ga bebas bergerak buat ambil foto, plus
enggak ada yang motoin aku karena perginya sendirian. Sebelum pulang ku
mampir ke sungai deket sana, baca buku dan baca Qur’an dan terjemahnya,
sambil makan coklat yang tadi kubeli. Romantis dan berhasil
mendatangkan inspirasi menulis, hehehe. Mungkin besok-besok asyik ya
kalau nulis dan bacanya di alam terbuka gini. Karena semakin sore
anginnya semakin dingin, akhirnya pulang deh. Enggak jadi sampe malam
karena sudah capek. Sampai di asrama, liat bulan purnama, indah
sekali…, ya ya ya.., hari ini rasanya lebih indah. Seandainya enggak
dingin, maka aku pingin baca buku di luar beranda aja sambil ngeliatin
bulan. ihi…
Udah, nulis itu aja. Buat laporan ke Mbak Desi kalau hari ini aku dah jalan-jalan.

Negeri Impian

Sunday, February 17th, 2008

Semester pertama di gaidai sudah berakhir. Cepat sekali
rasanya. Sebagian anak program exchange yang datang bulan April lalu akan
pulang. Berarti semester depan gentian aku yang akan pulang. Sejenak jadi
membayangkan, mencoba mempersiapkan diri dan berangan-angan bahwa aku juga akan
menghadapi hari ketika harus berkemas, memasukkan barang-barang dalam koper,
mengatur jadwal pulang, dan kembali harus mengalami sebuah kata perpisahan.
Banyak yang menawarkanku agar setelah pulang nanti kembali lagi ke Jepang.
Ajakan itu yang kemudian membuatku berpikir ulang tentang makna sebuah negeri
impian.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengaku ingin segera
mengakhiri masa kunjungnya di Jepang dan ingin kembali ke

Indonesia

yang gemah ripah loh jinawi itu. Satu hal yang aneh menurutku, karena kutahu
Jepang bisa dikatakan sebagai negeri impiannya sejak dulu kala. Kenapa malah
sekarang ingin pulang, padahal belum genap enam bulan. Saat temanku itu
mencurhatkan inginnya itu, satu teman lagi langsung mengatakan sedang mengalami
hal yang sama, ingin pulang saja, padahal keduanya dulu sangat-sangat
mengimpikan bisa hidup di negeri sakura ini. Lalu aku menanyakan pada diriku
sendiri, ah biasa aja, di jepang seneng, pulang pun juga seneng. Sambil nyanyi
Di sini senang di

sana

senang di
mana-mana hatiku senang.

Dulu aku tidak pernah terbayang untuk hidup bisa ke Jepang.
Tadi waktu di densha, aku juga jadi mikir, kok bisa ya aku nyampe Jepang? Ya,
mungkin garis hidupku sudah begitu. Kalau enggak ditakdirkan pasti enggak akan
sampai ke Jepang juga. Sejujurnya salah satu alasan ke Jepang adalah untuk
melarikan diri sejenak dari segala kebosanan atas rutinitas di Yogya. Saat itu
sedang bosan dengan masalah di organisasi, bosan karena aku selalu ngantuk di
kelas saat pelajaran, sedih rasanya. Bosan dengan rutinitas kuliah, bosan
dengan suasana di agenda satu mingguanku, bosan dengan rutinitas yang setiap
hari begitu-begitu saja. Lalu tiba-tiba di H-1 deadline pengumpulan sebuah
tawaran beasiswa, ada dorongan semangat yang tiba-tiba muncul. Membisikkan
bahwa mungkin aku memang ditakdirkan untuk ke Jepang. Kebetulan batas
pengumpulan diperpanjang, lalu aku apply, berdoa, dan akhirnya berangkat deh ke
Jepang. Bisa dikatakan hanya kebetulan saja aku ada di sini. Apakah akan
kembali ke sini setelah lulus kuliah aku masih belum tahu. Seandainya bisa
dapat beasiswa pasti bagus, paling tidak aku bisa hidup sejahtera tanpa banyak
berpikir. InsyaAllah uang beasiswa cukup untuk hidup dengan layak di Jepang.
Sekolah dibayarin, tinggal dateng ke kelas, belajar, ujian, nunggu lulus.
Apalagi perasaan pelajaran di sini enggak seberat pelajaran-pelajaran politikku
di UGM. Eh, enggak tahu yang sebenarnya ding, ini hanya sebatas pengalaman
kelas ISEP dan kelas S2 Peace and Conflict Studies yang aku ikuti. Kadang
berpikir xenophobia, bahwa yang dari luar negeri selalu lebih baik daripada
produk dalam negeri. Apa benar lulusan politik Jepang akan lebih bagus daripada
lulusan UI ato UGM? Sementara aku tahu Jepang tak pernah disebut-sebut sebagai
sumber belajar ilmu politik. Kalau ilmu sainsnya memang enggak diragukan, tapi Jepang
untuk belajar politik? Uhm…, jadi berpikir lagi apa kualitas keilmuan yang
kumiliki nanti memang lebih baik daripada bila itu diasah di

