Allah, Rahmati Kami dengan AlQur’an

March 20th, 2008 by ayu-shalihat

Ada

apa dengan hari ini?

  • Indonesia

    libur, Jepang juga libur,

  • Bertepatan dengan maulid nabi Muhammad SAW, 1481 tahun yang lalu adalah
    hari kelahiran Rasulullah
  • Juga 23 tahun (Hijriah) yang lalu hari kelahiranku, makanya ada embel2
    Maulita di belakang namaku. Hehehe, baru kali ini juga banyak yang mengucapkan
    selamat ulang tahun dan doa in my first (of two) b’day(s). Biasanya ibuku aja
    yang ngucapin selamat.
  • Tokyo

    hujan
    seharian

  • Rapat darat FLP Jepang yang pertama. Trus aku kebagian tugas ngurusin
    “Ciluk Ba” FLP Jepang, (hay hay hay.., ini bukan karena aku habis nulis ttg
    ‘ikhwan ciluk ba’

    kan

    ? Ga mau ah
    kalo juga harus jadi ‘akhwat ciluk ba’)

  • Menemukan sebuah frame foto yang begitu cocok buat masang foto DS IV yang
    selama ini tergeletak ga jelas di meja belajarku. Mukaku di foto itu masih
    bulet, (sekarang juga ding) hehehe. Tinggal di DS memang menyenangkan. Konon
    kalo hati seneng, jadi gampang nambah berat badan
  • Purezento yang kutitipkan buat ummi dan mbak-mbakku lewat Mas Lesa
    sekeluarga yang pulang juga ternyata udah nyampe. Isinya tas 4 biji, sepatu,
    boneka dan mainan buat ponakan. (ummiku suka banget katanya, yokatta). Terima kasih mas
    Lesa sudah dianter sampe rumah (gratis pula..)

 

Momentum milad kali ini (juga milad masehi yang kemarin) mengkhatamkan
Qur’an sambil baca doa khatamnya. Kabarnya, salah satu waktu mustajab berdoa
adalah saat khatam Qur’an. Dan subhanallah… doa khatam yang ada di halaman
belakang Qur’an itu bagus banget ya..

 

Ya Allah, rahmatilah kami
dengan Al-Qur’an. Jadikan Qur’an sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat
bagiku. Ya Allah ingatkanlah aku dari segala yang terlupa dari Al-Qur’an.
Ajarilah segala yang tidak aku ketahui dari Al Qur’an. Anugerahilah aku
kemampuan untuk selalu membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikanlah Al Qur
an sebagai hujah yang dapat menyelamatkanku. Amin… (sebenarnya masih panjang
doanya)

 

Lalu tadi juga sempet baca terjemahan dari juz 30. Kebanyakan bercerita
tentang hari kiamat, hari penghitungan amal, janji-janji keindahan surga, serta
ancaman neraka. Membacanya perasaan jadi campur aduk. Jadi muncul pertanyaan
juga, kalau bukan muslim, mereka

kan

mungkin enggak pernah baca
Qur’an, kira-kira mereka tahu ga ya kalau nanti ada hari perhitungan?

Ada

peristiwa langit digulung,
bintang berjatuhan, gunung berlari, lalu manusia akan diberitahukan ttg segala
catatan amalnya.

 

Kalau aku suka langit, bulan, dan bintang, di Qur’an banyak sekali
ayat-ayat yang pakai perumpamaan itu juga.

Apabila matahari
digulung,

Dan bintang-bintang
berjatuhan,

Dan apabila langit dilenyapkan,

Setiap jiwa akan mengetahui apa yang
dikerjakannya.

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar dalam surga
yang penuh kenikmatan

Mereka duduk di atas dipan-dipan melepas
pandangan

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang
penuh kenikmatan.

Mereka diberi minum dari khmer murni yang tidak memabukkan yang
tempatnya masih disegel
(hehehe, jadi inget obrolan
kemarin sama ulfi di belanda, katanya dia teler setelah makan coklat yg ueenak..
banget. Ternyata setelah diliat ada winenya. Trus dia berkesimpulan, pantas
orang banyak yg suka wine, habis enak sih.., nanti di surga pasti lebih enak
lagi ya)

Segelnya dari kasturi.

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba

 

Sampai di ayat situ, aku jadi mikir. Memang menyenangkan ya gambaran
surga, dan untuk itu hendaknya kita berlomba-lomba. Tapi sayangnya, aku sendiri,
sering lupa itu semua…, ga tergerak untuk berlomba-lomba. Sering lupa utk jadi
orang yang terbaik dalam beramal (namanya juga lomba, deshou?), sering
berlambat-lambat dalam beramal.

Lalu waktu baca doa khatam tadi jadi berharap, ya Allah, ajarkanlah aku
dari Al-Qur’an, ingatkan aku dari segala yang terlupa (kalau saja lupa bahwa
dunia ini hanya sebentar dan seharusnya dipakai untuk berlomba dalam
kebaikan).

Makanya di hari ini, aku berharap semoga Allah senantiasa merahmatiku
(kami) dengan Al Qur’an dan menuntun kami agar selamat sampai menemukan
surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai yang jernih, yg warnanya hijau, dan
kita tinggal bertelekan di sana dengan wajah yang puas.

Amin.. amin.. amin..

 

Lalu jadi inget bujukan yang entah kesekian kalinya untuk kembali ke
Jepang. “Kembali ke Jepang, ya Yu?!” tapi bujukan kali ini terasa begitu menohok
bagiku. Dalam pikiranku detik itu. Kalau aku kembali ke Jepang, pastilah aku
diharapkan bisa memberikan banyak perbaikan di sini. Padahal saat itu juga, aku
merasa kapasitasku belum sebaik itu. Belum jadi muslimah tangguh yang begitu
tangguh menjalani segala ujian hidup dan menunjukkan jalan2 kebaikan kepada
banyak orang di Jepang. Rasanya masih belum berbuat apa-apa. Kalau aku balik ke
sini, apa yang bisa kusumbangkan ya? Aku jadi malu..

