Allah, Rahmati Kami dengan AlQur’an
Thursday, March 20th, 2008
Ada apa dengan hari ini?
-
Indonesia
libur, Jepang juga libur,
-
Bertepatan dengan maulid nabi Muhammad SAW, 1481 tahun yang lalu adalah
hari kelahiran Rasulullah -
Juga 23 tahun (Hijriah) yang lalu hari kelahiranku, makanya ada embel2
Maulita di belakang namaku. Hehehe, baru kali ini juga banyak yang mengucapkan
selamat ulang tahun dan doa in my first (of two) b’day(s). Biasanya ibuku aja
yang ngucapin selamat. -
Tokyo
hujan
seharian -
Rapat darat FLP Jepang yang pertama. Trus aku kebagian tugas ngurusin
“Ciluk Ba” FLP Jepang, (hay hay hay.., ini bukan karena aku habis nulis ttg
‘ikhwan ciluk ba’kan
? Ga mau ah
kalo juga harus jadi ‘akhwat ciluk ba’) -
Menemukan sebuah frame foto yang begitu cocok buat masang foto DS IV yang
selama ini tergeletak ga jelas di meja belajarku. Mukaku di foto itu masih
bulet, (sekarang juga ding) hehehe. Tinggal di DS memang menyenangkan. Konon
kalo hati seneng, jadi gampang nambah berat badan -
Purezento yang kutitipkan buat ummi dan mbak-mbakku lewat Mas Lesa
sekeluarga yang pulang juga ternyata udah nyampe. Isinya tas 4 biji, sepatu,
boneka dan mainan buat ponakan. (ummiku suka banget katanya, yokatta
). Terima kasih mas
Lesa sudah dianter sampe rumah (gratis pula..)
Momentum milad kali ini (juga milad masehi yang kemarin) mengkhatamkan
Qur’an sambil baca doa khatamnya. Kabarnya, salah satu waktu mustajab berdoa
adalah saat khatam Qur’an. Dan subhanallah… doa khatam yang ada di halaman
belakang Qur’an itu bagus banget ya..
Ya Allah, rahmatilah kami
dengan Al-Qur’an. Jadikan Qur’an sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat
bagiku. Ya Allah ingatkanlah aku dari segala yang terlupa dari Al-Qur’an.
Ajarilah segala yang tidak aku ketahui dari Al Qur’an. Anugerahilah aku
kemampuan untuk selalu membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikanlah Al Qur
an sebagai hujah yang dapat menyelamatkanku. Amin… (sebenarnya masih panjang
doanya)
Lalu tadi juga sempet baca terjemahan dari juz 30. Kebanyakan bercerita
tentang hari kiamat, hari penghitungan amal, janji-janji keindahan surga, serta
ancaman neraka. Membacanya perasaan jadi campur aduk. Jadi muncul pertanyaan
juga, kalau bukan muslim, mereka
kan
mungkin enggak pernah baca
Qur’an, kira-kira mereka tahu ga ya kalau nanti ada hari perhitungan?
Ada
peristiwa langit digulung,
bintang berjatuhan, gunung berlari, lalu manusia akan diberitahukan ttg segala
catatan amalnya.
Kalau aku suka langit, bulan, dan bintang, di Qur’an banyak sekali
ayat-ayat yang pakai perumpamaan itu juga.
Apabila matahari
digulung,
Dan bintang-bintang
berjatuhan,
Dan apabila langit dilenyapkan,
Setiap jiwa akan mengetahui apa yang
dikerjakannya.
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar dalam surga
yang penuh kenikmatan
Mereka duduk di atas dipan-dipan melepas
pandangan
Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang
penuh kenikmatan.
Mereka diberi minum dari khmer murni yang tidak memabukkan yang
tempatnya masih disegel (hehehe, jadi inget obrolan
kemarin sama ulfi di belanda, katanya dia teler setelah makan coklat yg ueenak..
banget. Ternyata setelah diliat ada winenya. Trus dia berkesimpulan, pantas
orang banyak yg suka wine, habis enak sih.., nanti di surga pasti lebih enak
lagi ya)
Segelnya dari kasturi.
Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba
Sampai di ayat situ, aku jadi mikir. Memang menyenangkan ya gambaran
surga, dan untuk itu hendaknya kita berlomba-lomba. Tapi sayangnya, aku sendiri,
sering lupa itu semua…, ga tergerak untuk berlomba-lomba. Sering lupa utk jadi
orang yang terbaik dalam beramal (namanya juga lomba, deshou?), sering
berlambat-lambat dalam beramal.
Lalu waktu baca doa khatam tadi jadi berharap, ya Allah, ajarkanlah aku
dari Al-Qur’an, ingatkan aku dari segala yang terlupa (kalau saja lupa bahwa
dunia ini hanya sebentar dan seharusnya dipakai untuk berlomba dalam
kebaikan).
Makanya di hari ini, aku berharap semoga Allah senantiasa merahmatiku
(kami) dengan Al Qur’an dan menuntun kami agar selamat sampai menemukan
surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai yang jernih, yg warnanya hijau, dan
kita tinggal bertelekan di sana dengan wajah yang puas.
Amin.. amin.. amin..
Lalu jadi inget bujukan yang entah kesekian kalinya untuk kembali ke
Jepang. “Kembali ke Jepang, ya Yu?!” tapi bujukan kali ini terasa begitu menohok
bagiku. Dalam pikiranku detik itu. Kalau aku kembali ke Jepang, pastilah aku
diharapkan bisa memberikan banyak perbaikan di sini. Padahal saat itu juga, aku
merasa kapasitasku belum sebaik itu. Belum jadi muslimah tangguh yang begitu
tangguh menjalani segala ujian hidup dan menunjukkan jalan2 kebaikan kepada
banyak orang di Jepang. Rasanya masih belum berbuat apa-apa. Kalau aku balik ke
sini, apa yang bisa kusumbangkan ya? Aku jadi malu..
Trus jadi inget juga, waktu dulu pgn buru2 lulus kuliah, disindir dengan
pertanyaan, “sebelum lulus, sudah ninggalin kontribusi apa untuk dakwah
kampus?”
Dan kalau dianalogikan dgn keberadaanku di Jepang, maka sebelum pulang,
sudah berkontribusi apa buat dakwah di jepang?
Lalu aku memandang foto sekumpulan anak DS yang kini sudah terpajang rapi
dengan frame di depan mejaku.
Mereka hebat. Mereka hebat, beruntung kalau bisa menikah dengan salah
satu dari mereka (hey, aku tidak membicarakan diriku, juga tidak mempromosikan
diriku… yang kumaksud mereka lo, bukan aku
)
Kalau aku merasa lemah berada sendiri di sini, mereka pun mungkin juga
mengalami itu. Mereka juga sendiri, kini tinggal membuktikan bahwa DS bukan
sebuah negeri utopia, di mana orang2 hanya bisa baik saat berada di negeri
angan2 itu dan ga baik lagi kalau jauh darinya. Tapi memang harusnya kita harus
menciptakan DS-DS lain di manapun kita berada. Menciptakan rumah kita sebagai
rumahnya orang-orang (yang berusaha untuk) sholihah. Termasuk buka cabang di
luar negeri, hehehe.
Wuih, udah panjang. Rasanya aneh juga nulis hal seperti ini di blog yang
akan dibaca banyak orang. Tapi gapapa deh,
kan
judulnya momentum ulang tahun,
biar inget, biar besok2 bisa dibaca-baca lagi, biar jadi pengingat di kala lupa
dan lemah, dan semoga saja ada yang bisa dapet manfaat dari yang kutulis. Karena
blogku
kan
memang isinya tempat
sampah aja, dan enggak beda dengan pengantar di halaman depan MP-ku tentang
makna menulis bagiku.. salah satunya, menulis untuk meneguhkan langkah yang
terseok..