Indonesia

, atau aku hanya sekolah untuk mengejar gelar luar negeri saja? Biar nampak
keren, lalu jadi bagian dari CV buat kampanye jadi aleg? Enggak boleh

kan

kalau niatnya seperti itu? Kecuali niatnya memang untuk dakwah, dll yang lebih
syar’i. Untuk itulah aku belum bisa memastikan apakah nanti akan kembali untuk
melanjutkan hidup di Jepang. Hehehe. Just wait and see. Hahaha, aku tiba2 jadi
ingat pada tokoh novelku sendiri yang tak kunjung bisa memutuskan apa ia akan
pergi ke Jepang atau enggak.

Lalu pikiranku melayang pada Yogya. Kalau di novelku,
tokoh-tokohnya sepakat bahwa kebahagiaan itu ada di sini, di Yogya, buat apa
pergi kalau kebahagiaan sudah ditemukan di sini. Maka apakah Yogya adalah
negeri impianku yang sebenarnya? Lalu aku mencoba mengais ingatan masa lalu
lagi. Sebenarnya juga dulu aku tak ingin ke Yogya. Yogya itu ndeso, hehehe. Aku
sungguh ingin ke UI, sepertinya orangnya militan2. Tapi karena enggak dapat
izin, maka setahun pertama aku berusaha untuk mencintai Yogya, dan berhenti
menyesalinya. Dan akhirnya setahun kemudian, saat aku sudah banyak belajar di
FLP Yogya lalu disusul menemukan sebuah rumah kedamaian, aku benar-benar jatuh
cinta pada Yogya dan bersyukur bisa tinggal di kota itu, hingga aku enggak
terlalu sedih untuk menghabiskan hari-hari libur di Yogya saja, tidak pulang ke
rumah. Hingga sampai saat ini yang kurindukan adalah Yogya, terutama satu titik
kecil di Mlati, Sleman.

Lalu tadi chat sama temen di Mesir. Wah, jadi ingin ke
Mesir. Negeri di mana banyak sekali orang yang hafal Qur’an. Aku selalu ngefans
sama hafidz dan hafidzah juga yang punya gelar Lc, lulusan Al Azhar University.
Negeri yang di bis-bisnya orang-orang biasa baca Qur’an, negeri yang dekat
dengan jejak-jejak para nabi, jadi pingin ke

sana


Tapi sebelum ke Mesir, lebih pengin lagi ke Mekah, naik haji, berziarah ke
tempat Rasulullah pernah hidup, menjejak tanahnya, mengelilingi ka’bahnya.

Lalu waktu kemarin dipaksa untuk curhat, aku hanya bilang,
di Jepang aku kok hima banget ya dibandingkan dengan segala kesibukanku dulu di
Yogya. Saat membayangkan nanti akan pulang, aku berpikir kalau aku akan kembali
pada kesibukan membina, mengejar mutarabbi untuk janjian ketemuan, mengurusi
segala urusan organisasi dan amanah lain, hpku akan kembali penuh sms undangan
rapat, dll, dst. Lalu dengan bijak seorang mbak bilang, “Ya, di sinilah mungkin
waktunya Ayu untuk istirahat sejenak. Ibarat seorang tukang kayu, enggak baik
bila ia terus menerus bekerja tanpa berhenti. Di sini harus dimanfaatkan untuk
menghirup udara segar, menyuplai energi dan semangat, untuk kemudian berlari
kembali setelah kembali ke

Indonesia

.
Harus berkarya lebih baik dari sebelumnya, lebih semangat, lebih optimal.” Aku mengangguk-angguk.
Mungkin itu benar. Paling enggak aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan
novel, punya waktu untuk merenung lewat lbh banyak menulis, belajar masak, (hehehe),
mungkin juga agar punya waktu yang tenang untuk menulis skripsi yang baik dan
benar. Harusnya mungkin ditambah menambah hafalan dengan lebih efektif ya…, ayo
dong semangat, Yu!