Trus jadi inget juga, waktu dulu pgn buru2 lulus kuliah, disindir dengan
pertanyaan, “sebelum lulus, sudah ninggalin kontribusi apa untuk dakwah
kampus?”

Dan kalau dianalogikan dgn keberadaanku di Jepang, maka sebelum pulang,
sudah berkontribusi apa buat dakwah di jepang?

 

Lalu aku memandang foto sekumpulan anak DS yang kini sudah terpajang rapi
dengan frame di depan mejaku.

Mereka hebat. Mereka hebat, beruntung kalau bisa menikah dengan salah
satu dari mereka (hey, aku tidak membicarakan diriku, juga tidak mempromosikan
diriku… yang kumaksud mereka lo, bukan aku)

Kalau aku merasa lemah berada sendiri di sini, mereka pun mungkin juga
mengalami itu. Mereka juga sendiri, kini tinggal membuktikan bahwa DS bukan
sebuah negeri utopia, di mana orang2 hanya bisa baik saat berada di negeri
angan2 itu dan ga baik lagi kalau jauh darinya. Tapi memang harusnya kita harus
menciptakan DS-DS lain di manapun kita berada. Menciptakan rumah kita sebagai
rumahnya orang-orang (yang berusaha untuk) sholihah. Termasuk buka cabang di
luar negeri, hehehe.

 

Wuih, udah panjang. Rasanya aneh juga nulis hal seperti ini di blog yang
akan dibaca banyak orang. Tapi gapapa deh,

kan

judulnya momentum ulang tahun,
biar inget, biar besok2 bisa dibaca-baca lagi, biar jadi pengingat di kala lupa
dan lemah, dan semoga saja ada yang bisa dapet manfaat dari yang kutulis. Karena
blogku

kan

memang isinya tempat
sampah aja, dan enggak beda dengan pengantar di halaman depan MP-ku tentang
makna menulis bagiku.. salah satunya, menulis untuk meneguhkan langkah yang
terseok..

23sai ni naru?

March 20th, 2008 by ayu-shalihat
Benarkah besok aku akan berusia 23? cepet ya, rasanya baru
kemarin aku ulang tahun ke 22. Kalau dulu kita suruh menghitung usia dengan
dikali dua, kalau umurku sekarang 23, maka anggap saja sudah 46 tahun. Kalau
usia manusia rata-rata 60 tahun? berarti jatahnya tinggal 14 tahun lagi, masih
dipotong waktu tidur juga. Aduh, jadi ngeri. Makanya kalau milad jadi suka bikin
momentum, biar inget bahwa besok, di usianya yang sudah semakin berkurang, harus
jadi manusia yang lebih baik.

Dari dulu, sering bergulat dengan waktu.
Kalau tidak bisa mengaturmya, kitalah yang terpenggal oleh pedang waktu, dan
tidak bisa kembali lagi.

Masih harus banyak belajar menata hidup.
Pekerjaan yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Enggak boleh
bermalasan ya….  Kalau orang-orang pada niat ngitung jam buat baito, harusnya
aku juga semangat baito di perusahaannya Allah dong ya. Beramal.. beramal dan
beramal. Malah harusnya bukan baito lagi ya, tapi berusaha jadi bucho ato kacho.

Memang bukan hal mudah, tapi bismillah.. semoga bisa terus memperbaiki
diri.

enggak kerasa sudah 23 tahun
dari hari ku dilahirkan, 12 rabiul awwal 1406 H

Mikir-mikir sambil ndengerin lagu Demi Masa-nya
Raihan

Sahabat..?!

March 20th, 2008 by ayu-shalihat

Hey, kita begitu berbeda…! Seru temanku. Namanya Malakhone, orang Laos yang
begitu cinta Indonesia. Katanya ia menyukai Indonesia lebih dari ia menyukai
Jepang, meskipun jelas Jepang dan Indonesia sangatlah berbeda.

Kecintaannya pada Indonesia menjadi salah satu sebab juga kedekatan
kami. Terlebih karena kita tinggal satu kelas, dan satu lantai di asrama
ini.

Tapi tidak lantas kedekatan itu membuatku merasa dia sebagai
sahabat. Sekarang aku sulit sekali memberi label ’sahabat’ pada orang lain.
Kalaupun ada, dia haruslah orang yang dekat, yang cocok, yang nyambung, yang ada
ikatan hati, intinya ’spesial’. Atau kata Mas Galang, sahabat itu yang mengerti
apa yang akan kita katakan tanpa perlu mengatakannya.

Celotehan itu
sebenarnya muncul tidak sengaja waktu perjalanan pulang ke asrama. Dia bilang,
"aku suka sekali melihat gunung fuji, dan rela duduk berlama-lama di sini asal
bisa lihat gunung fuji. Sedangkan aku berjalan di sampingnya sambil cuek bebek.
Sekilas saja melihat fuji san yang terlihat pucuk-pucuknya saja yang putih
karena salju. Lalu tanpa perasaan aku menyeletuk, "Kalau aku suka lihat bulan,
aku mau suruh duduk lama untuk memandangi bulan." sebenarnya itu kalimat yang
diperhalus dari, "Apa sih yang bagus dari lihat gunung, ayo jalannya cepetan.
Bagusan juga nanti liat bulan." Karena sebenernya jawabanku tadi karena lagi
malas menunggunya yang berlama-lama jalan sambil melihat fuji-san. Padahal waktu
itu aku harus buru-buru pingin ke kamar, belum sholat zuhur.

"Kamu suka
lihat bulan? Hey, kita begitu berbeda, kamu juga suka hujan, dan aku benci
hujan." serunya mengambil kesimpulan.

