Semua Ini Pasti Ada Hikmahnya
Semua Ini Pasti
Ada
Hikmahnya
Kali ini mencoba mengikat satu kenangan tentang kisah
persahabatan.
Agenda hari ini adalah olahraga dan silaturahim. Berhubung
aku tidak ahli dalam segala jenis olahraga, maka naik sepeda sudah kuanggap
olahraga. Apalagi mengingat bahwa kemampuanku membaca peta dan mengingat jalan
cukup buruk. Jadi ada kemungkinan besar jarak perjalanan dengan sepeda akan
semakin jauh karena kebiasaan burukku; nyasar!
Kalau bicara tentang nyasar, hehehe, aku sudah pernah nyasar
di semua kota yang kutinggali, baik dengan jalan kaki, naik sepeda,naik bis,
dan naik motor, baik itu di Semarang, Yogya, Brisbane, Bantul, kampung Fuchu,
Tokyo, juga pas jalan-jalan ke Kyoto semua punya sejarah nyasar. Kalau di
Indonesia yang memang bagi masyarakatnya peta bukan hal yang penting untuk
dibuat, nyasarku biasanya rasa percaya diri yang tidak pada tempatnya. Malas
bertanya dan lebih mengandalkan feeling. Bedanya pas di
Indonesia
dengan pas di Jepang adalah ada tidaknya peta. Kalau di Jepang, nyasarku memang
karena aku tidak bisa membaca peta dengan baik.
Hari itu aku akan mengunjungi rumah seorang sahabat yang
akan kurepotkan buat mendaftar pasang internet. Sebenarnya jarak asrama ke
rumahnya tidak jauh. Tapi dari dua kali ke
sana
naik sepeda, selalu makan waktu satu jam-an karena nyasar. Kemarin aku nyasar
dan berputar-putar lama sekitar makam Tama. Meskipun ada peta (yang tidak bisa
kubaca dengan baik), akhirnya kuandalkan feeling saja untuk menemukan jalan
keluar. Begitu kupilih satu pintu keluar sesuai feelingku akhirnya mempertemukanku
dengan polisi-polisi yang berjaga di perempatan. Awalnya cuek saja karena
enggak merasa salah. Jadi menyesal berani deket2 ke polisi. Padahal waktu jalan
ke SRIT dan dari seberang enggak sengaja melihat ada orang
Indonesia
yang dicegat polisi di koban, aku sudah mengingat-ingat bahwa selama ada jalan
lain yang tidak lewat di depan polisi, maka pilihlah jalan itu. Males kalau ada
yang tiba-tiba ditanya, dicatet KTP-nya, dan dicurigai macem-macem. Dan hari
itu aku lupa akan janji itu sehingga berhasil diberhentikan dengan sukses oleh
polisi yang kulewati tadi, ditanya kunci sepeda, nomer dan nama pemilik, dll
dst. Aduh…, ini sepeda sudah enggak ada kuncinya. Pemberian senpai yang akan
terus kuturunkan buat anak-anak UGM yang mendamparkan dirinya ke Tokyo Gaidai
dari tahun ke tahun. Waktu itu sudah mikir kalau masalahnya jadi panjang dan
kohai-kohai mendatang tidak bisa menikmati sepeda yang belum sempat kuberi nama
itu. Tapi alhamdulillah akhirnya aku dibebaskan. Bersyukur juga karena
setidaknya sudah bisa sedikit-sedikit menjelaskan dalam bahasa Jepang, kalau
tidak…? Ugh!
Akhirnya dengan feeling lagi (karena jalannya sudah enggak
sama lagi dengan foto peta di keitaiku) kulanjutkan lagi perjalanan sepedaku.
Kok enggak nyampe-nyampe jalan yang kukenal ya… Terus mengayuh sambil
berolahraga di siang yang kebetulan sangat cerah (atau panas ya??) itu. Sampai
akhirnya ada koban yang rasa-rasanya aku kenal dengan koban itu. Ah, jalan terang!
Sekali lagi aku lupa janji untuk tidak mendekati polisi.
Tapi alhamdulilah polisinya baik, enggak nanya macem-macem tentang identitas
diriku atau sepedaku, dan memberikan petunjuk jalan ke tempat yang kutuju. Di
akhir pembicaraan kami, dia bilang, “Anak Gaidai ya?” Kok polisinya bisa tahu?
Lalu kutatap wajahnya. Eh, kok mirip sama polisi yang tadi nanyain aku di
jalan? Jangan-jangan polisi yang sama yang tadi juga nanyain aku tinggal di
mana? Atau karena semua orang Jepang masih kuanggap berwajah mirip? Lupakan!
Kulanjutkan perjalananku sesuai petunjuk yang diberikan si
bapak polisi. Dan sampailah aku pada jalan mendaki. Oh tidak, aku enggak kuat
kalau harus mendaki dengan sepeda. Lalu demi menghindari jalan mendaki itu,
kembali kugunakan feeling mencari jalan lain dengan kembali masuk ke kompleks
makam yang luas sekali itu. Dan alhamdulillah aku menemukan jalan keluar yang
benar. Hingga akhirnya aku sampai di tempat yang kutuju dalam waktu tidak
kurang dari satu jam.