Liburan dua bulan sudah di depan mata. Tinggal dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya. Sebelum waktu luang itu berganti dengan kesibukan. Sebelum
nanti aku akan pulang kembali ke negeri impian.

Ngomong-ngomong ttg negeri impian, jadi terpikir bahwa nanti
akan tiba saat akan menuju negeri impian, negeri abadi yang didalamnya mengalir
sungai-sungai jernih, di dalamnya bertaburan keindahan yang tak pernah terkira,
wajah-wajah yang tampan, cantik, dan indah dipandang mata, kenikmatan yang
tiada tara, ucapan salam dan kata-kata lembut yang menyenangkan. Ah, bisakah
aku mencapai negeri impian itu? Ya Allah, izinkanlah aku hidup di dalamnya,
dengan ridhoMu.

Valentine, Coklat, dan Cinta

Thursday, February 14th, 2008

Besok ujian kanji, oh tidak…! Tapi berhubung sudah terlanjur
connect internet dan pingin nulis sesuatu, ya sudah lah. Semoga besok, hari
terakhir ujian, hari sebelum libur 2 bulan (aku baru sadar kemarin kalau akan
libur dua bulan), ujiannya dimudahkan, amin..

Hari ini tanggal 14 February, so what? Kata orang Valentine
day. Aku lupa kalau ini valentine sampai saat tadi Sandra ngasi coklat ke Wahib
san dan Andres san, dan waktu tadi di communal kitchen, Laura cs lagi bikin kue
coklat, buat valentine katanya. Oh, valentine ya?

Kalau valentine identik dengan coklat. Justru hari ini,
mungkin pertama kalinya aku belanja ke Seijo tanpa beli coklat, hehehe. Pertama
karena sadar bahwa sepertinya aku harus berhenti makan coklat banyak2, apalagi
di saat malem2 begini. Bahaya. Lain alasan, karena lumbung coklatku masih
banyak, hehehe. Semoga tidak tergoda untuk makan coklat banyak2. Paling tidak
coklat2 itu sudah sempat difoto dalam berbagai pose biar kenyang melihat dan
enggak tergoda makan.

Lalu siang tadi ngobrol lagi dengan Mbak Desi di YM. Aku
mengutarakan niatku untuk menggunakan dua bulan ke depan untuk menulis novel
lagi. Kali ini pingin yang ada kisah2 cintanya, Tokyo Love Story. Tertantang karena novelku yang sebelumnya semua kisah
cinta di dalamnya didelete jauh2. Wagu dan aneh katanya. Ya, memang enggak tahu
bagaimana mendeskripsikan perasaan cinta, enggak tahu bagaimana membuat ceritanya
tidak wagu. Bagaimana ya?

Ok, sebenarnya bukan coklat, cinta, dan valentine yang ingin
kutulis di awal niat tadi. Tapi mau nulis pelajaran membuat roti yang kuajarkan
pada Voleak. Tidak menyangka ada orang-orang yang niat sekali belajar masak
padaku dibela-belain di hari ujian begini. Tadinya aku bilang enggak ada waktu
untuk itu, tapi akhirnya kita masak bersama di kamarku, aku masak capcay buat
makan malam dan dibawa besok sekalian, sementara Voleak –dengan instruksiku-
akan mengaduk-aduk adonan kue. Takarannya asal saja, karena aku tidak pernah
pakai takaran dalam memasak, memasak itu pakai perasaan. Memasaklah dengan
cinta. Aku lebih semangat kalau masakin orang lain, daripada masak sendiri,
makan sendiri. Makanya kadang2 kirim makanan ke Dini dan Himmi dan seneng kalau
dapet tugas piket masak. Bahkan kubercita-cita setelah pulang ke DhS nanti, aku
akan mengambil alih tugas2 memasak harian, hehehe, baru keinginan, entah kalau
berubah pikiran. Dengan semangat cinta, hasilnya akan lebih enak. Tapi kalau
ternyata enggak sesuai harapan ya kumakan sendiri.