Tentunya selain itu masih banyak
lagi perbedaan kami. Namun bukan karena itu juga aku merasa tidak bisa
memberinya label sahabat, cukup teman biasa, meski ia begitu mencintai Indonesia
(apa hubungannya ya?)

Lalu, siapakah sahabat menurutku? siapa
ya…

Kalau sama anak2 DS, rasanya ada ikatan hati, hanya saja jarang
bisa punya waktu buat main bareng sebagaimana layaknya sahabat. Mereka semua
sibuk (aku juga, dulu) jadi rasanya tak punya waktu utk sekedar jalan2 mengukir
kenangan persahabatan.

Kalau yg sering main bareng, tentunya sama anak2
FLP Jogja. Sering menderita bersama (kaya kesannya FLP penuh pendeitaan ya?!),
itu yang bikin jadi deket. Seneng-senengnya? cuma buat makan bareng, hehehe.
Namanya juga FLP (Forum Lingkar Panganan, eits singkatan ini hanya utk oknum2
tertentu lo).

OTT. Seandainya ada dua orang yang begitu berbeda, bisakah
mereka bersahabat?

Hati-hati Jaga Hati

March 10th, 2008 by ayu-shalihat

Ada hadits yang mengatakan, "Ada segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jiwa itu. Segumpal darah itu adalah hati." Mungkin hati yang dimaksud dalam hadits itu adalah qalbun, tapi enggak ada salahnya juga kalau kita memperhatikan organ hati kita. Segumpal darah itu juga punya tugas berat dalam kerja tubuh kita. Kalau fungsinya rusak atau terganggu, kayanya juga akan berakibat buruk bagi kesehatan kita.

Tadi barusan nemu artikel ttg kesehatan hati. Baru sadar kalau ternyata aku belum hidup sehat. Padahal nanti nikmat sehat juga akan ditanya ya.. apalagi kalau kebetulan jadi aktivis, orang penting, orang yang hobi dakwah dan berbuat kebaikan, harusnya ekstra menjaga kesehatannya. Kalau pada sakit dan meninggal muda (di luar konteks takdir ya) lalu siapa yang akan berbuat kebaikan di muka bumi ini.

Ini hasil copy paste-ku. Yuk sama2 mulai hidup sehat.

Penyebab utama kerusakan hati adalah :

  1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang  adalah penyebab utama
  2. Tidak buang air di pagi hari
  3. Pola makan yang terlalu berlebihan
  4. Tidak makan pagi
  5. terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan
  6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan, dsj.
  7. Minyak goreng yang tidak sehat. (sedapat mungkin kurangi pengunaan minyak gorreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goring terbaik sekalipun seperti  olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam keadaan kondisi tidak fit)
  8. Mengkonsumsi makanan mentah ataupun terlalu matang hal ini manambah beban kerja hati. Sayuran yang digorang harus dimakan habis jangan disimpan.

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur

gaya

hidup dan pola makan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya (sunnatullah  pen).

Jadwal  di dalam metabolisme tubuh kita adalah :

-         malam hari pk 09.00 – 11.00 adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian system antibody (kelenjar getah bening)……… selama durasi waktu ini seharusnya dialalui dengan suasana tenang misalnya baca Al Qur’an, bukan pergi ke konser rok yak. Bila saat itu dalam kondisi tidak santai seperti misalnya masih di Mall dan sekitarnya … dan atau aktifitas berat lainnya, ini berdampak NEGATIF bagi kesehatan.

-         Malam hari pk 11.00 01.00 : saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam keadaan tidur pulas !!

-         01.00 – 03.00 proses de-toxin di bagian empedu, juga harus berlangsung dalam kondisi tidur.

-         03.00 – 05.00 de-toxin bagian paru-paru…. Oleh sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini, Karena proses pembersihan (de–toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

-         05.00 – 07.00  de toxin bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil

-         07.00 – 09.00 waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi.

Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi  sebelum jam 6.30. Makan pagi sebelum jam 7.30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan.

Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaanya, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi  hingga jam 09.00 – 10.00 daripada tidak sama sekali.

Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna.

Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itulah, tidurlah yang nyenyak dan jangan BEGADANG…….(diambil dari Kusumahadi HPT24.1249).

Ps. Pen : subhanallah ya ! pantesan 14 abad yang lalu Manusia Termulia di sisiNYa Muhammad SAW berpesan tidurlah di awal waktu dan bangun di awal waktu.

Ikhwan Ciluk Ba!

March 7th, 2008 by ayu-shalihat

Ini malam terakhir bersama Hamidah di Jepang. Lusa, dia akan
pulang, ke Indonesia, ke Yogyakarta, bertemu kembali dengan amah-amah Darush
Shalihat yang insyaAllah selalu dirahmati Allah.

Kami saling membelakangi, dengan laptop masing-masing.
Banyak pekerjaan yang belum tersentuh selama beberapa hari ini. Sudah lebih
dari dua jam kita saling membelakangi, sibuk sendiri tanpa bercakap satu sama
lain. Lalu kita tertawa bersama, dia tertawa sendiri karena apa yang dilihatnya
di laptopnya, begitu juga aku. Ketawa sendiri waktu baca cerpen salah satu
penulis favoritku (yay!!) yang judulnya “Ikhwan Ciluk Ba.” Apalagi di ceritanya
itu ada nama yang kebetulan mirip eh sama dengan namaku, hohoho… Asli lucu!!! Apalagi
sambil bayangin tokohnya yang kata2nya polos dan lucu. Bayangkan bagaimana
seorang akhwat yang penasaran dengan hobi GB para cowok/ikhwan tiba-tiba bikin
terobosan dengan melongokkan wajahnya di bawah seraut wajah ikhwan yang sedang
menunduk, menjaga pandangannya, sambil dengan ceria mengatakan. “Ciluk Ba!!” Sebuah
cerita menarik yang membuatku memunculkan kembali pertanyaan yang dari dulu
ingin kutanyakan. Tentang ghadul bashar, menundukkan pandangan.

