Archive for May, 2008

Aku Penulis Bukan, Ya?

Thursday, May 1st, 2008

Gara-gara tanggapan Mbak Desi di comment-ku di blognya, aku jadi memikirkan pertanyaan itu.

"Ayu penulis bukan?"
Aduh, iya bukan ya?

Mau bilang iya, kok ga ada buktinya. Udah nulis apa, Yu?
Sejak
SMP udah gabung FLP tp ga pernah aktif, soalnya jauh dari anggota lain
yang rata2 anak kuliahan. Baru pas kuliah gabung FLP Jogja angkatan 3.
Sekarang FLP Jogja sudah berapa angkatan ya? sembilan? sepuluh? lupa

Pas SMP nulis di majalah dinding sekolah

Pas
SMA nulis buat ikut lomba di mana-mana, Lumayan hadiahnya banyak,
hehehe. Paling merasa keren waktu karya lombanya dibukukan di Antologi
Unicef "Mom, I Love You" (soalnya karyanya yg jadi buku baru itu ajah)

Pas
kuliah sesekali nulis cerpen dikirim ke Annida, beberapa dimuat
beberapa enggak. Ikut lomba macem2, kadang menang kadang kalah. Nngirim
kumcer ke penerbit ditolak, tapi sampe sekarang belum diedit lagi buat
dikirim ulang. Karena beberapa kali masuk Annida dan mungkin pengaruh
sedikit persekongkolan dengan panitia roadshow FLP Jogja (memanfaatkan
kekuasaan sebagai SC dan SS), jadinya sempet dapet FLP award buat
kategori fiksi media massa (kategorinya aja dirumuskan di rapat SS,
hehehe). Baru kemudian mikir, beneran ga ya pantes dapet penghargaan
itu?

Dulu alasan ga rajin nulis karena sibuk rapat FLP dan
ngurusin anggota, jadinya enggak sempet nulis (alasan macam apa itu
ya?). Selalu kena tegur koordinator klub dan disindir-sindir terus sama
Mbak Desi. Efek yang kuhasilkan setelah gabung di FLP adalah jadi suka
promosi FLP ke orang-orang di sekitarku, juga jadi belajar banyak hal
tapi bukan karyanya yang jadi banyak (duh, malu…)

Padahal
banyak penulis lain yang berangkat nulisnya mungkin barengan sama aku
sudah menghasilkan begitu banyak karya. Sedang aku? kemana aja ya?

Lalu
Alhamdulillah, di fuyuyasumi baru berhasil menyelesaikan novel DS yang
sekian lama ga jadi-jadi itu, dan sekarang baru nyoba nulis novel lagi.
Semoga setelah ini bisa terus produktif.

Terus karena di
Jepang sering connect internet, jadi sering nulis blog. baru sadar,
blog-ku ga ada isinya, cuma curhat-curhatan aja yang enggak tahu aku
harus bercerita ke siapa, dan kalaupun ada aku memang ga pinter suruh
cerita pake lisan kalau enggak ke orang yang sudah deket. Tapi manfaat
minimalnya dengan nulis blog jadi sempet mengikat kenangan selama di
Jepang. Biar suatu hari nanti bisa dikenang, oh, dulu aku pas di Jepang
begini ya?

Lalu? udah, itu aja.

Dari semua itu, apa aku pantas buat disebut penulis? disebut pecinta FLP?
Sejatinya
jadi penulis, apalagi yang ngaku cinta FLP (eh, cinta ga ya? -ini juga
harus dipertanyakan ding) harusnya paham dengan niat menulisnya sebagai
sarana dakwah bil Qalam. Menyebarkan kebaikan lewat tulisan. Tetep
semangat nulis karena inget ini buat sarana nyebar kebaikan, buat
mengisi punda-pundi amal yang akan jadi bekal di akhirat, buat
melakukan perbaikan-perbaikan kecil dengan cara sederhana. Seharusnya
begitu ya.., hingga nanti kalau mati, punya amal jariah yang
ditinggalkan, pahalanya terus mengalir kalau karyanya memberi kebaikan
buat orang yang membacanya.

Harusnya untuk itu kita semangat?
Sabar menghadapi kebosanan dan kejenuhan, sabar untuk terus
meningkatkan kapabilitasnya sebagai penulis profesional. Ibarat dai
yang tampil, penulis yang niat dakwah juga penampilan karyanya harus
profesional ya…. Sedangkan aku?

Hanya renungan pendek untuk
memperbarui niat untuk terus berdakwah lewat tulisan. Jadi mikir, aku
nulis panjang-panjang di blog ini kira2 ada manfaatnya ga ya buat yang
baca? Kore kara deh, insyaAllah.