Sepertinya kepanjangan ya cerita tentang nyasarnya. Ok,
cerita sedikit tentang temanku. Teman yang kukunjungi itu baik… sekali.
Berhubung aku tahu kebiasannya mengajak makan bersama tamu yang datang atau
membawakan bento bila si tamu memilih untuk enggak makan, maka sudah kusiapkan
tempat makan untuk diisi bento. Hehehe, enggak sopan banget ya. Mungkin karena
mental anak kos yang enggak suka menolak makan gratisan masih melekat pada
diriku. Lalu kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke tempat mendaftar
internet sambil cerita-cerita di jalan. Karena aku juga belum begitu ahli naik
sepeda, sempat juga aku menabrak nenek-nenek yang juga naik sepeda. Hehehe.
Jadi inget bahwa aku memang belum lama bisa naik sepeda. Baru belajar karena
dipaksa temen-temenku sebelum melanjutkan ke tahap belajar naik motor. Tuntutan
akhwat yang tinggal di Jogja adalah bisa naik motor. Kalau tidak, maka akan
selalu merepotkan orang dan jadi banyak waktu dan tenaga yang habis hanya untuk
jalan.
Sebenernya mau cerita kenangan persahabatan satu hari itu
kok malah jadi kepanjangan cerita tentang nyasar ya?
Waktu pulang alhamdulillah enggak nyasar. Bisa masuk dan
keluar kompleks makam dengan rute yang benar. Dan betapa kagetnya aku bahwa
koban yang tadi kukunjungi adalah koban yang letaknya di depan kompleks makam
yang sudah deket sama asrama, alias jalan yang kulewati pertama kali sebelum
nyasar. Berarti kemungkinan besar aku sudah memutari kompleks makam yang besar
itu dan kembali ke titik awal. Jadi aku nyasar sejauh itu hanya untuk bertemu
dengan polisi yang menanyaiku tentang si sepeda? Ah, semua ini pasti ada
hikmahnya. Kalau mau diambil kesimpulan lagi, jadinya jalan buat silaturahimnya
semakin panjang, pahalanya makin banyak…, amin..
Lalu sampai di rumah baru terasa kaki ini pegal-pegal.
Biasanya kalau capek aku reflek menyalakan laptop untuk mendengarkan alunan favoritku.
Tapi entah kenapa kali ini laptopku enggak mau nyala. Sinpai.. Bagaimana aku
bisa bertahan di Jepang tanpa berteman laptop? Kalau laptop ini beneran mati,
gimana nasib novel yang semakin mendekati detlen, nasib foto-foto di Jepang,
dokumen2 penting lain? Perjuangan buat menyelesaikan skripsi? Juga jadi enggak
bisa ndengerin murattal lagi dong. Dicoba lagi, masih ga nyala. Nyoba lagi,
tetep enggak nyala juga. Sekian kali lagi, tetep ga nyala. Lemes.., ya, kalau
memang laptop yang juga belum kuberi nama ini akhirnya harus mati, pasti ada
hikmahnya juga. Tidak ada cara lain
selain harus banyak lembur di perpus buat ngebut novel, ngerjain skripsi, dll.
Mungkin juga kalau terlalu banyak akses internet dari kamar jadi melakukan
hal-hal yang ga perlu dilakukan, makanya laptop itu dibuat mati. Yah, semua ini
pasti ada hikmahnya… Paling tidak aku jadi langsung nyusun rencana, meniatkan
untuk enggak buang-buang waktu lagi. Pokoknya sudah semangat empat
lima
biar lebih semangat kejar target dengan segala keterbatasan yang akan
menghadang.
Selesai sholat kucoba nyalain laptop lagi. Wah…, berhasil!
Nyala! Seneng banget. Alhamdulillah…!
Tapi hari ini aku dapat pelajaran, bahwa segala sesuatu
pasti ada hikmahnya. Enggak ada kejadian yang sia-sia dan tidak ada alasan
kosong mengapa itu terjadi. Jadi olahraga, jadi praktek bahasa Jepang sama
polisi-polisi Jepang, jadi lebih semangat untuk memanfaatkan waktu, juga jadi
berniat untuk memberi nama barang-barang yang banyak membantu pekerjaanku dan
memperlakukannya dengan lebih baik. Dan at least jadi membuatku bisa menulis
panjang tentang kenangan hari ini. Cara untuk bisa nulis ya dengan belajar
nulis. Meskipun akhirnya enggak bener dan kepanjangan begini. Itu juga belum
menceritakan kenangan persahabatan yang kubuat hari itu, bisa jadi lebih
panjang lagi.
Sekian saja menulis kenangan tentang hari kemarin, harus
segera kembali kejar target yang sudah kubuat semalam.
Buat Mbak Desi, ini kenapa akhirnya aku tak bisa muncul di YM pukul 4
April 16th, 2008 at 12:30 am
gapapa, Yu. aku kemarin jam 3 uda berangkat latihan ke Garasi. oo… yang kemarin pamit nyepeda itu ini ya? hoho… gapapa
makasi ya Yu