Apakah kita wajib ghadul bashar ke semua lawan jenis, baik
pada yang secara sengaja atau tak sengaja dapat gelar ikhwan (meskipun sbnrnya
ikhwan itu semua laki-laki muslim, deshou?), setengah ikhwan/ikhwan sepotong,
yang bukan ikhwan, yang anak gaul juga, atau bahkan di kasusku sekarang
bagaimana dengan orang asing? Kalo orang2 di Indonesia mungkin sudah enggak asing kalo ada sebagian orang yang suka nunduk2 gitu dalam
rangka GB. Tapi kalo orang asing, mereka

kan
enggak tau…, kadang bingung utk bersikap. Tapi, meskipun sama bule kulit putih,
kulit kuning, kulit item, kulit pink, dll, bukankah cinta dan bisikan syetan
itu ttp bisa datang dari tatapan mata? Lalu bagaimana?

Kalau dulu waktu diskusi sama satu temen, katanya utk ke
orang umum, semisal temen2 sekelas kita yang belum paham konsep GB ini maka
kita ga usah terlalu GB biar ga dianggap serem ato menakutkan. Itu bagian dari
fiqih dakwah katanya. Tapi waktu itu aku mendebat. Kalo sama ikhwan harus GB,
maka ga adil dong kalo sama ikhwan yang ga dapet gelar ikhwan (temen2 sekelas
tadi misalnya), kita jadi enggak GB. Berarti milih-milih dong, kan perintah menundukkan pandangan ditujukan tidak hanya utk ikhwan atau akhwat,
atau golongan2 tertentu. Dan sekarang, klo dianalogikan, maka kasusnya sama
dengan harus jugakah kita GB ke lawan jenis orang asing? Kalo di sini, kadang
penasaran liat gaya rambut orang
Jepang yang aneh2, suka jegrik sana-sini, wah.., jadinya ga GB nih… Takut juga
klo terbiasa ga GB di sini, tar waktu pulang jadi enggak bisa GB lagi. Semoga
tidak. Semoga tidak.

Ttg GB juga, pernah ada ikhwan yang cerita, klo mau GB itu
susah. Memandang ke bawah, ada aurat perempuan yang tidak ditutup, memandang ke
atas juga ada yang tidak boleh diliat, memandang lurus ke depan, banyak juga
yang model pakaiannya terbuka di sana-sini. Iya juga ya…

Susah ya.., tapi makin susah, pasti pahalanya makin besar ya… Jadi masa mau ga GB?

Maunya Apa sih, Yu?

February 27th, 2008 by ayu-shalihat

"Apa sih yang bikin enggak betah di Jepang?" tanya seorang teman.
Apa ya? karena enggak ada DS dan teman-temanku yang dulu tinggal bersama di sana, shalat jamaah, murajaah dan setoran hafalan (meski sesi ini dulu terasa mengerikan, tapi ternyata kangen juga), pelajaran, makan bareng, juga kalau liat orang-orang baik di sana, kayanya inspirasi berbuat baik enggak habis-habis deh. Kalau di sana, aku anak nakal atau yang termasuk biasa2 saja, karena banyak yang jauh dan jauh lebih baik dari aku.

Lalu tadi baca milis, ada kesempatan exchange ke Jepang lagi, kali ini ada 2 kesempatan, bisa dateng pas musim gugur, bisa juga pas musim semi. Detlennya masih bulan desember,berarti aku sudah pulang dan musim semi bisa ke Jepang lagi setelah selesai sidang skripsi, wisuda enggak penting, yang penting dinyatakan lulus. Aku langsung girang, berarti bisa apply lagi dong.

Sejenak berpikir, berarti dari 3,5 tahun kuliah bisa nambah 2 tahun exchange ke Jepang, total 5,5 tahun kuliah S1. Mendingan S2 kali ya.. Sejenak berpikir, aneh…, Ayu aneh.., sebenarnya apa maumu sih, Yu? mau ke Jepang lagi? apa mau di Indonesia aja dan melakukan sesuai rencana sebelumnya? atau belajar bahasa Arab terus ke Mesir? duh, entah lah…

Hikmah Hari Ini?

February 22nd, 2008 by ayu-shalihat

Pagi ini aku berencana bersilaturahim ke rumah seorang sahabat. Di sini
jadi seneng silaturahim (udah bisa dibilang seneng belum ya?). Padahal
di Indonesia item mutabaah yg paling sering kosong adalah amalan
silaturahim. lalu seperti biasa, aku jadi satu-satunya yang masih
single -sama sekali tidak bermaksud promosi, hanya menjelaskan betapa
aku sering -sengaja atau tidak- kumpulnya selalu dengan orang-orang
dewasa-. Tentu saja kami tidak mengobrol politik, tapi mengobrol hal yg
ternyata lebih menarik perhatianku, cara memasak masakan ini dan itu,
masalah mendidik anak, menjaga kesehatan saat hamil dan menyusui,
kesehatan anak dan ibu melahirkan, dan pokoknya bikin aku jadi banyak
tau lebih awal, hehehe. Apalagi selalu hadir akachan-akachan yang ikut
meramaikan acara kumpul-kumpul itu, dimanapun itu! Sebelum pergi, kami
juga sempat menengok adik yang baru berumur 21 hari, baru lahir..

Setelah itu, kembali melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan
kereta. Waktu-waktu diam di kereta adalah waktu-waktu untuk berpikir,
waktu dimana kadang-kadang renungan tentang hidupku muncul berkelebat
lalu menjadi buah pikiran.