Kembali ke pelajaran memasak kue, setelah adonan siap kita
pergi bersama ke communal kitchen untuk mengopen kue itu. Karena dasarnya aku
juga enggak bisa, sekedar eksperimen bin kira-kira, kalau jadi Alhamdulillah,
enggak sukses ya dinikmati saja, maka aku pun tak tahu cara efektif memasak
-terutama bab mengopen- roti. Sayangnya Voleak sepertinya tipe orang yang
melakukan sesuatu dengan benar. Kalau kita set setengah jam, maka harus diambil
tepat setengah jam. Alhasil, setengah jam roti bagian atas sudah sawo matang
(pinggirnya gosong2 dikit, hehehe), dan dalemnya masih mentah. Voleak bingung
dan menuntut pertanggungjawabanku. Dosyoukana… Ya, akhirnya setelah lama
berpikir dan merasa bersalah karena telah memberikan instruksi yang salah untuk
roti kebanggaan Voleak –her first cake- akhirnya aku eksperimen lagi, hehehe.
Memasukkan adonan itu lagi dan menyuruh Voleak datang lagi ke kitchen 50 menit
lagi. Dan alhamdulillah pada pukul 21.24 ada email yang masuk ke hpku, dari
Voleak. “At least, it is cooked. Thank you very much my dear Ayu! I’m really
happy with my first cake! Let’s eat together tomorrow. Good night!”

Dan akupun bernafas lega. Ingin sekali kukatakan pada
Voleak, memasak itu hanya ada satu resep untuk segala masakan. Ya masaklah
dengan cinta, hehehe.

Valentine enggak ada hubungannya dengan cinta. Everyday is
love day. Berbuat baiklah setiap hari, kepada siapa saja, dalam bentuk apa
saja, karena Islam mengajarkan kita untuk itu.

Dan ups, berhenti menulis. Harus kembali belajar kanji. Ya,
sepertinya belajar juga perlu cinta, belajar politik, belajar kanji, semuanya
butuh resep cinta.

Whatever you do, you must love it! Because the power of love
can change everything!

terharu

Sunday, February 10th, 2008

Lagi terharu mode on nih, habis dapet kado dari wahib san, coklat belgia. Enggak tahu apa maksud kadonya, karena kado itu justru diberikan waktu aku punya salah sama dia. Sebenarnya untuk party tahun baru china kemarin kita sudah cs-an untuk nyari alternatif makanan yang halal, secara di restoran china pasti sulit cari yang halal, makanya wahib san memintaku membawa nasi dan lauk ala kadarnya. Tapi karena waktu istirahatnya pendek dan enggak boleh telat ke kelas berikutnya karena ujian, aku enggak nyiapin apa2 buat dibawa. Sampe di Yokohama, ya.., rasa males datang party datang lagi, belum tentu juga bisa dapat makanan halal, padahal hari itu seharian enggak makan, akhirnya kuputuskan enggak jadi ke china town deh. Sementara itu aku melupakan wahib san yang juga saudara semuslim yang enggak boleh makan sembarangan juga, tapi dia tetep datang dengan tulus. Jadi merasa bersalah…, aku terlalu egois ya…, malah dia juga ngasi coklat, hua…
Jadi ingin menebus kesalahan, dengan apa ya?
Kalau bener semester depan dia pindah daigaku, pasti beneran deh sedih, kalau untuk ini, mau deh bikin farewell party.
Lalu di belahan bumi yang lain, mbak Desi juga sudah mengeprintkan novel 217 halamanku, menjilidnya hard cover dan mengirimkannya ke penerbit. hua…, terharu lagi.
Ini baru terharu2 yang terjadi hari ini. Masih banyak yg lain, apalagi waktu masih di DS, sering banget terharu sama kebaikan temen2.
Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk membalas kebaikan mereka, dan berbuat baik kepada siapapun. -hingga membuat orang lainpun bisa terharu sepertiku, hehehe-

catatan akhir pekan

Saturday, February 9th, 2008

Tidak ingin bilang apa-apa, hanya karena denger teriakan2 dari luar, ternyata banyak yang lagi main salju di lapangan. Kali ini saljunya tebel…, kirei, entah sudah salju keberapa di tahun ini. Tapi di Indonesia ternyata banjirnya mengerikan ya..