Sudah ah, mau kembali
melanjutkan perjuangan. Belum nambah dari yang tadi malem. Ini sengaja
ke perpus biar bisa ngamatin orang-orang Jepang buat ditulis dan
dideskripsikan dalam tulisan. Tapi dari tadi belum mulai mengamat-amati
dan belum membuka filenya.
Lah, dari tadi ngapain aja?
Hehehe. Nulis juga kok.., yang lain.. semoga juga ada manfaatnya.

Perpus TUFS, 01`05`08
Hampir tiga bulan setelah ngirim naskah DS
Menunggu kabar…

Ribuan Orang Jerman Masuk Islam. Jepang kapan, ya?

Thursday, May 1st, 2008

Karena banyak mengenal orang Jepang yang masuk Islam karena pernikahan,
jadi berpikir kalau suatu saat nanti Jepang juga akan jadi negara
dengan penduduk muslim yang besar. Apalagi akhlaknya orang Jepang kan
Islami sekali, tertib, ga suka merepotkan orang, amanah, tepat waktu,
profesional, dll. Lalu kemarin sempet nanya ke temen, mau enggak
menikahi orang Jepang kalau itu bisa menjadi jalan keislamannnya.
Alasan bertanya itu karena mau dijadikan bahan cerita novel. Menikah
beda budaya, beda negara, apalagi beda agama (sebelumnya), mungkin juga
bukan hal yang mudah. Nah, kira-kira pada mau enggak ya kalau disuruh
nikah sama orang Jepang biar mereka masuk Islam? Buat jadi bahan novel
nih, Loh, kok malah nyambung ke novel? Maaf-maaf…
Kebetulan nemu
artikel menarik tentang ribuan warga Jerman yang masuk Islam. Semoga
suatu hari nanti, Jepang -juga negara-negara lainnya akan mengikutinya.


Dakwatuna. Penodaan dan penistaan terhadap
Islam terjadi di banyak negara di Barat. Tak terkecuali di Jerman.
Penodaan dalam beragam bentuk dan cara, terbaru adalah drama “ayat-ayat
setan”. Sebagaimana yang lain, drama ini juga menebar kebencian dan
penodaan terhadap Islam.

Namun, pada waktu yang bersamaan justeru banyak warga negara Jerman yang masuk Islam, berbondong-bondong, dari hari ke hari.

Pekan
lalu menjadi saksi, seorang Penulis sekaligus Wartawan kelahiran asli
Jerman bernama Hendrik Bruder (61 th), yang sebelum-sebelumnya terkenal
memojokkan Islam dan umatnya, masuk Islam. Masuk Islamnya dia boleh
dibilang mendadak. Dia berkomentar : “Dengarlah, saya telah memeluk Islam.”

Setelah
terjadi pergolakan batin yang hebat selama bertahun-tahun, karena
interaksi dan diskusi intens yang ia lakukan dengan seorang Iman Masjid
Ridha di Nicola.

Statemen ia setelah masuk Islam, “Saya
tidak meninggalkan agama, saya justeru kembali pada hakekat agama yang
benar, yaitu Islam. Karena Islam agama fitrah, semua anak manusia
dilahirkan dalam kondisi demikian.”
pungkasnya.

Cerita
masuknya warga negara Jerman tidak hanya kali ini saja. Pada tahun
sebelumnya, ribuan warga asli Jerman kembali pada pangkuan Islam. Pada
tahun 2007 saja terhitung seribu orang masuk Islam, demikian diakui
oleh Menteri Dalam Negeri Jerman.

Sebuah Pusat LSM Islam
menyebutkan dari tiga juta empat ratus (3,4 juta) penduduk muslim di
Jerman, lima belas ribu (15 000) di antara penduduk Asli Jerman.

Sebuah
survai yang dilakukan oleh berbagai media massa di Jerman memaparkan,
bahwa antara tahun 2004 dan 2006 merupakan jumlah terbanyak warga
Jerman yang masuk Islam, sekitar tiga ribu (3000) laki-laki dan
perempuan. Survai tersebut juga menambahkan bahwa jumlah itu naik tiga
kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah perguruan
tinggi Islam di Jerman menyebutkan bahwa di tahun 2006 warga Jerman
yang masuk Islam berjumlah empat ribu orang (4000), dibandingkan tahun
2005, hanya seribu (1000) orang. Salim Abdullah, Direktur Perguruan
Tinggi Islam itu menyebutkan, “Delapan belas ribu warga asli Jerman
telah masuk Islam.”

Penodaan dan penistaan yang dialamatkan pada
Islam dan kaum muslimin yang terjadi di Barat, merupakan rahasia dan
pemicu masuknya warga negara Jerman pada agama Islam.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Ali Imran:54. (it/ut)