Hari ini aku kembali berpikir bahwa aku harus memanfaatkan waktuku
untuk menulis selama liburan ini, tentunya juga harus dengan acara
jalan-jalan. Setelah novel ttg kisah Mita, seorang gadis ceroboh yang
begitu mencintai Yogya, kali ini aku ingin menulis ttg kisah lika liku
dan romantisme dakwah di negeri sakura. Jangan ngomong aja, Yu,
buktikan dgn nyata, ada tulisannya! Tujuannya? dakwah, insyaAllah.
Beberapa kali baca novel2 umum Indonesia yg kata orang2 novel2 itu
adalah novel2 bagus, tp ternyata menurutku enggak bagus, teknik
penceritaannya biasa aja, malah bikin pikiran tercemar dan ga sehat
(banyak cerita vulgar yg kelewat vulgar). Nah, lalu mengobrol dengan
sahabatku Mbak Desi -ya, sahabat, karena dengannya lah, hampir tiap
hari aku mengobrol panjang, termasuk menghabiskan siang bersama di
Taman Pintar, halah..- katanya dia menulis karena ingin menghasilkan
bacaan yang bagus buat adek kesayangannya. Kalau enggak ada FLP,
penulis2 FLP yg menghasilkan bacaan berbau kebaikan, maka mungkin anak2
seperti Lia akan membaca novel-novel ‘tidak mencerdaskan’ yg tadi
kuceritakan.

Kok, nulisnya jadi kemana-mana sih? Intinya, hanya ingat bahwa aku
harus bekerja keras untuk bisa berdakwah lewat tulisan itu, meskipun
kecil, tapi kan kita sedang berjual beli dengan Allah ya. Dakwah tak
butuh aku, tanpa akupun kereta dakwah akan berjalan kencang dan
mencapai kemenangannya. Tapi apakah aku mau jadi orang yang sama sekali
tidak menyumbangkan apapun dalam kemenangan itu? kemana aja, Yu?
.
Tapi juga bukan itu yang akan kutuliskan. Tadi juga sempat terpikir
apakah tokoh novelku itu- si ceroboh Mita memang aku ya? Jadi ceritanya
tadi aku mau ngisi pasmo. Eh, dompetku ternyata ga ada, dimana???
hilang? terakhir aku masih bisa bayar bis pake uang receh, lalu dimana
dompetku? ketinggalan di bis? oh, tidak.., kutengok ke luar, ternyata
bis sudah kembali berjalan meninggalkan stasiun. Aduh, gimana nasib
dompetku? uang buat pulang? juga surat-surat penting di dalamnya??? Ih,
kalau gini Ayu jadi kaya Mita banget, ceroboh!

Mbak Silvi yang lagi beli tiket di sampingku ikut bingung, duh.., gimana??
Lalu tiba-tiba beliau ditelpon, aku ga peduli. dompetku gimana???

Ternyata yang telpon Hana san, dompetku ketinggalan di masjid, dan akan
diantar ke stasiun. ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIN…., subhanallah…,
Allah menolongku dgn tidak terlalu lama membuatku khawatir. Ya Allah..
Dan tak lama, Hana san pun muncul membawakan dompetku. Alhamdulillah…

Begitu pulang aku langsung nyalain laptop, mbak Desi online, lalu
kuceritakanlah pengalamanku hari ini. Lalu seperti biasa, Desi memarahi
Mita yang ceroboh. (baca: Mbak Desi memarahi Ayu yang ceroboh, Desi dan
Mita adalah tokoh fiktif). Lalu ada teman lain yang mengajakku ngobrol,
menyeretku masuk dalam chatnya dengan mbak-mbak yang lg curhat padanya.
Mbak2 itu tinggal serumah sama cowok2, mengerikan bukan? Lalu temanku
itu memintaku untuk membantu biar mbaknya kembali ke jalan yang benar.
Sebelumnya aku sudah memperingatkan, mungkin mbak itu bohong, hanya
cari bahan pembicaraan hanya agar bisa mengobrol dengannya. Lalu
kuperingatkan juga, bahwa perempuan tak suka masalahnya dicampuri orang
lain yg tidak dikehendaki (perempuan atau aku ya??), dan beberapa macam
peringatan lain. Tapi akhirnya aku chat juga sih sama si mbak itu. Dan
ternyata??? mbak itu dalam chatnya denganku mengaku sebagai mas,
laki-laki, oh…, tertipu deh kita!!! Pelajaran, jangan terlalu polos
dan percaya dengan orang yg tidak dikenal dalam chat di dunia maya!

Udah, nulis itu ajah, catatan hari ini. Biar ga lupa, kenangan yg
mengikat hari selama di Jepang. Ilmu dan hikmah itu harus diikat dengan
tulisan. Atau seperti kata mbak Sita, semoga semua ini nanti akan ada
artinya… Dan yang lebih penting lagi, semua kejadian itu pasti ada
hikmahnya, dan sudahkah kita menjadi orang-orang yang mengambil
pelajaran dari hikmah setiap peristiwa? pelajaran dan ujian yang tiap
hari Allah berikan untuk kita… Ya, semoga kita bisa selalu
memaknainya..

Malam ini bulan indah ya..

February 21st, 2008 by ayu-shalihat

Hanya merasa hari ini sedikit lebih baik dari kemarin, atau dua hari
kemarin. Pasalnya hari ini aku keluar menghirup udara segar dan merasa
dunia ini begitu cerah. Membuat perasaanku jauh lebih baik daripada
pada hari-hari yang kuhabiskan dalam sepetak kamarku, duduk, menunggu
email masuk, membalas, dan mengawali kalimat-kalimat awal proyek bukuku.