Kuliah semester ini tinggal satu minggu. Minggu kemarin hari kamis ada party, jumat aku enggak jadi dateng party, lebih enak ngetem di masjid daripada pergi ke party, hari ini, sabtu harusnya juga party. Kenapa pada suka party ya? Party kamis kemarin lumayan mengharukan sih, karena semuanya berupaya mencari daging halal dan memasak yg halal biar aku bisa ikut makan bersama mereka. Lalu liat pengorbanannya Wahib san dan Andres san yang meski sibuk masih rela dateng ke party anak2 kaya kita.

Lalu, tadi diajakin bikin party perpisahan untuk tutor nihonjin-ku yang akan kuliah di jogja. Aku awalnya enggak pernah berpikir untuk ngadain party untuknya. Well, aku benci perpisahan. Selalu bisa bikin nangis. Dan secara logika, klo kita ngadain farewell party, berarti kita merayakan kepergiannya, senang kalau dia pergi? oh, mungkin cara berpikirku yg salah, karena terlalu terpengaruh sentimen enggak suka party. Dan kalo partynya cm dalam bentuk makan bareng, aku males klo harus bela-belain jauh2 ke Meguro, ato Odaiba, ato Urawa, ato Yokohama hanya untuk makan. Dalam waktu yg panjang itu, masih banyak yg lebih penting untuk dikerjakan daripada sekedar makan di restoran indonesia. Aku lebih suka kalau nanti ngasi kado perpisahan daripada pesta perpisahan. Ato ini hanya pandanganku yg terlalu cuek sama temen ya? terlalu egois? tp memang kalau aku ga punya hubungan emosional dgn seseorang, jarang2 aku mau melakukan tindakan irasional (melakukan sesuatu yang sebenarnya ga ingin kulakukan). Kecuali kalau hubungan pertemananku dengannya ga sekedar hubungan formalitas yang kurasakan sekarang. Ah, mungkin bener aku yg terlalu egois ya. Aku yang tak paham arti sebuah hubungan pertemanan atau persahabatan, atau hal2 lain yang tertutupi oleh sentimen keegoanku. Hanya saja, sekali lagi kukatakan, aku enggak suka party…

090208. 23:28 -Saat di luar sedang ada ’snowy party’

Salju ketiga di tahun ini

Tuesday, February 5th, 2008

Alhamdulillah, paper-paper telah terselesaikan. Mau ngeprint dan ngumpulin, ternyata di luar salju, jadi rada2 enggan untuk keluar. Lebih enak di dalam kamar yang hangat sambil terus menerus memandang titik-titik putih yang turun dari langit. Enggak menyangka ini kali ketiga salju turun di tahun ini. Meski sudah tiga kali, enggak bosen2 juga liat hujan. Kalau mbak desi bilang hujan itu romantis, -eh, aku juga suka hujan dan bau tanah basah setelah hujan- tapi salju jauh lebih romantis, hehehe. Soalnya enggak bikin basah dan kotor kena lumpur.
Klo naik densha, juga jadi inget mbak desi, apa dia juga akan suka kereta model ini ya? kereta di sini bukanlah simbol romantisme kereta ekonomi kaya di Yogya, bukan kereta yang aku dulu mengantar jemput mbak desi di tugu, juga bukan kereta yang mbak desi terlambat menjemputku gara2 ***. Kereta di sini seperti mencerminkan modernitas atau apa ya.., pokoknya menyiratkan kesan beda dgn kereta2 kluthuk indonesia.
Ternyata sudah azan, sholat dulu terus ke perpus dan ngumpulin tugas. Nanti malem belajar buat ujian ekonomi karena besok udah dikontrak untuk dateng party (lagi2 party). Untuk party besok aku mau bikin cake ulang tahun buat temenku, klo sempet pingin juga masak sayur ala indonesia. Hehehe, terharu waktu mereka bilang kueku enak padahal hasil eksperimen. Sampe di sini aja nulisnya.  Ternyata banyak ya, yang harus segera dikerjakan.