Setelah kemarin disarankan untuk jalan-jalan oleh teman-teman yang
bertemu di YM, akhirnya pagi tadi kubulatkan tekad untuk menghabiskan
hari ini dengan jalan-jalan di berbagai tempat. Tujuan pertama ke
Harajuku, cuma pingin lihat seperti apakah sebenarnya Harajuku itu?
udah satu semester belum pernah nginjak Harajuku. Sebenarnya juga
karena ingin nyari taman yang bisa buat duduk, membaca, dan menulis,
lalu kebetulan di Harajuku ada Yoyogi Park, kupikir aku bisa
duduk-duduk dengan nyaman di sana.

Matahari pagi bersinar cerah, musim dingin sepertinya sudah mulai
terusir perlahan, hangat mulai terasa. Sinar matahari menembus hangat
lewat jendela kereta ke Shinjuku. Lalu akupun tersenyum mengiyakan,
pergi dan beraktivitas seperti ini pasti akan membuat pikiranku lebih
segar dan sehat. Kejutan pertama, disapa sama Muslimah Jepang
berjilbab. Senangnya… Lalu setelah sampai di Harajuku, ternyata
banyak orang kulit hitam ya, dan dua di antara mereka mengucapkan
salam, assalamu ‘alaikum. Senangnya lagi… Di Harajuku aku terjebak
belanja, maka belanjalah aku, barang-barang yang dibeli pas romantis
mode on, jadinya aku beli kertas ada lope-lopenya, lalu coklat (meski
aku harus berhenti makan coklat, tp gara2 nemu coklat dengan label
halal malaysia, aku tak kuasa untuk tak membelinya), lalu kertas kado
pink, dan lakban pink, (bawaannya dah mikir pulang, dan pasti nanti
butuh lakban, lagipula lucu kalau warnanya pink), oleh2 buat ponakan,
dll. Lalu asal jalan aja dan nemu toko sepatu, teringat ibuku yang
pingin dibeliin sepatu di Jepang. Jadilah kubeli sepatu juga, untung
enggak beli yang pink juga, hehehe.

Setelah selesai belanja, -andai bawaanku ga banyak dan berat plus masih
bawa uang aku khawatir masih akan melanjutkan sesi belanja- aku mencari
Yoyogi Park. Karena sok tahu, akhirnya nyasar dan jalan sampai jauh.
Alhamdulillah nemu Yoyogi Park juga, tapi ternyata ga gitu bagus,
makanya enggak lama-lama di sana, cuma numpang makan siang lalu pergi
lagi.

Setelah mengalami beberapa kali salah naik kereta, akhirnya aku nyampe
di Edo Tokyo Musium. Masuk lah ke sana dengan bawaan berat yang bikin
enggak enak buat jalan dan ga bebas bergerak buat ambil foto, plus
enggak ada yang motoin aku karena perginya sendirian. Sebelum pulang ku
mampir ke sungai deket sana, baca buku dan baca Qur’an dan terjemahnya,
sambil makan coklat yang tadi kubeli. Romantis dan berhasil
mendatangkan inspirasi menulis, hehehe. Mungkin besok-besok asyik ya
kalau nulis dan bacanya di alam terbuka gini. Karena semakin sore
anginnya semakin dingin, akhirnya pulang deh. Enggak jadi sampe malam
karena sudah capek. Sampai di asrama, liat bulan purnama, indah
sekali…, ya ya ya.., hari ini rasanya lebih indah. Seandainya enggak
dingin, maka aku pingin baca buku di luar beranda aja sambil ngeliatin
bulan. ihi…
Udah, nulis itu aja. Buat laporan ke Mbak Desi kalau hari ini aku dah jalan-jalan.

Negeri Impian

February 17th, 2008 by ayu-shalihat

Semester pertama di gaidai sudah berakhir. Cepat sekali
rasanya. Sebagian anak program exchange yang datang bulan April lalu akan
pulang. Berarti semester depan gentian aku yang akan pulang. Sejenak jadi
membayangkan, mencoba mempersiapkan diri dan berangan-angan bahwa aku juga akan
menghadapi hari ketika harus berkemas, memasukkan barang-barang dalam koper,
mengatur jadwal pulang, dan kembali harus mengalami sebuah kata perpisahan.
Banyak yang menawarkanku agar setelah pulang nanti kembali lagi ke Jepang.
Ajakan itu yang kemudian membuatku berpikir ulang tentang makna sebuah negeri
impian.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengaku ingin segera
mengakhiri masa kunjungnya di Jepang dan ingin kembali ke

Indonesia

yang gemah ripah loh jinawi itu. Satu hal yang aneh menurutku, karena kutahu
Jepang bisa dikatakan sebagai negeri impiannya sejak dulu kala. Kenapa malah
sekarang ingin pulang, padahal belum genap enam bulan. Saat temanku itu
mencurhatkan inginnya itu, satu teman lagi langsung mengatakan sedang mengalami
hal yang sama, ingin pulang saja, padahal keduanya dulu sangat-sangat
mengimpikan bisa hidup di negeri sakura ini. Lalu aku menanyakan pada diriku
sendiri, ah biasa aja, di jepang seneng, pulang pun juga seneng. Sambil nyanyi
Di sini senang di

sana

senang di
mana-mana hatiku senang.

Dulu aku tidak pernah terbayang untuk hidup bisa ke Jepang.
Tadi waktu di densha, aku juga jadi mikir, kok bisa ya aku nyampe Jepang? Ya,
mungkin garis hidupku sudah begitu. Kalau enggak ditakdirkan pasti enggak akan
sampai ke Jepang juga. Sejujurnya salah satu alasan ke Jepang adalah untuk
melarikan diri sejenak dari segala kebosanan atas rutinitas di Yogya. Saat itu
sedang bosan dengan masalah di organisasi, bosan karena aku selalu ngantuk di
kelas saat pelajaran, sedih rasanya. Bosan dengan rutinitas kuliah, bosan
dengan suasana di agenda satu mingguanku, bosan dengan rutinitas yang setiap
hari begitu-begitu saja. Lalu tiba-tiba di H-1 deadline pengumpulan sebuah
tawaran beasiswa, ada dorongan semangat yang tiba-tiba muncul. Membisikkan
bahwa mungkin aku memang ditakdirkan untuk ke Jepang. Kebetulan batas
pengumpulan diperpanjang, lalu aku apply, berdoa, dan akhirnya berangkat deh ke
Jepang. Bisa dikatakan hanya kebetulan saja aku ada di sini. Apakah akan
kembali ke sini setelah lulus kuliah aku masih belum tahu. Seandainya bisa
dapat beasiswa pasti bagus, paling tidak aku bisa hidup sejahtera tanpa banyak
berpikir. InsyaAllah uang beasiswa cukup untuk hidup dengan layak di Jepang.
Sekolah dibayarin, tinggal dateng ke kelas, belajar, ujian, nunggu lulus.
Apalagi perasaan pelajaran di sini enggak seberat pelajaran-pelajaran politikku
di UGM. Eh, enggak tahu yang sebenarnya ding, ini hanya sebatas pengalaman
kelas ISEP dan kelas S2 Peace and Conflict Studies yang aku ikuti. Kadang
berpikir xenophobia, bahwa yang dari luar negeri selalu lebih baik daripada
produk dalam negeri. Apa benar lulusan politik Jepang akan lebih bagus daripada
lulusan UI ato UGM? Sementara aku tahu Jepang tak pernah disebut-sebut sebagai
sumber belajar ilmu politik. Kalau ilmu sainsnya memang enggak diragukan, tapi Jepang
untuk belajar politik? Uhm…, jadi berpikir lagi apa kualitas keilmuan yang
kumiliki nanti memang lebih baik daripada bila itu diasah di

Indonesia

, atau aku hanya sekolah untuk mengejar gelar luar negeri saja? Biar nampak
keren, lalu jadi bagian dari CV buat kampanye jadi aleg? Enggak boleh

kan

kalau niatnya seperti itu? Kecuali niatnya memang untuk dakwah, dll yang lebih
syar’i. Untuk itulah aku belum bisa memastikan apakah nanti akan kembali untuk
melanjutkan hidup di Jepang. Hehehe. Just wait and see. Hahaha, aku tiba2 jadi
ingat pada tokoh novelku sendiri yang tak kunjung bisa memutuskan apa ia akan
pergi ke Jepang atau enggak.

Lalu pikiranku melayang pada Yogya. Kalau di novelku,
tokoh-tokohnya sepakat bahwa kebahagiaan itu ada di sini, di Yogya, buat apa
pergi kalau kebahagiaan sudah ditemukan di sini. Maka apakah Yogya adalah
negeri impianku yang sebenarnya? Lalu aku mencoba mengais ingatan masa lalu
lagi. Sebenarnya juga dulu aku tak ingin ke Yogya. Yogya itu ndeso, hehehe. Aku
sungguh ingin ke UI, sepertinya orangnya militan2. Tapi karena enggak dapat
izin, maka setahun pertama aku berusaha untuk mencintai Yogya, dan berhenti
menyesalinya. Dan akhirnya setahun kemudian, saat aku sudah banyak belajar di
FLP Yogya lalu disusul menemukan sebuah rumah kedamaian, aku benar-benar jatuh
cinta pada Yogya dan bersyukur bisa tinggal di kota itu, hingga aku enggak
terlalu sedih untuk menghabiskan hari-hari libur di Yogya saja, tidak pulang ke
rumah. Hingga sampai saat ini yang kurindukan adalah Yogya, terutama satu titik
kecil di Mlati, Sleman.

Lalu tadi chat sama temen di Mesir. Wah, jadi ingin ke
Mesir. Negeri di mana banyak sekali orang yang hafal Qur’an. Aku selalu ngefans
sama hafidz dan hafidzah juga yang punya gelar Lc, lulusan Al Azhar University.
Negeri yang di bis-bisnya orang-orang biasa baca Qur’an, negeri yang dekat
dengan jejak-jejak para nabi, jadi pingin ke

sana


Tapi sebelum ke Mesir, lebih pengin lagi ke Mekah, naik haji, berziarah ke
tempat Rasulullah pernah hidup, menjejak tanahnya, mengelilingi ka’bahnya.

Lalu waktu kemarin dipaksa untuk curhat, aku hanya bilang,
di Jepang aku kok hima banget ya dibandingkan dengan segala kesibukanku dulu di
Yogya. Saat membayangkan nanti akan pulang, aku berpikir kalau aku akan kembali
pada kesibukan membina, mengejar mutarabbi untuk janjian ketemuan, mengurusi
segala urusan organisasi dan amanah lain, hpku akan kembali penuh sms undangan
rapat, dll, dst. Lalu dengan bijak seorang mbak bilang, “Ya, di sinilah mungkin
waktunya Ayu untuk istirahat sejenak. Ibarat seorang tukang kayu, enggak baik
bila ia terus menerus bekerja tanpa berhenti. Di sini harus dimanfaatkan untuk
menghirup udara segar, menyuplai energi dan semangat, untuk kemudian berlari
kembali setelah kembali ke

Indonesia

.
Harus berkarya lebih baik dari sebelumnya, lebih semangat, lebih optimal.” Aku mengangguk-angguk.
Mungkin itu benar. Paling enggak aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan
novel, punya waktu untuk merenung lewat lbh banyak menulis, belajar masak, (hehehe),
mungkin juga agar punya waktu yang tenang untuk menulis skripsi yang baik dan
benar. Harusnya mungkin ditambah menambah hafalan dengan lebih efektif ya…, ayo
dong semangat, Yu!

Liburan dua bulan sudah di depan mata. Tinggal dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya. Sebelum waktu luang itu berganti dengan kesibukan. Sebelum
nanti aku akan pulang kembali ke negeri impian.