Suatu hari nanti mungkin aku akan merindukan masa2 melihat salju ini. "Balik lagi ke Jepang aja, Yu?!" bujuk beberapa teman. Ah, mada wakaranai…

waktu, hidup, dan tidur

Sunday, February 3rd, 2008

Hanya untuk mengingat kalau hari aku berangkat ngaji, menembus hujan salju, mengarungi lautan salju, untuk belajar islam. Suatu hal yang patut dikenang, jadi ditulis biar ga lupa.Salju kedua dalam tahun ini, tapi ga sempet foto2.
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Tidaklah suatu kaum duduk pada sebuah majelis untuk berzikir
kepada Allah, kecuali malaikat menaungi mereka, mencurahi mereka dengan
rahmat serta nama mereka disebut di hadapan makhluk yang ada di
sisi-Nya."
(HR Muslim)
Kalau perlu pingin dateng ke kajian tiap minggu,,
Apa yang kupelajari hari ini?
Pertama ttg mengingat kematian. Banyak kabar meninggal belakangan ini. Dan kematian pun bisa datang pada kita kapan saja, tua-muda, terkenal-enggak terkenal, semua pasti mengalami mati. Kita bisa mati dalam keadaan apa saja, bisa tidur enggak bangun sampe dibangunkan di hari akhir, bisa pas lagi belajar, bisa pas main game, bisa pas lagi makan dan minum yg haram, bisa saat habis marah2, bisa pas ngerasanin orang, bisa kapan aja. Makanya kalau mau berbuat harus berpikir dulu, mau enggak kita mati dalam keadaan seperti ini? Dulu kita pernah dilarang main game di komputer, alasannya? kalau mati pas main game gimana? duh…, iya..
Dan kala kuhembuskan nafas lalu berpikir, aku sadar kalau itu hanya titipan, suatu hari nanti mungkin akan ada masa hidung ini tak mengeluarkan hembusannya lagi, alias mati. Ya Allah, rasanya belum cukup bekal ini.
Terus bahas hadist arbain tentang nasihat rasulullah untu Jangan Marah, jadi inget aku pernah dapet pesan tertulis dari temen ikhwan, isinya hanya kutipan hadits arbain tersebut, "Jangan marah!". Begitu pemarahnyakah aku? Sungguh aku tak berniat suka marah.., kalau ada yang merasa aku suka marah, hontouni gomennasai…, maaf…
Lalu…, cerita2 perjuangan temen2 belajar sampe malem dan hanya tidur sedikit. Aku sering berpikir klo sudah kebanyakan tidur, belum berhasil menyedikitkan tidur seperti para orang2 hebat. Sampai saat ini pun aku belum tidur, setelah selasai menulis blog ini, aku masih belum tahu mana yang lebih baik, tidur, atau melanjutkan bikin paper ya?

Rasulullah pernah bersabda, "Andai kalian tahu apa yang aku ketahui, pasti kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Uhm, mungkin itu juga yg bikin rasulullah dan sahabat jadi sedikit tidur dan banyak ibadah ya..Klo waktu mati nanti kita tidur lama, berarti sekarang enggak usah banyak tidur ya. Jadi ingin seperti mereka…

Tentang Aku dan Dia

Friday, February 1st, 2008

Hanya mempertanyakan,
sebenarnya bagaimana nasib hubunganku dengannya
kok aku jarang merasa pingin tahu kabarnya ya?

Bagaimana caranya biar aku bisa selalu curios sama masalah politik ya?,
bahkan berita hangat pak Harto meninggalpun berikut ribut2 orang yang mempermasalahkan masa lalunya pun tak begitu menarik perhatianku, kisah hilary obama cuma terlirik sekilas, ada konferensi apa cuma mantuk2 aja, enggak begitu minat untuk tahu lebih jauh, waktu kemarin ketemu sama dosen HI yang seminar di Tokyo, aku enggak gitu tertarik ngomongin isi seminarnya, yang kutanyakan justru hal2 di luar politik, keluarganya, pengalamannya, dll
ada apa denganku? juga hubunganku dengannya?
Politik…, kuakui hidup tak bisa lepas dari yang namanya politik, politik itu permainan yang cerdas dan penuh strtegi, politik itu menarik, politik itu penuh intrik, tapi ada satu yang tak mengerti, bagaimana caranya aku bisa lebih peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang namanya juga akan menjadi namaku dalam satu tahun mendatang.
Ya, aku tahu, aku memang harus berusaha lebih mencintaimu dan lebih peduli padamu…