Ngomong-ngomong ttg negeri impian, jadi terpikir bahwa nanti
akan tiba saat akan menuju negeri impian, negeri abadi yang didalamnya mengalir
sungai-sungai jernih, di dalamnya bertaburan keindahan yang tak pernah terkira,
wajah-wajah yang tampan, cantik, dan indah dipandang mata, kenikmatan yang
tiada tara, ucapan salam dan kata-kata lembut yang menyenangkan. Ah, bisakah
aku mencapai negeri impian itu? Ya Allah, izinkanlah aku hidup di dalamnya,
dengan ridhoMu.

Valentine, Coklat, dan Cinta

February 14th, 2008 by ayu-shalihat

Besok ujian kanji, oh tidak…! Tapi berhubung sudah terlanjur
connect internet dan pingin nulis sesuatu, ya sudah lah. Semoga besok, hari
terakhir ujian, hari sebelum libur 2 bulan (aku baru sadar kemarin kalau akan
libur dua bulan), ujiannya dimudahkan, amin..

Hari ini tanggal 14 February, so what? Kata orang Valentine
day. Aku lupa kalau ini valentine sampai saat tadi Sandra ngasi coklat ke Wahib
san dan Andres san, dan waktu tadi di communal kitchen, Laura cs lagi bikin kue
coklat, buat valentine katanya. Oh, valentine ya?

Kalau valentine identik dengan coklat. Justru hari ini,
mungkin pertama kalinya aku belanja ke Seijo tanpa beli coklat, hehehe. Pertama
karena sadar bahwa sepertinya aku harus berhenti makan coklat banyak2, apalagi
di saat malem2 begini. Bahaya. Lain alasan, karena lumbung coklatku masih
banyak, hehehe. Semoga tidak tergoda untuk makan coklat banyak2. Paling tidak
coklat2 itu sudah sempat difoto dalam berbagai pose biar kenyang melihat dan
enggak tergoda makan.

Lalu siang tadi ngobrol lagi dengan Mbak Desi di YM. Aku
mengutarakan niatku untuk menggunakan dua bulan ke depan untuk menulis novel
lagi. Kali ini pingin yang ada kisah2 cintanya, Tokyo Love Story. Tertantang karena novelku yang sebelumnya semua kisah
cinta di dalamnya didelete jauh2. Wagu dan aneh katanya. Ya, memang enggak tahu
bagaimana mendeskripsikan perasaan cinta, enggak tahu bagaimana membuat ceritanya
tidak wagu. Bagaimana ya?

Ok, sebenarnya bukan coklat, cinta, dan valentine yang ingin
kutulis di awal niat tadi. Tapi mau nulis pelajaran membuat roti yang kuajarkan
pada Voleak. Tidak menyangka ada orang-orang yang niat sekali belajar masak
padaku dibela-belain di hari ujian begini. Tadinya aku bilang enggak ada waktu
untuk itu, tapi akhirnya kita masak bersama di kamarku, aku masak capcay buat
makan malam dan dibawa besok sekalian, sementara Voleak –dengan instruksiku-
akan mengaduk-aduk adonan kue. Takarannya asal saja, karena aku tidak pernah
pakai takaran dalam memasak, memasak itu pakai perasaan. Memasaklah dengan
cinta. Aku lebih semangat kalau masakin orang lain, daripada masak sendiri,
makan sendiri. Makanya kadang2 kirim makanan ke Dini dan Himmi dan seneng kalau
dapet tugas piket masak. Bahkan kubercita-cita setelah pulang ke DhS nanti, aku
akan mengambil alih tugas2 memasak harian, hehehe, baru keinginan, entah kalau
berubah pikiran. Dengan semangat cinta, hasilnya akan lebih enak. Tapi kalau
ternyata enggak sesuai harapan ya kumakan sendiri.

Kembali ke pelajaran memasak kue, setelah adonan siap kita
pergi bersama ke communal kitchen untuk mengopen kue itu. Karena dasarnya aku
juga enggak bisa, sekedar eksperimen bin kira-kira, kalau jadi Alhamdulillah,
enggak sukses ya dinikmati saja, maka aku pun tak tahu cara efektif memasak
-terutama bab mengopen- roti. Sayangnya Voleak sepertinya tipe orang yang
melakukan sesuatu dengan benar. Kalau kita set setengah jam, maka harus diambil
tepat setengah jam. Alhasil, setengah jam roti bagian atas sudah sawo matang
(pinggirnya gosong2 dikit, hehehe), dan dalemnya masih mentah. Voleak bingung
dan menuntut pertanggungjawabanku. Dosyoukana… Ya, akhirnya setelah lama
berpikir dan merasa bersalah karena telah memberikan instruksi yang salah untuk
roti kebanggaan Voleak –her first cake- akhirnya aku eksperimen lagi, hehehe.
Memasukkan adonan itu lagi dan menyuruh Voleak datang lagi ke kitchen 50 menit
lagi. Dan alhamdulillah pada pukul 21.24 ada email yang masuk ke hpku, dari
Voleak. “At least, it is cooked. Thank you very much my dear Ayu! I’m really
happy with my first cake! Let’s eat together tomorrow. Good night!”

Dan akupun bernafas lega. Ingin sekali kukatakan pada
Voleak, memasak itu hanya ada satu resep untuk segala masakan. Ya masaklah
dengan cinta, hehehe.

Valentine enggak ada hubungannya dengan cinta. Everyday is
love day. Berbuat baiklah setiap hari, kepada siapa saja, dalam bentuk apa
saja, karena Islam mengajarkan kita untuk itu.

Dan ups, berhenti menulis. Harus kembali belajar kanji. Ya,
sepertinya belajar juga perlu cinta, belajar politik, belajar kanji, semuanya
butuh resep cinta.

Whatever you do, you must love it! Because the power of love
can change everything!